Jel
Jel
Aug 24, 2017 · 1 min read

-1

kuhabiskan kamu dalam setiap sudut ingatanku; bahkan kenangan yang dititip dalam ponselku-pun..
ya, Tuan.. kuteguk semua pahitnya. kuterima permintaanmu untukku pergi. bagaimana tidak? bukankah aku salah satu sumber kebencianmu pada dunia?

aku pernah berjuang melupakanmu. mencoba tak acuh pada setiap jerit rindu yang memekakkan. seolah mereka mahluk astral dan aku adalah manusia indigo yang pura pura normal. berusaha tak perduli.

aku tidak sedang merasa sakit, namun aku menderita.setiap goresan imaji tentangmu kemudian menghisapku menarikku ke dalam lubang hitam tanpa pijakan; tidak juga pegangan.

aku hanya kemudian tersenyum
dadaku menghangat yang merambat naik ke wajah. tapi tetap saja tidak ada yang tumpah. Tuan, bagaimana caranya menangis? sepertinya aku lupa caranya menangis..

dalam penasaran aku selalu bartanya, 
apakah dia mengalami kegilaan sama? cukup terpaut eratkah jalinan perasaan namun sepertinya tidak. hatinya kini sudah penuh dengan benci. layaknya aku adalah anjing rabies yang di tendang oleh pemilik rumah.

minta maaf? percuma..
dia bukan manusia yang gampang memaafkan. biarkan dia membenciku dan mencaciku sampai puas; mungkin itu yang terbaik baginya. kedatanganku hanya menyusahkan. dicintaiku hanya memalukan. dan bersamaku adalah kesalahan. pergilah..
aku tak pantas untukmu..

)
    Jel

    Written by

    Jel

    Dragon without fly.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade