Cerita Dibalik 3 Sikap Nabi Khidir AS yang Tidak Disukai Nabi Musa AS

Nabi Musa AS, sebagai anak angkat dari Fir’aun (Pharaoh), tentunya memiliki akses yang mudah dengan sumber-sumber informasi seperti buku dan para ahli. Sehingga, tak ayal Musa AS memiliki pengetahuan yang dahsyat, dibandingkan dengan seluruh penduduk Mesir saat itu. Namun, hal itu membuatnya menjadi pribadi yang arogan, yang menyombongkan ilmu yang dimilikinya, seperti yang dikisahkan dalam hadits riwayat Imam Muslim (lihat buku “Ringkasan Sahih Muslim”, M. Nashiruddin al-Albani, 2005, h. 803–807, hadits ke-1611).

Di situ diceritakan bahwa suatu ketika Musa sedang berpidato di hadapan kaumnya, lalu ditanya seseorang: “Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?” Musa langsung menjawab, “Akulah orang yang paling banyak ilmunya.”

Kemudian Allah memberi teguran kepada Musa AS, dengan menunjukkan padanya seorang yang memiliki ilmu yang lebih banyak dari apa yang Musa AS miliki. Seorang itu adalah Nabi Khidir AS. Singkat cerita, Nabi Khidir menjadi mentor (guru) Musa AS. Namun, sebelum memberikan pelajaran kepada Musa AS, Khidir AS menyaratkan agar Musa AS harus bisa bersabar ketika melihat keanehan yang akan terjadi di depan matanya.

Pelajaran yang akan diberikan Khidir AS kepada Musa AS adalah metode pembelajaran dari kearifan yang diberikan alam. Selama Musa AS berguru kepada Khidir AS, ia gagal menaati syarat yang diberikan Khidir AS karena 3 peristiwa.

Peristiwa pertama, yaitu ketika Nabi Khidir secara sengaja merusak kapal seorang nelayan yang mereka tumpangi secara gratis, sehingga dalam kapal itu terjadi kebocoran. Musa AS merasa malu dan marah kepada Khidir AS, bagaimana bisa, seorang yang berilmu, melakukan hal memalukan dan membahayakan itu.

Sebenarnya, dibalik perusakan itu, Nabi Khidir AS mengetahui bahwa ada perompak yang ada di jalur perjalanan kapal yang mereka tumpangi, yang akan menjarah kapal-kapal bagus yang lewat. Sehingga, agar tidak mencuri perhatian perompak dan dapat selamat sampai tujuan, Khidir AS merusak penampilan luar dari kapal. Nabi Khidir AS dapat dengan mudah membayar kerusakan yang ia lakukan setelah sampai di seberang.

Pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga “penampilan perahu”. Jika diibaratkan perahu adalah organisasi, maka jagalah penampilan organisasi kalian di mata publik. Sehingga, tidak ada organisasi atau individu lain (perompak) yang meremehkan bahkan mengganggu organisasi yang kalian bangun.

Peristiwa kedua, yaitu ketika Musa AS dan Khidir AS menjumpai seorang anak kecil yang bermain di pinggir sebuah kampung. Kemudian, Khidir AS mendekati anak itu. Secara tiba-tiba, Khidir AS membunuh anak kecil itu. Tentu saja secara spontan Musa AS terkaget dan sungguh kesal dengan perbuatan yang dilakukan mentornya tersebut. Ia bertanya-tanya, mengapa anak kecil yang tak terlihat melakukan apapun yang salah dibunuh oleh mentornya di depan mata.

Alasan dibalik kelakuan Nabi Khidir ialah karena anak kecil itu sebenarnya adalah anak yang nakal dan jahat. Namun, yang perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah mengenai “pembunuhan” yang dilakukan. Mungkin, pada saat itu pembunuhan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah kemunkaran. Pembunuhan memang tidak dapat diterima kebenarannya oleh sebagian besar orang, karena adanya perbedaan kebudayaan yang berkembang. Selain itu, pelajaran yang disampaikan Khidir AS dan Musa AS diperuntukkan untuk kaum mereka saja. Tidak seperti Ajara yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia.

Bagaimanapun, mari kita ambil pelajarannya saja dari peristiwa ini. Khidir AS ingin mengajarkan Musa AS agar menghentikan suatu kejahatan sejak dini, sebelum kejahatan itu membesar dan sulit dihentikan, dan dimulai dari diri masing-masing. Termasuk dalam diri Musa AS sendiri, yaitu sifat sombong yang dimilikinya. Bagaimana Musa AS mengalahkan Fir’aun yang sombong jika Musa AS sendiri masih sombong? Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi Musa AS.

Peristiwa ketiga, yaitu saat mereka mendatangi suatu kampung dan mereka tidak diterima dengan ramah. Lalu, ketika hendak meninggalkan kampung tersebut, mereka melihat sebuah tembok yang akan runtuh. Dengan inisiatif Khidir AS, ia membetulkan tembok tersebut hingga tegak kembali. Nabi Musa AS terheran mengenai alasan gurunya melakukan hal tersebut, mengingat perlakuan yang diberikan oleh warga kampung tersebut.

Khidir AS melakukan hal tersebut karena ia tahu bahwa tembok yang runtuh itu merupakan harta warisan untuk anak yatim. Ia melindungi harta tersebut agar anak yatim tersebut nantinya ketika tumbuh besar dapat menerima warisan orang tuanya yang shalih. Lecehan-lecehan dari penduduk sekitar tidak berpengaruh baginya. Karena ia puya tujuan yang harus dicapai, yaitu melindungi masa depan dari anak yatim tersebut.

Khidir AS ingin melindungi masa depan dari desa itu, yang nantinya akan membangun dan memajukan desa. Kembali kita ambil pelajaran dari hal ini. Anak yatim dalam kisah tersebut dapat diibaratkan sebagai kader, dan kampung sebagai organisasi. Sehingga, untuk memajukan organisasi, nilai-nilai warisan (tembok) harus selalu dipertahankan, agar para penerus organisasi tidak lupa akan identitas organisasi mereka.

Dari ketiga peristiwa yang dialami Musa AS bersama Khidir AS tersebut, dapat disimpulkan ada 3 pelajaran yang dapat kita ambil, yaitu:

  • Selalu jaga penampilan agar tidak dremehkan
  • Bunuh kejahatan-kejahatan sejak kejahatan itu masih kecil, mulai dari yang ada pada diri kita
  • Jaga warisan untuk para penerus kita
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.