Kejadian

Dengan langkah terseret-seret, ia berjalan. Rahimnya begitu memberatkan. Nafasnya barangkali hanya tinggal satu atau dua tarikan lagi. Ketika satu hela nafas hendak terhembus, ia menariknya lagi. Terus menerus. Seolah ia tak lagi sedang bernafas.

Mata — oh betapa semua pasang mata menatapnya. Yang menatap itu — bola matanya bisa ditemukan di mana-mana; pokok samping bingkai matanya. Ada pula yang di atas. Sementara nafasnya terus ditarik sebelum selesai dihembus dan dihela. “Ya!” hanya itu yang bisa ia ucapkan dengan nafas yang sedemikian.

Kepada semua tatapan itu di manapun bola matanya berada. Dengan langkah yang goyah, ia menatap nanar. Tangannya berkerut-kerut, mengejang. Belum juga mati. Sementara nafasnya terus ditarik sebelum selesai dihembus dan dihela.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.