Kamu Pasti Baik-baik Saja
“Aku pergi dulu, ya. Diajak makan sama mereka soalnya.”
“Apa aku boleh ikut? Aku juga lapar.” jawabku sedikit merayu. Aneh sekali rasanya masih bisa berbicara seperti itu padamu yang sudah bukan lagi milikku.
“Tapi aku tidak punya uang kalau harus mentraktirmu. Habis beli buku tadi.” ucapmu dengan nada yang aku tidak tahu artinya apa.
“Hahaha… aku bercanda. Pergilah. Aku masih banyak urusan.” balasku lagi sambil membetulkan lembaran kertas yang sedang kupegang. Kemudian melambaikan tangan saat kau mulai beranjak pergi.
Hari itu, untuk terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Jangankan meminta untuk diajak makan bersama, bahkan setelah hari itu, kita tidak pernah lagi saling sapa. Kemudian sejak hari itu, hanya ada satu hal yang aku yakini tentangmu. Setelah hari itu, aku yakin hidupmu pasti baik-baik saja. Harus baik-baik saja.
