Menjadi Mentor: Sepriyadi #1

12 November 2016

“Vita non est vivere sed valere vita est”

Inhale.. Exhale..

Sambil saya mengatur napas, saya berusaha menguntai sinaps demi sinaps yang ada di kepala saya agar bisa hadir dan menjadi dalam ke-sekarang-an. Meditasi telah jadi sebuah ritual pagi yang sudah saya lakukan sejak 2 tahun lalu, agar saya bisa mendapatkan kesendirian yang sepi sebelum saya keluar ke dunia luar yang sangat riuh.

Tapi sejak 3 bulan lalu, saya jarang mendapat kesepian yang saya idamkan dari ritual pagi ini. Semenjak saya numpang tinggal di RMHR, ritual pagi saya pasti terinterupsi oleh suara mondar-mandir orang atau bau rokok yang menjadi ritual pagi penghuni lain di rumah ini. Dalam keadaan terbaiknya, rumah ini sangat hangat dengan keriuahannya. Tapi semua keriuhan ini perlu di netralisir dengan sebuah keheningan pagi. “Setidaknya, biarkan saya punya waktu sendiri di pagi hari!”, keluh saya dalam hati.

Inhale.. exhale..

Suatu pagi, ditengah sebuah helaan napas, seseorang menginterupsi dengan suara sedikit bergetar. Suara bergetar ini sesungguhnya terdengar tak cukup berani untuk menginterupsi, tapi tampaknya ia punya dorongan gigantik dari dalam dirinya sehingga memberanikannya untuk akhirnya menyapa. Biasanya interupsi macam ini bikin saya bete, tapi kali ini engga.

“Teh…. teh Gadis lagi sibuk ga?”

Suara bergetar itu keluar dari mulut Sepriyadi. Seorang lelaki paruh baya, kurus kering, tingginya mungkin lebih dari 170cm, berkulit sawo matang. Ia adalah salah seorang anak jalanan yang menjadi penghuni di RMHR sejak lama. Mungkin umurnya lebih tua dari saya, tapi saya tak pernah berani menanyakan langsung. Takut menyinggung. Supaya sopan, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Aa Sepri.

Sepriyadi

Tentu, dengan asas kesopanan juga, saya menghentikan ritual meditasi saya dan menyambut sapaan A Sepri. Tapi ini bukan cuman balasan sapa yang normatif dari dorongan Fe* dominan saya, sesungguhnya asas penasaran juga telah mendorong saya untuk menanyakan keperluannya. Ada urgensi sebesar apa, sampai-sampai A Sepri berani menginterupsi ritual pagi saya dan memaksakan suara bergetar itu untuk menyapa?

“Ada yang bisa Gadis bantu, A Sepri?”, tanya saya lembut.

“Umm.. Jadi gini, Teh…
Teh Gadis teh kan kerjaannya jadi guru kan ya?
Gini, Teh.. Sepri teh wawasannya sempit banget. Sepri teh dulu cuman sekolah sampe kelas 3 SD, abis itu gak bisa ngelanjutin lagi. Tapi dari dulu Sepri teh pengen banget punya wawasan luas kayak yang lain, kayak yang sekolah. Pengen banget jadi pinter kayak yang lain.
Boleh gak.. kalau… teh Gadis ngajarin Sepri?
Ngajarin apa aja, terserah Teteh. Sepri mau kok diajarin apa aja! Yang penting, Sepri bisa pinter juga kayak yang seko!

Mendengar cerita singkat ini, gimana saya gak luluh?!

Interupsi ini sama sekali tidak mengganggu ritual saya. Malah, interupsi ini seakan memperkaya meditasi saya. Sinaps berantakan yang sedari tadi coba saya aktivasi, tiba-tiba langsung bangun dan berjajar rapih. Usaha saya untuk terkoneksi dengan semesta seakan langsung tinggi sinyalnya karena saya bisa terhubung dengan A Sepri, lewat sebuah interupsi halus dari suara yang bergetar.

Dengan semangat, saya langsung bilang,

“A Sepri, makasih ya udah dateng dan minta hal ini. Gadis janji, Gadis bakal kasih tau semua hal yang Gadis tau ke A Sepri!”

Obrolannya beneran sesingkat itu. Tanpa introduksi bertele-tele, dan tanpa akhiran yang kompleks. Pagi itu, saya mengakhiri ritual saya dengan helaan napas panjang.

Fiuuuh… Exhale..


Tapi setelah itu momen itu berlalu, langsung ada banyak pertanyaan yang saya tau harus saya jawab secepatnya;

  • Harus mulai dari mana ya?
  • Harus pakai metoda apa ya?
  • Harus atur ekspektasi seperti apa ya?

Dengan banjiran pertanyaan ini, saya tau bahwa ini akan jadi pembelajaran yang baru buat saya!

Apa sih yang betul-betul ingin saya ajarkan ke A Sepri? Apa yang bisa membuat A Sepri berani mendobrak paradigma “anak lulusan 3 SD” yang selama ini membatasi dirinya?

“Vita non est vivere sed valere vita est”
“Life is more than merely staying alive”

Langkah Pertama

Buku Catatan.

Untuk A Sepri yang sudah terbiasa menjalani hidupnya hanya untuk bertahan hidup di jalanan, 2 paradigma pertama yang harus disetel ulang dari kepala A Sepri adalah: Hidup itu bukan cuman sekedar untuk bertahan hidup dan Pengetahuan gak harus didapat dari ruang kelas & ijazah, tapi bisa didapat dimana-mana.

Saya pikir, kemampuan menaklik adalah sebuah kemampuan yang primordial dan harus dilatih setiap hari oleh seseorang. Dengan sebuah buku catatan, saya harap dia bisa menaklik hari-hari yang dilewatinya dan mengambil pelajaran dari sana. Seperti Socrates bilang, “Unexamined life is not worth living”

Langkah Kedua

Rasa penasaran.

“Bukan cuman karya arsitektur yang bisa dibilang sebagai sebuah lingkungan binaan. Tapi juga ruang belajar itu harusnya jadi lingkungan binaan!”. Pernyataan ini terhempas dari teman saya terkagum-kagum dengan tulisan Avianti Armand. Saya setuju seratus persen.

Ruang belajar itu gak seharusnya punya mimbar. Kala ini, ruang belajar yang paling efektif adalah lingkungan binaan yang secara natural menghadirkan titik bifurkasi; titik lompatan untuk seseorang mencapai tempat yang lebih jauh.

Caranya adalah dengan menginduksi rasa penasaran di setiap kelas, dan membuat A Sepri melompat dengan sendirinya.

Karena sesungguhnya, guru paling agung itu bukan seorang lelaki berjanggut dengan titel professor. Guru paling baik ada disekitarmu, di Semesta yang kamu tinggali.

Manusia cuman harus berusaha jadi murid yang baik. Baik bukan dalam arti ‘penurut’, tapi menjadi murid yang ingin mendengarkan dan menaklik apa-apa yang diajarkan oleh Semesta ini.

Saya akan membuat jurnal selama menjadi mentor Sepriyadi. Ini adalah halaman pembukanya.


Catatan kecil: Sebagai seorang ENFJ, saya emang suka (dan secara natural) ngajarin orang dengan menginduksi nilai-nilai Ni. Saya butuh tambahan ‘guru’ yang bisa menambah nilai-nilai lain dalam konteks Ne, Te, Ti, Si atau Se! So please do tell me if you want to help A Sepri to break his own boundaries, and achieve more than what was expected of him.

“Vita non est vivere sed valere vita est”
“Life is more than merely staying alive”
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Gadis Prameswari A.’s story.