Membiarkan Jari-jari Menari

“Acara gosip infotainment di TV menggosipkan artis terang-terangan, Pak. Apakah itu termasuk Ghibah?” tanya seorang teman ketika sekolah dasar.

Saya bersekolah di sebuah sekolah Islam sederhana di bilangan Bekasi Barat. Kelas yang diisi 40 anak tersebut tidak ber-AC, kursinya pun kayu. Kala itu kami sedang membahas tentang Ghibah.

Sayangnya, ingatan saya yang terbatas ini tidak menyimpan bagaimana persisnya jawaban pak guru untuk pertanyaan teman saya saat itu.

Beliau tidak membenarkan infotainment sebagai acara yang baik, walau tujuannya adalah hiburan.

“Sekali berghibah,” kata beliau, “maka tabungan pahala orang yang menggunjing akan ditukar dengan tumpukan dosa orang yang dibicarakan.”

Dijelaskan pula pada suatu ayat yang menyebutkan bahwa orang yang berghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Siapa pula yang mau makan bangkai? Yikes.

Source: pinterest
“Lantas, mengapa orang dewasa melakukan hal yang tidak baik hanya untuk mendapatkan kesenangan? Bukankah ada hal lain yang lebih menyenangkan dibandingkan sekedar bergosip?” gumam saya kecil di dalam hati.

========================================

Fast forward 15 tahun kemudian. Ada suatu fenomena baru bernama media sosial yang tidak kami bahas di kelas dulu.

Di media sosial, entah mengapa orang-orang sering mempergunjingkan satu sama lain. Mungkin bisa dibilang, acara infotainment yang dulu di TV hari ini pindah ke situs media sosial.

Bedanya, kini tak ada narasi yang disusun produser. Tidak ada pembawa acara yang membatasi pergunjingan ‘wajar’ di depan umum. Pembatas-pembatas itu runtuh karena sekarang semua orang ikut tampil di dalam studio.

Tanpa bertatap muka, manusia lebih berani bicara.

Ia tidak perlu memproses raut wajah dan tatapan mata lawan bicaranya. Karena toh, yang dilihat hanyalah layar yang menyala.

Ia tak malu mengeluarkan kata-kata yang tak elok didengar. Karena toh, hanya jari-jari yang akan menari menekan tombol.

Jarak menghapuskan unsur-unsur komunikasi yang esensial. Menjadikan pengguna media sosial lebih mirip predator dibandingkan manusia.

Saya membayangkan bangkai si pemilik akun dikeroyok oleh banyak komentator-komentator buas yang dengan ganas memangsa karena lapar. Makan bangkai ramai-ramai? Yikes.

Kini saya yang telah dewasa bertanya pada diri saya sendiri:
“Bukankah ada hal lain yang lebih menyenangkan, dibandingkan meributkan hal-hal tidak penting di media sosial?”

Semoga amal dan ibadah yang kita jalani seumur hidup ini tidak lantas sia-sia, hanya karena larut bersembunyi di balik layar dan membiarkan jari-jari lentik menari dengan lincahnya.