Kisah Tanah Jawa: Merapi

Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu kalau Kisah Tanah Jawa mulai membuat webseries di aplikasi streaming film, Iflix. Merapi adalah cerita pertama yang diangkat KTJ sebagai web series. Terdiri dari 6 episode, Merapi memberikan banyak moral value kepada para penonton.
Merapi bercerita mengenai adat, budaya, dan kisah mistis — yang tidak bisa kita sangkal — mengenai Merapi, gunung teraktif di Indonesia. Diawali dengan hilangnya salah seorang pendaki di Merapi bernama Rio. Episode pertama sudah memberikan clue bagaimana Rio bisa hilang dan kaitannya dengan penunggu tak kasat mata Merapi. Andi, sebagai sahabat sekaligus saudara dari Rio bersama dengan temannya, Bobon, mendapatkan amanat dari ibunda Rio untuk kembali ke Merapi dan mencari keberadaan anaknya yang diyakini masih hidup.
Mulailah pendakian mereka berdua bersama orang-orang yang baru mereka kenal, Nadia, Dika, Citra. Meskipun pendakian Merapi sedang ditutup, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan menyusuri hutan larangan. Kejadian demi kejadian aneh dan ganjil menghampiri mereka. Semakin mereka berjalan naik, semakin banyak gangguan yang mereka dapat dari makhluk-makhluk penunggu Merapi.
Series ini memberikan banyak pelajaran kepada masyarakat, kepada orang-orang yang skeptis terhadap sesuatu hal, orang-prang yang tak percaya bahwa ‘mereka yang tak terlihat’ itu ada. Orang-orang yang baru datang ke wilayah yang dikunjunginya, harus menghormati adat istiadat, budaya dan kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat setempat agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk karena gegabah. Lagi, mendaki gunung bukan hanya asal mendaki, bukan hanya menikmati alam yang ada di gunung. Kode etik petualangan harus benar-benar diterapkan:
- Take nothing but picture (jangan mengambil apapun kecuali gambar)
- Leave nothing but footprints (jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki)
- Kill nothing but time (jangan ‘membunuh’ apapun kecuali waktu)
Sebenarnya ada satu lagi peraturan “tidak tertulis” yang harus kita terapkan yaitu, jangan berkata sesuatu yang buruk, apapun itu. Meremehkan sesuatu, mengumpat, dan mengeluh. Konon katanya, ketika seorang pendaki mengeluh tentang sesuatu seperti “Aduh, capek banget” atau “Aduh jauh banget sih” akan menjadi kenyataan. Mereka yang mengeluh lelah akan merasa sangat lelah, mereka yang mengeluh jauh perjalanan terasa sangat jauh. Jadi, ketika kalian mengunjungi suatu tempat baru, yang belum pernah kalian kunjungi sebelumnya, sebaiknya jaga sikap dan jaga mulut. Berbicaralah sesuatu yang baik, tidak mengundang “perkara”, dan lebih baik diam ketika tidak ada hal baik untuk dibicarakan.
