Re-introduksi: Tentang Manuver Terbaru Gadis

Halo nama saya Gadis Prameswari Azahra, mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat di sebuah Universitas berbasis daring.

Tulisan ini saya buat khusus untuk teman-teman saya yang sudah lama tidak bertemu. Mungkin dipisahkan oleh jarak, atau karena kita sudah mengambil jalan yang tak lagi bersinggungan. Tulisan ini untukmu, teman-teman yang kenal saya sebagai Gadis si Anak Sepedah, Gadis si Anak Aktif, Gadis si Anak Gaul ataupun Gadis si Anak Komunitas. Ini adalah sebuah re-introduksi. Mengenalkan kalian kembali pada Gadis yang terkini.

The latest version of Gadis.

Saya berhutang cerita untuk mu, seseorang yang pernah bertemu saya di sebuah perempatan jalan. Sebuah cerita tentang lanjutan perjalanan saya.


“Mau jadi apa sih saya ini? Apa sih peran saya di dunia ini?”, mungkin ini adalah pertanyaan paling populer yang ditanyakan oleh 1,8 milyar anak muda di penjuru dunia. Sebuah problematika standar di era coming-of-age. Dengan maraknya slogan “Follow your passion! Be yourself!”, anak-anak yang sedang berada di coming-of-age ini makin kalang kabut saat belum keliatan punya passionnya sendiri.

Memang, pertanyaan ini bagus untuk menjadi arah menuju destinasi ‘kedewasaan’ yang diidam-idamkan anak muda. Tetapi sesungguhnya, terlalu dini untuk menjawab pertanyaan itu kalau belum membuat jangkar. Jangkar yang terbuat dari sebuah pertanyaan agung. Pertanyaan yang lebih primordial.

“Adakah benang merah dari segala yang sudah saya lakuin?”

Tanpa jangkar ini, anak-anak muda seperti saya malah bisa jadi cuman mengimitasi renjana yang terlihat keren (yang seringkali tergambar lewat akun-akun selebritas media sosial), yang sesungguhnya bukan renjana miliknya sendiri.

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dot will somehow connect in your future.” — Steve Jobs

Sebagai teman lama saya, kamu tentu tahu bahwa saya pernah menjadi ‘Gadis si Anak Komunitas’; dari ikut Komunitas Sahabat Kota saat SMP, bikin komunitas sepeda sendiri, hingga pernah tergabung di BCCF (Bandung Creative City Forum). Pernah juga saya menjadi ‘Gadis si Anak Gaul ’; dari menjadi penyiar Oz Radio, ikut dalam kepanitiaan acara kuliner kekinian, hingga bekerja di sebuah restoran menjadi marketing paruh waktu. Merasa kurang ekstensif, saya mengembangkan pengalaman saya dengan pekerjaan yang bidangnya asing untuk saya dan menjadi ‘Gadis si Anak Aktif’; menjadi asisten manajer TULUS, menjadi asisten sutradara film pendek di 9Matahari, hingga bekerja jadi associate producer di sebuah perusahaan seni pertunjukan. Memang, seharusnya pengalaman ekstensif ini saya syukuri dan saya banggakan. Tetapi saat dihadapkan dengan pertanyaan agung diatas, pengalaman ekstensif ini membuat saya bingung setengah mati! Gimana caranya nyari benang merah dari semua pengalaman ini?!

“Adakah benang merah dari segala HAL YANG TIDAK BERHUBUNGAN ini?”

Saat saya menguntai benangnya satu per satu, tidak sekali pun saya menemukan satu benang yang warnanya benar-benar merah. Ungu, merah muda, oranye, magenta. Semua benang yang saya punya bercorak kemerahan, tapi tak ada yang benar-benar merah. Semua warnanya biner.

Oh, mungkin, pertanyaannya salah ya? Sebelum saya menemukan benang merah itu, mungkin saya harus cari mengurai lagi benang-per-benang untuk menemukan warna merah yang selalu ada di dalam spektrum warna benang itu?

Dengan kebingungan ini, saya menderivasi pertanyaan agung itu ke satu pertanyaan baru;

“Apa hal yang selalu ada, dari semua pengalaman itu?”

