Teknik Fisika: Berdiri dan Membangun Jati Diri

Gabriel P. Dosiraja
Sep 2, 2018 · 2 min read

Program Studi Teknik Fisika telah berdiri selama hampir 7 dekade atau tepatnya 68 tahun. Di bawah naungan Fakulteit Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung), Program Studi Teknik Fisika pada saat itu masih bernama Natuurkundig Ingenieur Afdeling dan dikelola oleh Prof. Dr. Ir. A. Nawijn. Ide pendiriannya dibawa oleh orang Belanda, karena Belanda menginginkan jurusan yang sama di Indonesia dengan yang ada di negeri Belanda. Pada tahun 1953, sebagian besar dosen-dosen dari Belanda kembali ke negeri Belanda, sehingga saat itu dosen yang tertinggal hanya Prof. Ir. M. U. Adhiwijogo. Pada tahun 1954 sampai 1955, Jurusan Fisika Teknik tidak membuka penerimaan mahasiswa baru, dan dibuka kembali pada tahun 1956. Ir. Sumantri menjadi lulusan pertama dari Jurusan Fisika Teknik sekitar tahun 1955 atau 1956. Jurusan tersebut kemudian diberi nama Bagian Fisika Teknik yang bernaung di bawah Departemen Fisika/Fisika Teknik dan diketuai oleh Prof. Ir. M. U. Adhiwijogo pada 59 tahun silam.

Dalam awal perjalanannya, Fisika Teknik ITB pernah mengalami transisi sistem perkuliahan ala Belanda dengan sistem perkuliahan ala Amerika Serikat. Sistem perkuliahan ala Belanda yang menganut pola free study, di mana mahasiswa dibebaskan untuk menentukan apakah dia mau mengikuti perkuliahan atau tidak tetapi kelulusan ditentukan oleh hasil akhir ujian, yang menyebabkan banyak mahasiswa tidak lulus ujian dan menjadikan mereka sebagai “Mahasiswa Abadi”. Setelah diresmikannya kerja sama antara Amerika Serikat dengan Indonesia yang dinamakan Kentuky Contract Team, diterapkanlah sistem perkuliahan ala Amerika yakni guided study dan students load yang lebih terarah dan terstruktur. Sistem perkuliahan itu kita kenal sekarang sebagai sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Transisi kepengurusan dari Belanda ke Amerika Serikat juga sempat membuat Fisika Teknik ITB terancam bubar, namun hal itu akhirnya tidak terjadi.

Visi dari Teknik Fisika yakni adalah “Kunci Palsu”, dikenalkan oleh Prof. Adhiwijogo, yang bermakna bahwa insinyur Teknik Fisika harus mampu untuk menguasai berbagai bidang keilmuan yang ada. Keahlian yang ada di Teknik Fisika tidak hanya instrumentasi, melainkan juga ada optika, ilmu material, hingga fisika bangunan. Dengan landasan ilmu kerekayasaan dan fisika yang kuat serta penguasaan bidang keilmuan yang luas, insinyur Teknik Fisika sudah seharusnya menjadi seorang frontier engineer, yang menempati baris terdepan dalam engineering, menjadi insinyur yang berkembang mengikuti zaman dan tak pudar dimakan waktu. Mengutip apa yang dikatakan oleh Prof. Harijadi P. Soepangkat, “Mereka (Insinyur Teknik Fisika) tahu segala sesuatu, all round, but not doing expertise. Menurut saya, seharusnya berada di garis depan, in the fore front of engineering.”


Referensi:
Suyatman et al. (2004). Engineering Physics antara ‘Fisika Teknik’ dan ‘Teknik Fisika’. Bandung: Departemen Teknik Fisika ITB.

(Disadur dari tiga artikel dalam buku di atas yakni “’Jembatan’ antara Ilmu Fisika dan Engineering”, “Mestinya di Forefront of Engineering”, dan “Fisika Teknik sebagai Karya Anak Bangsa”)