Tigapuluhtiga

Aku masih tiada henti mendengarkan lagu dari John Mayer. Kali ini yang teringat malah kejadian yang hampir saja kulupakan.

Hujan mengguyur kota Jember sejak sore. Kita hanya memesan menu andalanmu, nasi bebek- untuk makan malam.

Aku merengek padamu untuk mencari kehangatan diluar setelah hujan reda; dan itu hampir tengah malam. kita mengelilingi jalanan sepi dengan sepeda motor maticmu.

Tuan.. sejujurnya, aku ini buta arah. Aku butuh waktu empat tahun untuk menghapal jalanan di Surabaya. Dan saat kau menjelaskan rute yang biasa kau lewati, aku hanya mengiyakan dan memasang tampang sok paham.

Akhirnya, kita mampir disebuah warung bakso yang cukup terlihat tidak meyakinkan. Kau berkata, “yaah..mending ini lah jel..timbang kamu mato kelaperan di hotel.” Ditemani kamu, beberapa bapak bapak yang asyik bermain catur, dan musik dangdut yang lumayan kencang; aku menghabiskan bakso dari mangkokku.

Setelah itu kita sempat berhenti di… entahlah.. aku tidak ingat itu alfamart atau indomaret- untuk membeli minum dan sebungkus rokok untukmu.

Tuan.. aku masih tidak paham. Dicuaca sedingin itu, kamu bisa bisa nya menyedot rokok dengan sensasi ice? Apa enaknya?

Dan Tuan.. apa kamu masih merokok dari kotak yang sama sampai saat ini?

Like what you read? Give Jel a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.