Awalnya saya pikir, saya akan menjawab sesuatu yang berhubungan dengan Komunikasi atau Public Relation (karena topik ini sangat masuk akal untuk menghubungkan dengan segala kegiatan saya bukan?). Mungkin saya merasa ‘hidup’ saat saya berhasil membuat jaringan super luas dengan ikut banyak komunitas? Mungkin juga saya merasa hidup saat saya jadi ‘anak gaul’? Tapi ternyata, bukan itu.

Saya gali lagi, lalu gali lagi, lalu gali lebih dalam lagi agar saya bisa menjawab pertanyaan ini dengan sebuah kelegaan hati. Hingga akhirnya, saya menemukan jawabannya. Diantara kegiatan-kegiatan itu, gagasan yang selalu ada dan membuat saya benar-benar merasa ‘hidup’; adalah;

Saya percaya, saat mendapat stimuli yang tepat, semua orang bisa menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri. Keinginan untuk berkembang cuman harus dipicu oleh sebuah stimulus yang tepat. Dan saya suka menjadi stimulusnya.

Hahaha, saya tau, saya tau, jawaban ini tampak jauh korelasinya dengan segala aktivitas saya. Saya sendiri terkejut karena setelah menggali cukup dalam, ternyata jawaban ini yang saya temukan. Mari, mari, saya ajak kamu untuk melihat bekas galian yang saya lewati hingga saya menemukan jawaban ini!

Gadis si Anak Komunitas

Waktu itu saya masih kelas 2 SMP saat saya pertama kali tergabung dalam komunitas. Apa yang ada di kepala saya saat jadi bocah waktu itu? Kala itu saya merasa jengah dengan apa-apa yang diajarkan di sekolah, pun dengan pertemanan dengan teman sejawat saya di sekolah yang sedang melewati masa transisi dari bocah ke ABG. “Pasti ada yang lebih daripada ini”, pikir saya waktu itu. Gagasan ini jadi pendorong paling kuat untuk saya bisa mendobrak ruang belajar di institusi sekolah yang menurut saya membatasi, dan lalu pergi mencari ruang lebih luas yang bisa membebaskan nalar.

Di titik dobrakan besar ini, saya bertemu dengan Komunitas Sahabat Kota. Sebuah komunitas belajar yang mendesain pembelajaran aktif untuk anak-anak usia 5–13 tahun. Di pertemuan saya dengan komunitas ini saya belajar tentang filosofi “Guru paling agung bukan ada di ruang kelas ataupun di auditorium universitas ternama. Ia bisa berada diantara percakapan sore di meja bundar, di sela-sela permainan ataupun di tengah himpitan penumpang angkot”

Untuk seorang bocah berumur 13 tahun, gagasan ini sangat lah membebaskan! Saya jadi nagih dengan kegiatan berkomunitas. Saya nagih untuk dapat stimuli-stimuli baru yang bisa membuat saya berkembang. Adiksi ini telah mempertemukan saya dengan banyak komunitas lainnya; Komunitas Sepedah, Komunitas Lingkungan, Komunitas Kreatif, Komunitas Skena Musik Indie dan berakhir di sebuah hub komunitas bernama Bandung Cretive City Forum.

Cerita dari akhir dari perjalanan saya bersama komunitas-komunitas pernah saya bagikan di sesi Ted X Bandung terkahir saya. Nanti ya, saya bikin postnya tentang ini.

Saat menjadi Gadis si Anak Komunitas, saya belajar bahwa stimuli eksternal dari kegiatan berkomunitas bisa mendorong saya untuk membebaskan diri saya belajar di luar ruang kelas.

Gadis si Anak Aktif

Berangkat dari kegemaran saya bersepedah, saya pernah membuat gerakan bernama “Bandung Cycle Chic”, adaptasi dari gerakan serupa di Denmark. Gerakan ini saya buat karena saya percaya sepedah adalah moda kendaraan yang tidak hanya punya manfaat bejibun untuk vitalitas badaniah, tapi juga punya nilai filosofis juga bisa melambangkan kebebasan perempuan. Saya, yang kala itu masih bocah ingusan pakai seragam putih-biru, punya ambisi untuk menyebarkan gagasan tersebut lewat kegiatan mingguan bersepedah-sambil-main. Karena saya toh masih bocah, ngapain juga saya bikin kegiatan yang terlalu serius? Dorongan bermain saya sebagai bocah tetap saya pertahankan di gerakan yang saya buat ini. Biar gak kokolot begog* atuh.

