unspoken september
Aku meneguk kopiku dan kebingungan ingin memulai tulisanku dari mana. Percuma, dari manapun, kutahu tulisanku tidak akan kemana-mana. Kebahagiaan ada untuk dirayakan, sementara kesedihan, dendam, dan harapan yang hanya angan lari memeluk tubuh puisi para penyair. Kata mereka, biar abadi. Meski sebenarnya, mungkin, ia hanya tak mau mengakui, tidak ada tempat yang lebih mewah dari puisi untuk menyembunyikan kepecundangan.
Aku ingin menulismu dengan nama lain, lebih banyak, lebih sesak, lebih sedih, lebih perih, walau tidak bisa lebih memelukmu dari puisi Aan Mansyur atau Sapardi Djoko Darmono. Untuk menebus dosaku, ketika aku tinggal sisa-sisa tulang yang hanya diterima oleh tanah, biarlah peradaban membaca tulisan ini sebagai bukti kepengecutanku, yang memilih bungkam dan berakhir di tulisan yang semoga kau baca ini.
Tukang parkir bisu di teras kantorku menghampiri dan menawariku rokok. Aku terima dan mengucapkan terima kasih dengan bahasa isyarat. Aku berpikir sedihnya menjadi dia, tak bisa mengatakan cinta pada gadis yang ia sukai. Ia juga beruntung, sebab dapat berbicara kadang menjadi pisau bagi orang lain dan diri sendiri.
Aku bisa bicara, dan entah harus bersyukur atau tidak. Mulutku terkadang serupa wakil rakyat, lantang berbicara dan tak mau mendengarkan kata-kata lain.
Aku membayangkan kau membaca tulisan ini dan kau sedang membayangkan bagaimana perasaanku ketika menulis tiap kata yang ada. Yang harus kau tahu, kekasih, kata-kata tidak pernah cukup. Ia hanya satu kepingan cermin raksasa yang pecah, dan kau bercermin melihat siapa sosok yang sedang aku maksud dalam tulisan ini.
Di bait ini aku kembali berpikir, buat apa kutulis panjang lebar kesedihanku jika aku tau kau hanya suka membaca sesekali? Begitupula dalam hal mencintaiku.
Manusia memang hitung-hitungan. Mereka selalu takut merugi, padahal sempat dilahirkan adalah sebuah keberuntungan. Aku juga manusia, selalu tak pernah rela melihatmu berpasangan dengan laki-laki yang bukan aku. Padahal bisa mencintaimu saja adalah suatu keberuntungan.
Aku akan merasa lebih beruntung lagi, jika suatu saat kau sadar waktu ialah hal yang mustahil untuk dikembalikan, kudapati kau tengah membaca tulisan ini dan merasa merugi.
