Menyetrika di Malam Minggu

Malam minggu ini hujan, jadi semacam mager untuk sekedar melakukan aktivitas bersosialisasi. Eh tapi pernah tidak sih tiba-tiba rasanya malas keluar rumah dan akhirnya ansos sibuk sendiri melakukan ini itu sendiri? Kalau saya sungguh membutuhkan waktu tersebut. Saat di mana rumah lebih menyenangkan karena bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa saya lakukan di hari biasa.

Sabtu ini saya habiskan dengan berleha-leha di rumah, nyapu, ngepel, beberes rumah dan kamar, cuci baju dan menyetrika. Sebenarnya saya cukup enjoy melakukan pekerjaan domestik karena sungguh melepas stress dan pasti setelahnya saya keringetan berliter-liter (lebay wkwk). Rasanya terlihat saja hasilnya semua jadi resik, bersih, rapih. Oh saya sukak!

Dan dari semuanya saya sejujurnya suka menyetrika karena menyenangkan dan memanjakan segala urat-urat perfeksionis saya. Iya saya tahu agak terdengar sakit jiwa ya. Tapi hei siapa sih yang tidak punya ‘sakit-jiwa-nya-masing-masing’?

Pada saat menyetrika seringnya saya mendengar music atau radio lalu akhirnya saya asyik menekuni lipatan baju hingga licin. Hingga saya mulai deh berpikir sambil menyetrika. Pada momen itu mungkin adalah momen di mana saya sibuk dengan pikiran sendiri dan tidak ada siapa-siapa yang saya undang. Saya cukup menyukainya sih, seperti saya sedang mengurai benang-benang kusut dan melicinkannya kembali selayaknya baju kusut jadi tumpukan rapih-rapih di lemari.

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir kalau setiap manusia pasti punya ambisi dan rasanya pada akhirnya akan ada beberapa kegagalan yang mau tidak mau dia ‘amini’ agar menjaga kewarasan dia. Ya gak sih? Seperti misalnya melihat goal di tahun 2016 yang baru setengah terwujud atau ada beberapa hal yang harus ditanggapi ‘ya udah sih selow’. Jadinya tidak kecewa-kecewa banget. Meski memang kecewa tidak bisa dihindari sih. Namun menyiapkan hati bahwa terkadang beberapa hal tidak sesuai rencana dan ekspektasi rasanya lebih baik. Seperti siap sedia dengan segala adjust plan, jadi semua diatur menjadi skala ‘maybe’ and ‘might not happened’.

Lalu saya jadi berpikir lagi kalau sebenarnya quote yang berbunyi “Be kind to people because you never know what someone is going through” ini sebenarnya quote yang relevan dan bisa dimaklumi. Saya seperti baru tersadar saja bahwa apa yang ada di depan mata kita memiliki kisah yang berbeda dan perjuangan yang berbeda. Hingga kalau didengarkan kamu bisa menyimpulkan: Oh men, sebenarnya semua orang juga berjuang untuk hidup dan hidup untuk berjuang. Istilahnya, bukan cuma kamu saja yang kesulitan bangun pagi tanpa madesu gitu (haha!) orang lain juga. Bukan kamu saja yang berdiri sampai hari ini hanya karena harapan dan cinta.

Dan satu lagi yang penting dan harus selalu diingat adalah bahagia itu karena kamu merasa cukup dengan diri sendiri, bahagia itu datang dalam diri bukan orang lain. Kebahagiaan yang bergantung hanya akan membuat kamu merasa capek. Hingga mencari pasangan yang compatible itu penting karena pada akhirnya kamu tidak akan bisa masuk ke hubungan yang sekedar surface dan artifisial saja. Itu melelahkan sekali. Dan saya jadi tersadar kalau cinta yang benar adalah seseorang yang bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan dekat pada Tuhan. Dan biasanya si kampret satu ini datangnya tiba-tiba. Hingga pada saatnya nanti dipertemukan dan akhirnya kamu pun lupa pernah bersedih lama-lama.