Ini menuntun saya ke gerakan lain yang saya buat di tahun 2012, namnya “Hayu Ulin di Baksil”. Gerakan ini saya buat bersama 4 teman lainnya dengan tujuan mengajak lebih banyak orang menggunakan area Babakan Siliwangi sebagai arena bermain. Waktu itu Babakan Siliwangi sedang riuh-riuhnya oleh isu komersialisasi lahan Baksil yang seharusnya menjadi ruang publik masyakarakat. Ruang terbuka hijau yang harusnya dimiliki dan dipakai bersama ini dilihat oleh satu pihak swasta sebagai lahan komoditas yang sangat seksi untuk dieksploitasi. Jelas, isu ini memicu geraman warga Bandung yang selalu mengantagoniskan pihak kapitalis.

Saya dan teman-teman pun ikut geram. Gerakan untuk mengajak orang-orang untuk ‘ulin’ di Baksil adalah protes halus yang ditujukan bukan hanya untuk pemerintah dan para pemeran antagonis, tapi juga untuk masyarakat yang selama ini mengabaikan keberadaan Baksil yang harusnya diutilisasi oleh masyakarakat. Ya gimana bisa disebut ruang publik, kalau publiknya sendiri gak pake ruangnya? Harapan kami waktu itu adalah membuat lebih banyak orang yang pakai ruang di Baksil untuk jadi arena bermainnya, agar akan lebih banyak emosi orang yang termanifestasikan di ruang itu sehingga ada rasa memiliki yang kuat untuk mempertahankannya dari si pemeran antagonis itu.

Gagasan “Ulin di Baksil” ini saya kembangkan lagi menjadi sebuah acara triwulan berjudul “Sunday Smile Picnic”. Konsepnya masih sama, yaitu menumbuhkan rasa sentimentil masyarakat terhadap Babakan Siliwangi. Tapi kali ini, saya mengajak skena musisi indie Bandung untuk membuat gigs kecil di Babakan Siliwangi. Piknik udunan ini mengajak mereka untuk sumbangsih lagu sebagai konsumsi piknik, dan yang lainnya sumbangsih makanan botram untuk dimakan berbarengan.

Di acara ini, saya bukan menjadi orang yang main musik ataupun yang bawa makanan. Waktu itu saya cuman jadi amplifier, yang membawa kemampuan bermusik para musisi ini menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekedar membuat show di panggung. Saya hanya memberi stimuli yang mengamplifikasi kemampuan bermusik mereka menjadi suara yang bisa menyelamatkan Babakan Siliwangi sebagai ruang publik, mengembalikan fungsinya menjadi area milik bersama. Dengan stimuli yang tepat, saya membawa kemampuan mereka menjadi tujuan yang lebih besar.

Saat menjadi Gadis si Anak Aktif, saya belajar bahwa stimuli yang tepat juga bisa membuat sebuah kegiatan sederhana berdampak lebih besar. Kala itu, saya mulai belajar untuk menjadi stimuli untuk orang lain.

Gadis si Anak Sepedah

Diantara dua titel diatas, sepertinya titel ini akan selalu nempel di hidup saya (karena saya gak ada rencana untuk berhenti sepedahan. Bicycle iz lyfe). Tentang pembelajaran yang saya dapat dari menjadi anak Sepedah, ga akan saya jabarkan panjang-panjang disini karena sudah saya pernah tulis sebelumnya. Di artikel ini;

“Cycling and Ayurveda: How These 2 Changed My Life to the Better”

Rangkuman ringkasnya;

Saat menjadi Gadis si Anak Sepedah, saya belajar bahwa stimuli yang tepat dari kegiatan fisik bisa membawa saya untuk menemukan ‘sisi terbaik’ dari diri psikologis saya.

