Berkulit sawo matang

Unsplash.com

Perlu belajar, meski tinggal di tempat yang mayoritas penduduknya memiliki kulit berwarna sawo matang nyatanya putih terang lebih didambakan.

Kelas 6 SD saya kenal sama produk body scrub (lulur) salah satu teman memperkenalkan lulur sebagai produk ajaib yang mampu membuat kulit saya jadi putih bersih seperti yang ada di TV. Maklum, dulu sudah insecure dan nggak PD dengan kulit sendiri. Semangat buat beli, sampe rumah lulur diusap ke badan, digosok kuat. Ada sensasi kagum waktu liat kulit jadi putih buat sementara karena kotoran yang tergerus dari biji scrub. Tapi nggak lama, kemudian sedih lagi. Berpikir kapan ya aku bakal putih lagi? Beruntungnya pikiran “ingin putih” ini “cuma” berani muncul di pikiran. Nggak sampai ekstrim menggerakan diri buat beli produk pemutih badan secara instan. Ini terjadi lama, sampai kemudian mulai membaca artikel tentang “Bangga berkulit sawo matang”

Awalnya nggak percaya ada artikel yang menulis kelebihan si pemilik kulit sawo matang. Apa bagusnya punya warna kulit seperti ini? Nggak pernah tuh muncul di TV sebagai contoh “kulit idaman itu yang begini” liatnya kan ya yang putih itu. Setiap produk kecantikan juga ada embel-embelnya putih. Penulisnya nggak salah nulis kan?

Ternyata enggak kok, dia nggak salah nulis. Dia memang berniat buat melihat kulit warna sawo matang dari sudut pandang yang berbeda. Nggak lagi sama dengan apa yang diperlihatkan di TV. Pelan tapi pasti, orang-orang pun juga vokal menyuarakan proses penerimaan diri sendiri dengan kulit warna sawo matang.

Belakangan beauty advertising ikut berubah, masih ada embel-embel whiteningnya. Tapi yang dijadikan model nggak hanya dia yang berkulit putih aja. Mungkin terilhami dari iklan di luar negeri, yang melihat cantik bukan hanya dari warna kulit. Banyak aspek yang menjadikan diri ini terlihat menarik. Bahwa cantik nggak hanya datang dari satu sisi.