Buckle Up!



http://www.katv.com/story/16092213/benton-police-out-in-force-this-thanksgiving-holiday-for-seat-belt-scofflaws


“Pah, dipake dong sabuk pengamannya!”
“Ah, engga usah.”
“Iih, kalau nggak mau pake, sini aku aja yang nyetir!”

Orangtua saya susah sekali kalau disuruh pakai sabuk pengaman, terutama ayah saya. Biasanya setelah saya mulai bawel dan rewel sepanjang jalan, barulah ayah saya akan menepi dan menggunakan sabuk pengamannya dengan benar. Saya tidak tahu secara jelas alasan mereka malas menggunakan sabuk pengaman, padahal tinggal tarik, sreet, cklek. Selesai. Apa sih sulitnya memakai sabuk pengaman?

Toh itu untuk keselamatan diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu dunia hiburan Indonesia cukup ramai oleh berita kecelakaan pengacara kondang, Bapak HPH. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia keartisan sih, tapi sejauh yang saya tahu, pengemudi mobil boks yang turut terlibat dalam kecelakaan tersebut meninggal dunia. Menurut keterangan sementara petugas polisi, pengemudi truk meninggal karena terpental dari kursi kemudi sehingga kepalanya membentur aspal. Tentu saja itu hal yang berakibat fatal.

Memang belum ada keterangan lebih lanjut, tapi saya berani berasumsi bahwa pengemudi tersebut tidak memakai sabuk pengaman. Seseorang tidak akan terpental keluar dari mobil jika ada sesuatu yang menahannya, bukan? Kecuali sabuk pengamannya tidak berfungsi sih, tapi itu hal yang sangat sangat jarang terjadi. Seatbelt atau sabuk pengaman telah didesain sedemikian rupa agar tidak mudah terlepas walau terkena guncangan atau tumbukan.

Mengapa sabuk pengaman menjadi begitu penting ketika kita berkendara?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Highway Traffic and Safety Administration (NHTSA), sabuk pengaman menyumbang keselamatan dari 13.000 jiwa pengendara setiap tahunnya di US. NHTSA memperkirakan sekitar 7.000 kefatalan kecelakaan dapat dihindari bila korban menggunakan sabuk pengaman. Berdasarkan laporan NHTSA tersebut, sabuk pengaman mengurangi tingkat kematian pengendara hingga 50%. Catatan: tapi kalau sudah takdirnya meninggal ya apa mau dikata, setidaknya kita sebagai manusia ‘kan harus berusaha dan menjaga diri sebaik-baiknya.

Bagaimana sabuk pengaman mengamankan kita?

Sebenarnya konsep dasar sabuk pengaman cukup sederhana: sabuk tersebut berfungsi menjaga pengendara agar tidak terpental dari kursi mobil atau menabrak kaca ketika mobil berhenti mendadak. Lalu mengapa kita bisa terpental bila kendaraan kita berhenti tiba-tiba?

Jawabannya: karena gaya kelembaman. Ini adalah satu-satunya pelajaran fisika dasar yang masih menempel di kepala saya sampai sekarang.

Menurut Tuan Isaac Newton, gaya kelembaman atau inersia (inertia) adalah kecenderungan suatu benda fisik untuk mempertahankan keadaannya, entah itu ketika diam atau bergerak. Benda, secara alami, akan terus diam atau terus bergerak hingga ada gaya lain yang bekerja terhadapnya dan mengakibatkan benda tersebut berubah kedudukan (untuk diam, bergerak, atau mengubah arah).

Mobil yang kita kendarai dan kita sebagai pengendara juga tidak terlepas dari gaya ini. Mobil yang melaju dengan kecepatan 60 km/jam misalnya, memiliki gaya inersianya sendiri, demikian pula dengan pengemudi dan penumpang mobil tersebut, mereka memiliki gaya inersianya masing-masing. Percepatan mobil membuat penumpang di dalamnya juga mengalami percepatan, jadi hal ini sering dianggap bahwa kita—sebagai penumpang—bergerak bersamaan dengan mobil yang kita tumpangi.


http://www.hk-phy.org/contextual/mechanics/mom/impul05_e.html


Ini tidak salah. Namun ketika mobil berhenti secara tiba-tiba, inersia yang dimiliki oleh mobil dan inersia kita akan sama sekali berbeda! Bayangkan bila mobil kita menabrak tiang atau pembatas jalan, benda tersebut akan mengakibatkan mobil berhenti secara mendadak, namun tidak dengan kita. Gaya inersia yang bekerja pada kita tidak terhenti, kita masih akan terus melaju ke depan dan akhirnya dihentikan oleh sesuatu yang lain yang ada di depan kita.

