To Write is to Create a Cultural Ratchet
Sedari kecil, saya gak pernah dapat urgensi untuk menulis. Dengan kemampuan komunikasi verbal saya yang cukupmumpuni, saya diberi kelebihan bisa menyampaikan isi kepala saya debgan lancar setiap di setiap obrolan. Dari obrolan ringan saat memperkenalkan diri ke orang baru, sampai presentasi di depan ratusan orang. Semua saya lalui dengan lancar. Dengan komunikasi lisan yang lancar, urgensi saya untuk menuangkan gagasan lewat tulisan jadi sangat minim.
“Writing is the exponentiation of the known. It create a cultural ratchet.” — Prof. Brian Cox
Hingga akhirnya saya paham arti menulis bukan sekedar menorehkan hitam diatas putih, tapi dia adalah penggerak roda peradaban. Saya suka banget definisi ini! Mari kita bedah kalimat ini di meja kadaver linguistik:
Exponentiation
; the operation of raising one quantity to the power of another
; memuai
Exponentiation of the known
; membuat sesuatu yang telah diketahui menjadi tumbuh, berkembang, dan berlipat ganda.
Ratchet
; a process that is perceived to be changing in a series of irreversible steps
; sesuatu yang tidak dapat di balikkan.
Cultural ratchet
; membuat perubahan budayawi, yang tidak bisa dikembalikan seperti bagaimana mestinya.
Petumbuhan pengetahuan yang dilipat gandakan lewat pembaca ini bisa mengubah pola pikir suatu budaya. Perubaha yang bekerja layaknya gerigi satu arah, tanpa tombol “undo”.
Saya baru tahu tentang pentingnya mewariskan gagasan lewat tulisan.. Ternyata bukan hanya untuk mengabadikan gagasan, tapi untuk mempercepat perubahan.
Saya teringat kata-kata Newton
“I build my knowledge in the shoulder of giants” — Newton
Euclid > Descartes > Galileo > Newton
Newton sebenernya “hanya” meneruskan gagasan dari para filsuf dan saintis yang sudah membuat cultural ratchet dari tulisan-tulisannya. Meneruskan warisan.
Renjana ini telah (berhasil) mendorong saya untuk menulis.
