Rehat

Sambil menunggu blog sedang diotak-atik agar semakin ciamik, ada baiknya saya menulis bebas di Medium. Saya mengubah setting blogspot saya menjadi private agar sukses segala ganti-ganti design dan fontnya (yang entah sampai kapan namun mohon doa saja semoga cepat selesai).

Dibalik perilaku rehat sebentar dari blogspot dan ‘menghilang’, saya berencana membuat catatan-catatan sehari-hari kecil yang tidak serius-serius amat di sini yang tetap terbuka untuk dibaca, dikomentari dan mari kita sedikit ngobrol santai di sini.

Kalau mendengar kata rehat, apa yang ada di benak? Istirahat, vacation, menjauh dari daily activities, stress release, dan segala padanan kata yang bersebelahan. Rasanya saya bukan tipe yang gemar traveling dan berpetualang hingga ke gunung mana gitu. Saya adalah salah satu manusia yang tinggal di sebuah kota yang memiliki mall lebih banyak daripada taman kota. Jadi maafkanlah apabila saya ternyata tidak memiliki jiwa-jiwa petualang yang menggeliat-geliat. Mungkin saya lebih memilih liburan tenang dan nyaman. Iya, saya salah satu contoh produk-produk mie instan, yang maunya nyaman dan serba cepat.

Ketika rehat biasanya saya akan melakukan hobi, seperti membaca buku, menulis, nonton film, mendengarkan podcast, dan lain-lain. Melakukan hal yang kita sukai itu sungguh menyenangkan dan menambah energi. Lalu saya jadi terpikir bagaimana kalau ada orang yang benar-benar tidak memiliki hobi? Saya tidak bisa membayangkan, pulang kerja lalu tidak ‘bermain’. Bayangkan kalau seandainya dia tidak suka-suka banget dengan pekerjaannya dan di malam harinya dia hanya istirahat dan mengulang lagi terus menerus sampai nanti pensiun. Duh, saya membayangkannya jadi ngeri sendiri.

Ada kalanya juga bagi yang memiliki hobi namun terlalu capek untuk melakukan hobinya karena sudah habis energinya. Saya sering kali demikian dan akhirnya ketiduran saja sudah. Lalu memulai hari baru lagi dan lalu kecapekan lagi dan lalu ketiduran lagi — berulang terus.

Mungkin ya menjadi dewasa juga adalah proses adaptasi. Adaptasi dengan tanggung jawab baru. Dan apabila tidak menemukan waktu untuk melakukan hobi atau tidak memiliki hobi, saya harap kita tidak terlalu menjadi ambisius, yang melulu menuntut bahagia. Tidak bahagia bukan berarti tidak senang, sedih, atau stress. Bisa jadi tidak bahagia sebenarnya adalah zen. Menjadi nol. Tidak merasa apa-apa. Biasa saja. Mungkin pada akhirnya adaptasi kita mengarah ke sana; lowering our standard and to be less ambitious.

Kemarin di 9gag menemukan hal yang menggelitik, yakni quote “I’m a simple man” bisa jadi dengan hidup yang: bangun-kerja-pulang-istirahat-bangun-kerja-pulang-istirahat — weekend-dan ulang lagi. Tapi ya udah dibawa santai dibawa selow. Hidup tanpa ambisi tanpa cita-cita yang easy going, let it flow, enjoy the ride, yo mamen. Mungkin saya harus belajar jadi simple man ini agar tidak keseringan sakit leher dan pegal-pegal di pundak karena terlalu ngoyo ini itu.