
Pria yang tak sudi untuk tak bertanggung jawab
Di lorong rumah sakit, ku temui seseorang yang tak — pernah kupikirkan tentangnya. Ia menggandeng seorang anak kecil dengan mata sedikit sayup nampak baru saja selesai dengan tangisannya. Memegang mainan kecil yang masih terbungkus rapi di tangan kanannya. Sedang tangan kirinya memegang biskuit yang sudah digigit barang sekali atau dua kali.
Istrinya akan melahirkan anak kedua. Anak pertamanya menangis minta dibelikan mainan. Sedang ia tak pegang banyak uang. Untuk makan dirinya sendiri saja bingung. Untung biaya rumah sakit sepenuhnya ditanggung BPJS.
Lengkap sudah kebingungannya.
Segala tentang anak tak akan mudah disepelekan barang itu hal sepele. Ia hanya melempar sedikit senyum padaku saat selesai menjawab pertanyaanku mengenai sedang apa ia disini. Di rumah sakit ini.
Nampak wajah memelas. Berharap aku bisa menolong atau bagaimana aku tak tahu. Dua hari setelah hari itu. Kutemui dirinya lagi. Di kamar tempat istri dan anak keduanya yang sudah lahir itu dirawat.
Aku tak tahu harus bagaimana. Anak mbarepku sudah dibawa neneknya pulang. Mungkin juga istri dan anak kedua ku akan menyusul juga. Kami baru menikah selama delapan bulan. Dan aku harus kehilangannya sebab dua anak yang aku tak tahu siapa ayahnya.