Logikanya, jika seorang pengemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam, lalu mobil tersebut menabrak tiang, sementara ia tidak memakai sabuk pengaman, maka tubuh pengemudi tersebut akan menabrak stang kemudi atau kaca mobil dengan kecepatan 60 km/jam juga.


http://lawsonmyside.com/about-tampa-auto-accidents/
http://lawsonmyside.com/about-tampa-auto-accidents/

Yang menjadi fatal adalah ketika kita, sebagai pengendara yang tidak menggunakan sabuk pengaman, mengalami tabrakan dan mobil kita berhenti mendadak, tubuh kita akan bertumbukan dengan stang kemudi atau membentur kaca atau terlempar keluar dari mobil. Tumbukan dengan stang kemudi dapat mengakibatkan cedera dada, besar kemungkinan tulang rusuk akan patah atau yang berbahaya adalah bila tulang rusuk yang patah tersebut melukai organ dalam seperti paru-paru atau jantung. Sementara itu bila kita berhenti karena kepala kita menumbuk kaca, kekuatan tumbukan tersebut terkonsentrasi pada bagian paling berbahaya, dan cedera otak bukan hal yang tidak mungkin, karena tentu saja kaca mobil adalah benda yang sangat keras. Kalaupun kita sampai terlempar keluar, berdoalah semoga aspal jalanan seempuk kasur di rumah dan tidak ada kendaraan lain yang siap menghantam kita.

Pada saat terjadi tabrakan tiba-tiba seperti inilah sabuk keamanan akan menunjukkan kehebatannya.

Sabuk pengaman bekerja dengan menyebarkan gaya berhenti mendadak pada bagian tubuh yang lebih kuat menerima tekanan, yaitu pundak, dada, dan panggul, sehingga meminimalisasi cedera yang mungkin muncul. Sabuk pengaman juga terbuat dari bahan yang lentur dan elastis sehingga memungkinan peregangan dan tidak menimbulkan cedera tambahan pada tubuh kita. Elastisitas sabuk pengaman ini tidak besar, hanya mampu membuat pengendara mencondongkan tubuh sedikit. Kalau sabuk pengaman didesain sangat elastis, nanti tidak berfungsi secara maksimal dong saat terjadi tabrakan.

Sabuk pengaman pada mobil memiliki kemampuan untuk memanjang dan menarik, istilahnya extend and retract. Ketika keadaan normal, pengendara masih bisa bergerak ke depan atau ke samping, walau terbatas. Namun ketika terjadi tabrakan, sabuk pengaman akan secara otomatis mengencang dan menahan pengendara tetap di tempat. Hal inilah yang mencegah pengendara terpental ke depan atau bahkan terlempar dari kursi.

Walau begitu, bukan berarti juga sabuk pengaman adalah dewa penyelamat yang selalu bertindak sebagai protagonis. Ketika terjadi kecelakaan hebat atau mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak suatu penghalang dengan kekuatan besar, sabuk pengaman dapat menyebabkan cedera serius. Semakin cepat kita bergerak, semakin besar pula sabuk pengaman melakukan gaya untuk menahan kita. Hal ini dapat mengakibatkan cedera yang cukup parah, terutama pada bagian tubuh tertentu seperti dada, panggul, dan pundak.

Tapi saya rasa, hal tersebut sangat jarang terjadi, yaa kecuali kita keterlaluan melajukan mobil sampai 200 km/jam macam pembalap. Toh beberapa sabuk pengaman telah menerapkan sistem load limiters untuk meminimalisasi cedera karena sabuk pengaman pada kecelakaan hebat.

Menurut saya, seberapa hebat kecelakaan yang terjadi, atau seberapa parah luka-luka yang ditanggung oleh pengemudi dan penumpangnya, hal tersebut tidak terlepas dari kesadaran diri pengendara mobil. Perusahaan otomotif dan para ahli telah merancang kendaraan dan perlengkapannya seaman mungkin, tinggal bagaimana kita sebagai pengendara bersikap bijak dan cerdas dalam memanfaatkannya.

Memakai sabuk pengaman bukan tentang bagaimana agar kita tidak disemprit polisi, bukan tentang bagaimana menghindari denda, tapi tentang bagaimana kita bersikap benar agar tidak membahayakan diri kita dan orang lain.

Mulailah jadi pengendara yang baik.

Buckle up!


Bahan tulisan diperoleh dari artikel:
http://news.detik.com/read/2014/10/05/130726/2710018/10/1/jasad-sopir-truk-yang-pecah-ban-sudah-dibawa-keluarga
How Seatbelt Works
Inertia (Wikipedia)