Nikmat lain

Dulu, aku adalah gadis yang mendamba tidur. Juga hujan, aku suka

Terbaring berselimutkan dinginnya malam dan suara nyanyian hujan

Nikmat, kataku, dulu.

Aku senang kala matahari mulai terbenam, pertanda malam akan tiba. Pertanda rehat akan jumpa.

Lalu teringat kalimat yang tidak pernah bosan diulang oleh Tuhan semesta alam dalam surat cintanya yang bernama Ar-Rahman. Begini katanya, “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Dan aku bersyukur, lagi.


Pukul tiga lebih empat puluh lima menit dini hari

Angin dingin; nyanyian air mengalir; tubuh letih yang terbaring berselimut kain

Aku masih terlelap dengan mimpi-mimpi yang tidak kalah hebat

Tapi suara lirih dari luar berhasil masuk ke dalam mimpiku yang semakin menjalar

Suara yang melepaskanku dari nikmat yang selama ini aku damba dengan amat

Suara itu pelan, pelan, dan berhasil membuka mataku yang terpejam. “Ah!”, aku mengeluh.

Aku terpaksa bergegas ke kamar kecil yang sebenarnya tidak kecil demi mengusir nikmat tidur di sepertiga malam

Dengan keadaan seperempat sadar, aku keluar membawa segala keperluan.

Aku berjalan tergopoh-gopoh mendengar imam yang berkumandang. Di surau kami.

Segera kakiku merapat dengan shaf terdekat. Mencoba khidmat menyimak setiap lantunan ayat yang masih asing di kupingku.

Seketika kantukku hilang, nikmat yang baru datang.

“Romantis!”, seruku dalam hati.

Aku berada dalam kejadian manis pagi itu.

Seorang imam sedang masyuk melantunkan setiap ayat tetapi terhenti seketika karena lupa. Aku pun diam, karena tidak paham. Tapi aku mendengar suara bisikan lanjutan ayat yang tadi terpenggal demi mengingatkan imam kami. Aku kagum. Ayat-ayat itu belum lazim di telingaku. Ayat-ayat yang panjang dan mereka hafal.

aku, orang yang tidak pernah merasakan itu terkejut sekaligus terpesona dengan kejadian itu.

“Romantis!”, kataku lagi. Tentunya masih di dalam hati.


Kepada pagi yang berarti bagi kami dan kepada matahari pagi yang masih bersembunyi: Terima kasih telah memberiku kesempatan memahami dan merasakan nikmat lain selain tidur nyenyak di sepertiga malam. Romantis dan manis.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.