Terhubung di Tempat-tempat Persembunyian

SAYA dan Juli Hantoro ada di generasi berbeda. Usianya 42 tahun. Saya dua puluh tujuh. Tapi saat sesak oleh tekanan tenggat atau kebosanan berada di ruangan tertutup, kami mencari oksigen di udara yang sama: lagu-lagu Payung Teduh.

Waktu itu, dua tahun lalu, kantor kami masih di ruko Velbak. Dia ada di ruangan desk metropolitan, saya di olahraga. Ruangan kami dibatasi celah tak berpintu. Saya bisa mendengar lagu-lagu Payung Teduh yang ia putar — mungkin karena ada celah itu.

Awalnya, ketika di kantor, saya mendengarkan Payung Teduh melalui earphone. Tapi begitu saya mendengar lagu-lagu yang berasal dari speaker di ruangan sebelah, saya berhenti memakai earphone dan ikut saja mendengarkan suara dari speaker itu.

Bagi orang-orang yang sumpek karena begitu cepatnya segala sesuatu bergerak, begitu lantangnya impian-impian produktivitas tanpa batas, berisiknya idealisme tentang kesenangan, dan derasnya arus kata-kata yang klise, lagu-lagu Payung Teduh menyediakan tempat beristirahat, sebuah tempat yang lain.

Bunyi-bunyian alat musik akustik yang biasa ada di lagu keroncong — kentrung, bas betot, dipadukan dengan petikan gitar nilon Is (Muhammad Istiqamah Djamad), lalu diberi warna minor dan chord-chord jazz — itu saja sudah memberi efek sedatif. Belum lagi rangkaian kata-kata yang puitis yang nggak klise, beberapa di antaranya merayakan kesedihan, kegelisahan, dan kehilangan. Serasa menemukan taman teduh yang sejuk di tengah lantangnya kekisruhan Jakarta.

Inilah salah satu hal yang saya sukai dari seni: terciptanya hubungan-hubungan— ketika orang-orang menemukan tempat berteduh yang sama, baik antar penyuka karya, maupun antara si pembuat karya dan penggemarnya.

“Saya percaya, semua seni — film, sastra, musik…dalam seni apapun, yang ingin mereka lakukan adalah menciptakan koneksi, membagi pandangan mereka soal dunia kepada sekelompok audiens,” kata Tom Hiddleton, seorang aktor.

Bukan hanya wawasan soal dunia. Lebih lagi: pergulatan-pergulatan batin yang membutuhkan ruang, kisah-kisah yang membutuhkan kanvas untuk dilukiskan.

Sepanjang pengalaman saya, biasanya kita akan menjadi fans seorang seniman ketika menemukan representasi sebagian diri kita (atau kisah kita) dalam sebuah karya seni yang dia bikin.

Betapa indahnya ketika kita menemukan orang-orang yang juga merasakan hal yang sama. Kita merasa tidak sendirian. Kita ada di bawah pohon yang sama.

Dan, siapa yang bisa mengganggu kalau kita sudah ada di bawah pohon yang nyaman dengan orang-orang yang juga mengalami pergulatan batin yang sama dengan kita? Siapa yang bisa ngerecokin keterikatan menemukan tempat beristirahat yang sama?

Sekalipun ada orang yang beteriak-teriak di lapangan, menghina-hina kami dan pohon yang kami gunakan berteduh, peduli amat. Dia enggak bisa merasakan apa yang kami rasakan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.