Gabriella Valerie
Sep 5, 2018 · 3 min read

Untitled.

“Lo percaya nggak sama manusia dalam ngga pernah jatuh cinta?” Tanya gue sambil mengaduk minuman dingin didepan gue. Gue pengin tahu aja sih, apa bener di dalam hidup seorang manusia ditakdirkan nggak bisa jatuh cinta? Atau cuma khayalan gue aja?

“Ya mana bisa sih, orang selama di hidupnya pasti ngerasain jatuh cinta. Baik cintanya cuma dipendem atau diungkapkan. Lagi aneh banget, orang sama sekali nggak pernah jatuh cinta dalam hidupnya?” Jawab dia sambil menggelengkan kepalanya. Sesekali ia menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara.

“Ya.. siapa tau aja, ada yang ga pernah jatuh cinta dalam hidupnya.”

“Ya mungkin, kalau dia ngerasa capek sama kehidupan cintanya yang selalu ditolak. Kenapa emangnya? Kok lo tiba-tiba nanya gini?” Tanyanya. Gue diam, menatap dia didepan gue lalu melirik ke arah jendela. Sebenernya, gue menanyakan hal ini dengan alasan… gue lagi jatuh cinta dan nggak bisa mengungkapkannya langsung. Nggak nyambung ya sama pertanyaan gue ke cowok didepan gue ini? Ya emang, gue sengaja menanyakan perihal hal ini ke dia. Ingin tahu jawabannya.

“Kalau gitu, mungkin nggak, selama hidupnya nggak pernah jatuh cinta pada akhirnya ngerasain jatuh cinta?” Tanya gue sambil menatap intens ke arah dia.

“Yes, semua hal di dunia ini mungkin. Termasuk jatuh cinta. Jatuh cinta itu nggak salah kok, cuma aja kadang orang nggak bisa mengartikannya denga benar. Ada yang jatuh cinta yang seneng bisa ngeliatin dia dari jauh, ada juga yang jatuh cinta langsung ngedeketin yang dia suka.”

Gue menatap dia secara seksama, dia adalah salah satu cowok yang selama ini gue taksir. Ya, dia yang daritadi gue maksud. Dia adalah teman sekaligus cowok yang gue taksir selama ini. Gue mengenal dia sudah bertahun-tahun, gue pun mengetahui kebiasaan dia bahkan kebiasaan jelek diapun gue tau. Gue jatuh cinta dimulai dari gue ngerasa rasa nyaman gue ke dia lagi bukanlah nyaman karena teman. Nyaman karena gue bisa deket sama dia, nyaman jikalau ingin berbicara hal hal yang dari nggak penting sampai penting. Bahkan, gue selalu ingin didekatnya dan butuh dia. Kadang gue minta ditemenin dia untuk hal-hal sepele. Kayak, minta temenin dia beli kertas A4 di fotokopian deket ruma dia, minta temenin dia ke warung makan ataupun menemani gue dirumah, itupun nemenin gue masak atau berberes rumah. Hal sekecil itu membuat gue bahagia dekat-dekat dia. Tapi, guepun nggak pernah tahu dia suka sama gue atau enggak.

“Kenapa lo nanya gitu, lo lagi naksir siapa?” Tanyanya, membuyarkan gue.

“Enggak, cuma penasaran aja.” Jawab gue singkat.

Awal pertemuan gue dan dia juga bukanlah hal yang kayak di film film. Gue ketemu sama dia di tempat fotokopian langganan gue, gue yang pada saat itu sedang memfotokopi buku gue dengan berpuluh-puluh lembar, sedangkan dia yang sedang marah-marah sama mas mas yang di fotokopian.

“Lah, mas biasanya gue langganan disini juga! Masa fotokopi gini aja salah sih?!” Tanyanya dengan nada kesal. Gue melirik kesebelah gue dan menatap dia.

“Yah mas, emang yang mau fotokopi cuma situ aja? Kan yang mau banyak!”

“Yaudah saya nggak mau fotokopi disini lagi!” Lucunya, gue beneran ketawa denger dia ngomong gitu. Ngambek sama mas mas fotokopian. Dari situ, gue mulai sering ketemu dia. Dan pada akhirnya dia berani menyapa gue disaat gue lagi mencari buku diperpus. Setelah itu, gue mendeklarasikan diri gue sebagai teman dekat dia.

Tapi selama hidup gue berteman sama dia, gue nggak pernah tahu perasaan dia ke gue gimana. Dia nggak pernah nanya perasaan gue berteman sama dia itu seneng apa enggak. Atau menanyakan hal hal tentang gue. Peduli? Tentu, dia selalu peduli sama gue. Dia tahu selama hidup 23 tahun, gue ngga pernah jatuh cinta. Ngga pernah merasakan jantung gue berdetak kencang karena seseorang.

Dan pada akhirnya, gue bisa merasakan jatuh cinta. Dengan dia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade