Full Day School? Kenapa ditolak?

Foto diambil dari Pexels
Artikel ini saya buat berdasarkan banyaknya orang tua dan siswa, serta masyarakat luas yang mengeluhkan Sistem Full Day School disekolah. Berdasar status Jhony Hendra di Facebook

Pertama, akan saya jelaskan apa itu Full Day School. Full Day School pada dasarnya sekolah menggunakan sistem 5 hari sekolah dengan 8 jam pelajaran setiap harinya. Hal ini dibebankan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Beban Tugas Guru. Kebijakan itu mengatur beban kerja guru adalah 40 jam dalam sepekan, dengan kata lain 8 jam sehari dan 5 hari selama seminggu.

Kedua, bagaimana penerapannya? Full Day School pada dasarnya sama seperti sistem biasanya, hanya terdapat tambahan jam yang memungkinkan siswa untuk belajar lebih lama dari biasanya. Tambahan ini sebenarnya sedang dirumuskan karena kedepannya, akan ada banyak materi seperti keagamaan (ex: Bagi Islam ada ngaji, dsb). Di daerah Jawa tengah, terdapat sistem pendidikan yg diusulkan Gubernur Jawa Tengah yang mewajibkan setiap siswa bisa menguasai 1 alat musik. Mungkin itu juga salah satu penerapan jam tambahan Full Day School. Sistem ini tidak melulu memberikan beban dengan belajar seharian di sekolah, sistem dan pelaksanaan sistem ini tergantung sekolah masing masing dalam menyususnnya sehingga tidak membuat siswa tertekan atau bahkan stress karena jam pelajaran yang banyak.

Ketiga, pendidikan di Finlandia. Hal ini terdengar konyol menurut saya, kadang saya juga tertawa kecil ketika baca artikel dan pembandingnya dengan sistem Finlandia. WRONG!! Mungkin hanya sebagian dari siswa atau bahkan masyarakat luas yang peham maksud saya. Ini sama halnya membandingkan potensi sendiri tapi dengan seseorang yang jelas sudah lebih mahir. Kenapa begitu? Saya jabarkan. Sistem di Finlandia, mereka mengatur 4 jam belajar setiap hari, tidak ada PR, dan bahkan diperbolehkan memakai baju bebas serta memilih pelajaran yang siswa sukai (Saya suka sistem ini). But, Finlandia terkenal dengan Kolaborasi daripada Kompetisi di Pendidikannya. Kenapa? Soalnya Industri di Finlandia sudah maju dan bagus untuk dijadikan Kolaborasi dengan sekolah sekolah. Oh iya, Kolaborasi yang dimaksud disini sebenarnya mengartikan siswa dengan dunia luar, maksudnya sistem mengajarkan bahwa nilai kolaborasi dapat diperoleh dengan belajar dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai visi dan tujuan yang sudah diplan bersama. Di Finlandia, penerapan ini sudah dari SD, bahkan untuk skala SD siswa sudah diperkenalkan dunia Industri, berkunjung, dan belajar. hal ini memungkinkan siswa memahami apa yang akan mereka kerjakan setelah selesai sekolah (dalam artian mencari passion sedini mungkin). Hal ini sangat bagus diterapkan karena siswa akan lebih nyaman ketika mereka mempelajari hal yang benar benar mereka sukai daripada memaksakan belajar banyak hal yang membosankan (ex:Matematika). Lalu, apa jadinya jika sistem ini diterapkan di Indonesia? Pertama, Pendidikan akan Kacau. Kedua, akan menghabiskan banyak anggaran Negara. Ketiga, belum banyak Industri yang tersebar merata jadi sistem ini tidak akan berguna. Keempat, Kurangnya guru yang kompeten dan ahli dalam sebuah bidang secara mendalam.

Foto diambil dari Pexels

Keempat, Pembatalan sistem Full Day School. Sebenarnya bukan pembatalan, tetapi ditolaknya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah oleh Bapak Jokowi dan akan digantikan dengan Peraturan Presiden. Taukah kamu? Perpres yang disusun Bapak Jokowi ini nantinya akan dirumuskan bersama dengan Mendikbud Muhadjir, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, MUI, PBNU, dan PP Muhammadiyah. And, Jokowi juga telah mengatakan bahwa Perpres ini masih banyak menampung ASPIRASI MASYARAKAT tentang kebijakan Full Day School.

“Presiden sangat merespons aspirasi yang berkembang di masyarakat dan sangat memahami apa yang kemudian menjadi keinginan masyarakat dan ormas-ormas Islam. Oleh karena itu Presiden akan melakukan penataan ulang aturan itu,” ujar Ma’ruf.

Yang saya pertanyakan sekarang adalah, kenapa begitu banyak siswa, orang tua, bahkan masyarakat luas yang masih mengeluh padahal Jokowi secara terbuka menampung aspirasi, mau ditolak ataupu tidak itu tergantung Jokowi di Perpresnya nanti. Semakin Masyarakat ikut berpartisipasi, maka sistem ini bukan hanya memberatkan siswa tetapi justru akan membangun mental siswa sejak dini. Memahami dan membangun karakter. Serta mengajak anask atau siswa menjadi lebih sosial, meningkatkan interaksi dengan orang lain, temannya dan tidak hanya terpaku pada Smartphone dan yang saya sayangkan adalah orang tua dengan sengaja justru memberi smartphone ke anaknya. So now, siapa yang salah? mungkin perlu dilihat lagi dan dipahami secara cermat tentang sistem ini.

Kelima, Kelebihan dan Kekurangan.

Kelebihan. Sistem ini memiliki kelebihan dimana siswa akan dituntut menjadi karakter yang lebih baik serta benyak melakukan Interaksi sosialnya. Sistem ini juga sangat tepat diterapkan mengingat kondisi Indonesia yang kurang bagus di Industri dan kebutuha SDMnya. Sistem ini diharapkan mampu mencetak SDM yang baik kedepannya untuk dapat bersaing dengan SDM negara lain. Selain itu, pada saat siswa awal masuk mungkin akan terasa memberatkan tapi selanjutnya hal itu cenderung menjadi kebiasaan dan bukan sebuah masalah lagi. Terlebih, akan semakin banyak skill yang bisa siswa pelajari di sekolah. Sabtu-Minggu libur juga sangat membantu bagi orang tua membangun kedekatan dengan anaknya.

Kekurangan. Menurut saya, sistem ini cukup bagus hanya saja untuk PR. Yap, PR sangat memberatkan jika diterapkan di Full Day School. Karena jam KBM yang dinilai lama justru dibebankan pula dengan adanya PR. Mungkin sistem PR ini bisa diganti dengan tugas keterampilan atau kerajinan dari siswa itu sendiri sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa, bisa dilakukan secara individu ataupun kelompok. Untuk kelompok, idealnya 2–3 orang berdasar fakta bahwa siswa Indonesia yang sangat malas jika harus 5 orang sekelompok dan pastinya hanya 2–3 orang saja yang bekerja dan 2 lainnya numpang nama saja dan begitulah faktanya.

Foto diambil di Pexels

Kesimpulannya, pada dasarnya sistem Full Day School masih dalam pengembangan. Kiranya ada yang kurang bagus, silakan sampaikan aspirasinya untuk terus diperbaiki dan direvisi ulang. Setiap aspirasi masyarakat sangat penting dalam pengembangan sistem ini, terlebih peran orang tua dalam mengawasi perkembangan anaknya. Hentikan membandingkan sistem pendidikan Finlandia dan Indonesia karena itu jelas jelas beda dengan kondisi sekarang ini. Perlunya juga minat baca siswa akan suatu bidang juga dapat membantu memunculkan passion siswa sedini mungkin, setiap penyelenggara baik itu sistem, pemerintah, ataupun pengajar haruslah siap jika sebuah sistem benar benar diterapkan. Setiap guru juga harus dapat belajar lebih megenai kompetensi yang diajarkannya. Setiap dukungan orang tua dalam membantu anaknya belajar juga sangat berpengaruh dengan perkembangan dan penguasaan materi. Dengan begitu diharapkan dapat mencetak lulusan yang ahli. Sekian, Terima Kasih.

Sebagai penutup, saya kutip kata kata Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa

Sekolah adalah tempat yang nyaman untuk Belajar
A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.