Dari titik ini, bermulalah ketertarikan saya tentang hubungan soma (psikis) dan psyche (psikologis) yang akhirnya menuntun saya ke manuver terbaru saya.


Tuhkan, warna merah diantara benang-benang yang saya punya ini memang bias banget kan? Saya betul-betul harus mencacah dan mencari sumber warna merah dari warna oranye, magenta, ungu dan merah muda ini. Lalu akhirnya, saya bisa menemukan warna ‘merah’ yang selalu ada di kegiatan saya;

Saat mendapat stimuli yang tepat, semua orang bisa mengembangkan dirinya.

Kesimpulan dari dots-dots yang saya hubungkan ini membelokan setir saya ke arah yang baru. Di awal tahun 2016, saya membuat sebuah manuver tajam. Saya mendaftarkan diri saya di jurusan yang selama ini sangat asing untuk saya; Public Health Science (Ilmu Kesehatan Masyarakat)

Menemukan intisari dari apa yang telah saya lakukan, membuat saya berani menukik jauh dari apa yang selama ini saya lakukan, jauh dari identitas yang selama ini saya kenal. Walaupun mungkin belokannya jauh dari jalur utama, tapi saya sudah punya tujuan di kepala. Dan saya pikir, jalan berbelok ini pun akan membawa saya ke tujuan yang sama.

Tentang Ilmu Kesehatan Masyarakat

Seperti apa yang telah saya tulis di artikel ini, saya menemukan bahwa stimuli yang dibutuhkan orang untuk mengembangkan dirinya tidak melulu datang dari eksternal. Tapi stimuli itu juga datang dari dalam; kondisi somatik yang mempengaruhi kemampuan psikologis.

Saya tercengang saat menemukan, mempelajari dan merasakan efek somatogenesis dan psikogenesis yang sangat mempengaruhi tabiat saya di keseharian. “Whoa. Ternyata, stimuli dari dalam juga sama kuat dan sama pentingnya dengan stimuli eksternal”, ujar saya saat terkagum-kagum mempelajari cara kerja tubuh dan pikiran manusia.

Berangkat dari kekaguman saya ini, saya memutuskan untuk belajar lebih dalam tentang hal ini.

Ilmu kedokteran? Tidak, saya terlalu terlambat untuk masuk fakultas kedokteran sekarang. Pun bukan ini yang saya mau.

Ilmu gizi? Tidak, saya tidak cukup Si untuk menjadi ahli gizi. Pun sepertinya, ada yang lebih besar dari cuman gizi.

Ilmu Kesehatan Masyarakat? Um… ini tuh apa ya..?

Tak cuman kamu kok yang bingung saat pertama kali dengar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saya pun pada awalnya bingung ini tuh spesialisasi ilmu macam apa. Apa distingsinya dengan ilmu kedokteran?

“Public Health Science emphasize the knowledge of
interdisciplinary expertise needed to support individual well-being and contribute to improvement of societal health”

Tak hanya belajar tentang anatomi dan biokimia tubuh manusia, tapi juga membahas tentang relasinya dengan keadaan sosial di sekitarnya. Biopsikososial jadi fokus utama di bidang ilmu ini. Dan bukan untuk mengobati yang sakit saja, tapi Ilmu Kesehatan Masyarakat menekankan peningkatan well-being — yang berarti lebih dari sekedar kesehatan, tapi juga kesejahteraan — seseorang. Mempelajari stimuli eksternal juga internal untuk mengembangkan diri.

Manuver ini mungkin mengagetkan kamu yang kenal saya sebagai Gadis si Anak Sepedah atau Gadis si Anak Aktif atau Gadis si Anak Komunitas. Tapi setelah menemukan interkonektivitas dari semuanya, manuver ini tidak lagi terlihat terlalu membelot, bukan?

Semoga tulisan ini cukup untuk jadi sebuah re-introduksi versi terbaru dari Gadis Prameswari Azahra. Karena kamu, temanku, juga bagian dari perjalanan ini.


Akan selalu jadi temanmu,

Gadis Prameswari A.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.