Sayap

Sumber gambar : fineartamerica.com

Ksatria, kau tahu? Sekarang aku punya sayap. Hadiah dari bapak penjual angkringan di depan KSPH (maaf, aku lupa namanya) karena aku jadi pelanggan tetap pisang gorengnya selama seminggu. Setelah itu aku tidak pernah kesana lagi. Aku tidak tahu bapak itu masih jualan pisang goreng disana atau tidak. Kapan-kapan kau kan kuajak kesana. Nanti kau akan diceritakan perjuangan si bapak ketika merantau di Jakarta, sampai akhirnya si bapak kembali ke kota batik.

Ksatria, jangan bilang siapa-siapa kalau sekarang aku punya sayap. Aku tidak mengatakannya pada semua orang. Tolong jangan anggap aku sombong, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui ini. Aku memberitahumu karena aku ingin berbagi denganmu.

Ksatria, ingatkah kau tentang ladang di bukit-bukit hijau yang pernah kuceritakan itu? Tentang rumah-rumah bernuansa coklat yang terbuat dari batu dengan perapian yang menghangatkan jika musim dingin datang itu? Tentang daun-daun maple yang terhampar di sepanjang jalanan yang sepi ketika musim gugur? Tentang bagaimana dengan mudahnya kau akan temui warganya sedang mengembala domba di bukit ketika musim semi? Ingatkah, Ksatria? Aku akan mengajakmu kesana. Dan ke tempat-tempat lain yang pernah kuceritakan. Setelah itu kita bisa pergi ke tempat yang kau ceritakan itu. Atau kemanapun.

Ksatria, ketahuilah, aku ingin membagi kebahagiaan ini bersamamu. Tidak sedetikpun kuingin kau tidak menjadi bagian di dalamnya. Kau tidak perlu melakukan hal yang sama padaku, karena kuharap kebahagiaan ini cukup untuk kita berdua.

Ksatria, aku tahu, kebahagiaan ini tidak akan bertahan selamanya. Maka suatu hari nanti ketika sayap ini membawaku terbang jauh darimu, kumohon, jangan benci aku. Kenanglah waktu yang pernah kita bunuh bersama. Karena jika hari itu benar-benar terjadi, aku lebih memilih tidak pernah memiliki sayap seumur hidup.

Peganglah tanganku. Aku tidak ingin terbang terlalu jauh darimu.