Ya saya setuju sih ada beberapa logical fallacy yang ditampilkan dalam tulisannya.
Farhan Febrianto
1

Kebudayaan itu bisa diwariskan mas, baik yang riil maupun yang abstrak. Agama sebagai manifestasi dari budaya tentunya juga memiliki sifat yang sama, bisa diwariskan. Nah, kebetulan Afi pada tulisannya menitikberatkan pada agama sebagai warisan orang tua terhadap anak. Padahal, warisan tidak terbatas hanya antara anak dan orang tua; Kita bisa menerima warisan dari orang lain.

Pada saat seorang anak pergi ke sanggar menari tradisional Betawi kemudian dia mempelajari tarian Sirih Kuning misalnya, saat anak tersebut menerima pelajaran mengenai tarian Sirih Kuning, menerima dan mengingat makna dan gerakan tarian tersebut, anak tersebut telah diwariskan tarian Sirih Kuning.

Begitu pula dengan kita yang sedari kecil diajari berbahasa Indonesia dan diajarkan nilai-nilai etiket Indonesia, baik oleh orang tua, oleh guru, oleh orang-orang lainnya, kita pun telah diwariskan bahasa dan nilai-nilai etiket Indonesia.

Secara riil, saya tidak menerima warisan buku Totto-chan karena buku tersebut tidak diberikan oleh siapa-siapa. Namun, secara abstrak, saya diwariskan nilai-nilai Tetsuko Kuroyanagi yang terkandung di dalam buku harian tersebut dengan membaca, menerima, dan mengingat, apa yang Ia tuliskan di dalam buku hariannya. Begitu pula dengan ilmu-ilmu lain yang saya baca; Saya menerima warisan dari tiap-tiap sumber asli dan sumber penghubung yang menyediakan medium untuk saya menerima warisan tersebut.

Terima kasih untuk diskusinya :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.