
Resolusi Buku 2016
Ah saya sadar dan kembali ingat bahwa ini Februari, tapi saya rasa tidak terlambatlah untuk bicara masa depan soal buku. Ini semacam janji akan membaca apa, menganalisa apa, dan tahun ini akan jadi pemikiran siapa:
- Literatur Inggris klasik
Iya, maaf, ini telat sekali. Percaya saja; saya tidak pernah menyukai karya sastra Inggris. Maaf! Tapi itu sangat… sangat… membosankan. Saya mencoba membaca drama-drama Shakespeare dari zaman SMA kelas satu, saya malah berakhir meneteskan iler di buku tersebut. Saat ini saya berjuang membaca Lord of The Flies karya Golding. Hanya saja jangan terlalu banyak berharap saya akan membaca Jane Austen. Ketika membaca Pride & Prejudice ketika kelas 10 SMA, saya rasa itu perjumpaan terakhir dengan karya dari Austen. Maaf “Tuan” Darcy dan Nona “Lizzy”, bagi saya kalian cuma sepasang labil yang tarik ulur kepastian. Mau tahu percintaan apa yang harusnya legendaris bagi saya? Vronsky dan Frou-Frou. Yang masuk daftar saya dalam poin ini adalah karya-karya Edgar Allan Poe & “Mrs. Dalloway” karya Virginia Woolf. Oh, Charles Dickens tentu saja masuk ke dalam daftar ini (Tale of Two Cities!).
Agak berdosa: tapi saya ingin memasukkan Faulkner di sini. Walaupun dia seorang Amerika. - Literatur Marxisme & Anarkisme
Ini semacam ambisi saya untuk bangkit dari kebuntuan personal dan beberapa pertanyaan saya yang tak terjawab dalam Marxisme (setelah Revolusi lalu apa? Konsep kerja? Politik logistik? Kerja suprastruktur yang bersama-sama basis? Mengurai fetisisme terhadap uang?). Daripada mengaduh-ngaduh dan saya sendiri mulai capek sendiri nyinyir terhadap teman-teman Marxist (vulgar?) yang tentu saja sedang berjuang, jadi saya putuskan lebih baik belajar lebih banyak lagi. Tak ada kata terlambat untuk belajar, daripada menyesal jatuh ke jurang falasi dan ketidakpedulian.
Di daftar ini ada karya-karya seperti Das Kapital Vol. 1, Manikom (sudah selesai), The German Ideology, The Eighteenth Brumaire of Louis Napoleon, dan diikuti oleh teks-teks Marxist setelahnya yang bergerak di bidang kebudayaan; kontinental (saya pilih Foucault <lagi> dan Deleuze/Guattari). Karya-karya anarko seperti essay-essay Emma Goldman, Feral Faun, Bonano, dan tentu saja dedengkot-dedengkot seperti Bakunin, Proudhon, dan Kropotkin — setiap penulis anarko minimal satu teks. - Novel-Novel Asia Timur (Jepang Klasik hingga Modern, membaca Mo Yan lebih banyak lagi, dan novel-novel Korea Selatan)
Mari kita berhenti membicarakan Murakami. Pliz ieu mah. Oke, oke. Saya paham. Murakami hadir di saat yang sangat tepat. Generasi milenial angst yang bahkan gak tahu mau apa dengan hidupnya. Lumrah. Tapi terimakasih karena hipster-hipster ini, Murakami seolah-olah menjadi dewa literatur Jepang. Ada legenda yang mengatakan; bahwa setiap kali kalian bilang Murakami itu penulis Jepang paling hebat, Yasunari Kawabata akan mengirim bangau kertas beracun yang akan merusak jeroan kalian semua.
Tentu saja legenda ini karang-karangan saya. - Literatur filsafat teknologi & lingkungan
Sehubungan dengan rencana studi yang mengambil sosial antropologi dengan peminatan kajian masyarakat dan sainstek, saya rasa ini sangat mendesak. Heidegger memang jadi pintu masuk saya ketika memahami isu ini, tapi ada beberapa penulis yang lebih kontemporer seperti Ulrich Beck & Anthony Giddens yang membicarakan masyarakat resiko di tengah kemajuan teknologi.
Dan tolong, jangan hanya mengutip Manikom, “kapital akan selalu merevolusionerkan moda produksinya”. Iya, saya sepakat. Tapi caranya dia lahir dan beroperasi hingga menelurkan masyarakat yang lebih kompleks bagaimana? - Lebih banyak karya sastra Rusia!
Saya tidak dapat membayangkan hidup saya tanpa sastra Rusia. Ayolah, spektrum politik saya hingga hari ini sangat dipengaruhi Tolstoy walaupun saya sudah melepas pola pikir moralis pelan-pelan (tapi tidak bisa sepenuhnya, tentu). Saya merasa belum menjadi pembaca sastra Rusia yang baik. Saya jarang menganalisa pemikiran mereka secara mendalam di luar tugas kuliah dulu, jika dibandingkan dengan bagaimana saya menganalisa novel-novel karya penulis Indonesia di blog. Tahun ini akan jadi tahun Gogol, Turgenev (ah, dulu saya yang naif ini sangat tidak menyukai karyanya karena terpengaruh moral Tolstoy) dan Bulgakov! Saat ini saya sedang berambisi mencari Heart of A Dog karya Bulgakov.
Ah, daftar saya panjang sekali. Tapi mengingat saya tidak punya arti hidup selain membaca (dan kerja, sesuai sabda kapital), maka mau tidak mau membaca pun menjadi perkara yang butuh kedisiplinan.
Caio!