Berdamai Dengan Masa Lalu

Siapa yang tidak memiliki masa lalu? Semua orang pasti memilikinya, entah itu kebahagiaan, suka, duka, menyakitkan, menindasatau ditindas, sedih, pilu, haru, apapun itu, berdamailah!

Berdamai bukan hanya pada hal yang negatif, duka, sedih, marah, dendam tapi juga pada hal positif seperti kebahagiaan, suka, cinta, haru dan sebagainya. berdamailah secara penuh dan menyeluruh.

Kenapa memilih berdamai dengan masa lalu? hmm…. kenapa tidak?
Memang manusia bisa memilih untuk berdamai dengan masa lalu, sebagian manusia merasa “kuat” dengan tetap menyimpan dendam, membenci pengalaman yang dilaluinya yang terjadi di masa lalu, dan menolak untuk berdamai dengannya. Nyatanya, “kuat”nya itu hanya akan mengurung dan menyayat hati lebih dalam, yang berujung pada proses belajar untuk menolak mencintai diri sendiri, yang akhirnya tak tahu seberapa berharganya nilai diri. sekalinya bermusuhan terus dengan masa lalu, maka kemungkinan besar belum siap untuk fokus pada masa datang.

In order to love who you are, you cannot hate the experiences that shaped you” — Andrea Dykstra

Cintailah Masa Lalu, bukan dengan perbuatan masa lalu. Ketika bencana sunami Aceh, siapa yang bahagia akan sunami, hilangnya keluarga dan kerabat, kesusahan hidup pasca bencana? Bahkan bagi beberapa saudara di Palestina sana, siapa yang mencintai perbuatan dzalim? Tidak, bukan mencintai dan berdamai dengan perbuatan di masa lalu, tapi berdamai dengan masa lalu itu sendiri. Dengan adanya masa lalu, seseorang dapat menjadi dirinya saat ini. bukankah ingin mencintai diri sendiri? mencintai diri yang sekarang? maka cintailah masa lalu sebagai proses sehingga menjadi diri yang sekarang.

“akan lebih mudah berdamai dengan masa lalu yang positif, suka, haru dan bahagia daripada masalalu sedih, benci, duka dan hal negatif lainnya”. Katanya!! Kita tidak tahu, diluar sana banyak yang mampu berdamai dengan masa lalu sedih, move on dan bangkit dari duka dan sedih, namun sulit berdamai dengan kebahagiaan, suka dll. Berdamai dengan masa lalu yang negatif mungkin akan terasa sakit, namun berdamai dengan masa lalu yang positif akan menggrogoti diri meskipun tidak sakit, yang akhirnya tertutup dan mengerasnya hati.

Sebagai contoh, seseorang yang tidak berdamai dengan kebahagiaan saat bisnisnya sukses, tidak menerima kesuksesan masa lalunya, merasa kurang sehingga dia akan mencari kebahagiaan itu terus menerus. kalau bahasa saya, budak kebahagiaan. Menjalani hidup tanpa berdamai dengan kebahagiaan memang enak, merasa bahagia terus dan ambisi yang membakar semangat tiap hidup. Namun tak jarang yang hatinya tak lagi peka, tak lagi lembut karena dibumbui dengan kebahagiaan yang terus menerus. kalau bahasanya, ujian berupa kenikmatan.

Maka berdamai dengan kebahagiaan bagi saya adalah mendapatkan keberkahan dari kebahagiaan itu, memberi manfaat dari kebahagiaan tersebut. Itulah damai dengan masa lalu bahagia, bagi saya.

Dapatkah kalian lihat bahwa berdamai itu tidak memandang suka atau duka, sedih atau bahagia, susah atau senang? Berdamailah dengan semuanya dan hiduplah diwaktu saat ini. Jalani sakit dan capek dalam memaafkan dan berdamai demi diri sendiri.

(-continued)

    Fuji Fahrizki Tadeo

    Written by

    Sebuah Portal pembuka sudut pandang tentang hidup | @fuji_tadeo | Duri-JKT-BDG | ENFP | AFGP 16 | Sia26 | eSTe 9 | Electrical Power Engineering ITB 2012