Sampai Sini Mengerti?
“Aku masih bingung,” katamu tiba-tiba, lalu membakar sebatang rokok yang sedari tadi kamu mainkan di sela-sela jarimu.
“Bingung kenapa?” balasku sambil memindahkan posisi dudukku supaya asap rokokmu nanti tidak langsung mengenai wajahku.
“Bagaimana bisa kamu pergi dengannya sedangkan kamu masih bersamaku?”
“Jangan pura-pura gila. Kamu yang melepaskanku. Aku tidak mungkin menjalaninya dengan dua orang yang berbeda di waktu yang bersamaan.”
“Tapi kenapa harus orang itu?”
Ingin sekali rasanya aku memaki-maki dirimu. Masih saja keras kepala bahkan saat sadar bahwa kamu telah melakukan kesalahan. Tapi urung kulakukan saat aku mencoba memahami air wajahmu. Ada cemburu yang amat sangat di sana.
“Tentu saja karena dia menyukaiku. Dia membuatkanku bekal. Dia menjemputku kursus. Dia membelikanku es krim. Dia me…” kalimatku terhenti saat aku sadar ada sepasang mata yang sedang menatapku sinis. Sebisa mungkin aku menahan tawaku. Teruslah seperti ini, aku suka sekali melihatmu cemburu.
“Dia ‘kan mengenalku. Seharusnya dia meminta izinku dulu jika ingin bersamamu. Dia seharusnya merebutmu di hadapanku.” katamu tak terima.
Kali ini tawaku benar-benar pecah. Sungguh, aku tidak tahan lagi melihat wajahmu yang memerah ketika membicarakan laki-laki yang sempat mencuri hatiku saat kita dipisahkan ego.
Kuulurkan tanganku menyentuh wajahmu, lalu kutepuk-tepuk pelan pipimu. Kamu memalingkan pandangan, malu sepertinya.
“Dia tidak berhasil merebutku. Buktinya, aku masih bersamamu di sini. Menikmati asap rokokmu yang sebenarnya tidak aku sukai. Kurang sayang apalagi aku ini. Kamu saja yang tidak pernah mengerti.”
