Asbabun Nuzul Al Maidah 51 Berdasarkan 3 Kitab Tafsir

Berdasarkan 3 kitab tafsir yang telah banyak digunakan dan dipelajari oleh para santri-santri di seluruh Indonesia dan bahkan dijadikan rujukan oleh orang-orang di seluruh dunia.:

  1. Kitab Tafsir Ibnu Katsir karangan Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir.
  2. Kitab Tafsir Maraah Labiid karangan Syekh Muhammad bin Umar Nawawi Al Jawi (Al Banteni).
  3. Tafsir Jalalain karangan Jalaluddin al-Mahalli dan muridnya, Jalaluddin as-Suyuthi.

Dimulai dengan tafsir Ibnu Katsir, mengenai asbabun nuzul Al Maidah: 51.

Di dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa ada perbedaan pendapat sehubungan dengan asal muasal turunnya ayat ini, Pertama, ayat ini turun berkenaan dengan dua orang dimana salah satunya berkata kepada shohibnya setelah terjadi perang Uhud. Kemudian orang yang satu pergi ke orang-orang Yahudi untuk meminta perlindungan kepada mereka kemudian memeluk agama Yahudi dan berharap orang Yahudi tersebut memberikan manfaat kepadanya jika terjadi apa-apa. Sedangkan yang satu lagi pergi ke orang-orang Nasrani di Syam dan kemudian berniat untuk memeluk agama Nasrani. Akhirnya, Allah menurunkan ayat tersebut.

Kekalahan umat Islam pada perang Uhud. Kemudian ada seseorang yang ragu terhadap agamanya, ragu terhadap Rasulnya, ragu terhadap Tuhannya, yang kemudian meminta perlindungan dan keamanan kepada orang Yahudi dan yang satunya kepada orang Nasrani. Apakah ini tentang “pemimpin”? sekali lagi tidak. Ini tentang keimanan kawan. “Auliya’” disini justru lebih mengarah pada “penolong”, “penjamin keselamatan”, “penjamin keamanan”. Allah menegur keras dalam hal ini.

Jika kita benar-benar menghayati lafadz “لا حول و لا قوة إلا بالله”. (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali sebab pertolongan Allah), maka kita sudah benar-benar tidak peduli atau tidak membutuhkan pertolongan pada selain Allah. Sebab semuanya dikembalikan kepada Allah. Apa yang bisa diperbuat oleh manusia sebagai makhluk yang lemah? Hanyalah Allah penolong kita.

Dialah yang mentakdirkan umat islam kalah dalam peperangan, dan dia juga yang akan mentakdirkan umat islam menang. Kekalahan ini dikehendaki oleh Allah swt sebab umat islam pada saat itu tidak mematuhi perintah Nabinya, sang kekasih Tuhannya. Jadi bertaubatlah kepada Allah swt, minta maaflah kepada Nabi. Bukan malah berkhianat kemudian menjadikan orang-orang Nasrani dan Yahudi sebagai penolong-penolong kalian, sebagai penjamin keselamatan kalian dan parahnya lagi, dua orang tersebut justru murtad dari agamanya.

Pendapat Kedua, Dalam satu riwayat dikemukakan bahwa ’ Abdullah bin Ubay (tokoh munafik Madinah) dan ’Ubadah bin ash-Shamit (salah seorang tokoh Islam dari Bani Auf bin Khazraj) terikat oleh suatu perjanjian untuk membela Yahudi Bani Qainuqa yang memerangi Rasulullah SAW karena melanggar Piagam Madinah. Abdullah bin Ubay mengajaknya membuat pakta perjanjian dengan klan Yahudi tersebut yang isinya yaitu tidak memihak (merugikan) klan Arab.

Lalu ’Ubadah bin Ash-Shamit berangkat menghadap Rasulullah SAW untuk membersihkan diri dari ikatannya dengan Bani Qianuqa itu, serta menggabungkan diri bersama Rasulullah SAW dan menyatakan hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun Abdullah bin Ubay berujar kalau dia takut mendapatkan bencana sehingga dia tidak mau memutuskan ikatan tersebut.

Maka turunlah ayat ini ( Q.S. Al-Maidah 5:51) yang mengingatkan orang beriman untuk tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani yang pada waktu itu sedang memerangi kaum Muslimin menjadi awliya (pelindung) mereka. Itulah pemahaman tentang asbabun nuzul surat al Maidah ayat 51 dari yang sudah dijelaskan oleh Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir di dalam kitabnya.

Selanjutnya beliau juga menceritakan tentang kisah sahabat nabi Umar bin Khattab dan Abu Musa Al-Asy’ari. Dimana pada saat itu Umar menyuruh Abu Musa Al Asy’ari untuk melaporkan tentang pemasukan dan pengeluaran pada selembar kain (semacam laporan keuangan). Saat itu Abu Musa memiliki seorang sekretaris yang beragama Nasrani. Umar bin Khattab takjub/kagum dengan kemampuannya.

Khalifah memintanya untuk membacakan laporan dari Syam itu di Masjid Nabawi. Abu Musa mengatakan, “Tidak bisa orang ini masuk ke Masjid Nabawi.” Umar bertanya, “Mengapa? Apakah dia sedang junub?” “Bukan, dia Nasrani,” jawab Abu Musa. Umar langsung membentak Abu Musa dan memukul pahanya, dan mengatakan, “Usir dia! (Akhri juhu)”. Kemudian Umar membaca surat Al Maidah ayat 51.

Kenapa Umar bin Khattab marah? Karena penjelasannya panjang maka dibahas di artikel terpisah > https://medium.com/@gammrinaldi/penjelasan-lengkap-tentang-umar-bin-khatab-dan-sekretaris-kristen-7dad94cfd2a0#.kgr5cckdf

Sekarang mari kita beralih ke tafsir Maraah Labiid karangan Syekh Nawawi Al-Jawi atau lebih dikenal dengan gelar Al-Banteni.

Janganlah kalian menggantungkan diri untuk meminta pertolongan pada mereka dan janganlah kalian bergaul dengan mereka seperti bergaulnya kalian dengan orang-orang yang kalian cintai. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Syaikh Nawawi adalah agar jangan sampai kita menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai sahabat karib, teman dekat, selayaknya saudara-saudara kita yang kita cintai. Hingga kita menggantungkan diri dengan mengharap pertolongan kepada mereka. Sebab Allah sangat melarang keras dalam hal ini.

Kemudian Syekh Nawawi Al-Jawi mengutip sebab turunnya QS. 5: 51, dimana diriwayatkan bahwa ‘Ubādah ibn as-Shāmit datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan berlepas diri di hadapan beliau dari loyalitasnya kepada orang-orang Yahudi. Kemudian pemuka gembong kaum munafiq, ‘Abdullah ibn Ubayy berkata, ‘Aku tidak akan berlepas diri dari mereka. Karena aku khawatir mendapat musibah (adzab).’

Imam as-Suddi juga menyatakan bahwa karena perang Uhud begitu memberi pengaruh besar kepada psikologi sebagian golongan dan takut sekiranya kaum kafir akan menguasai mereka, maka seseorang dari kalangan ummat Islam berkata, ‘Aku akan ikut si Yahudi itu, agar aku mendapat jaminan kemananan. Aku takut Yahudi nanti berkuasa atas kita.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Aku akan ikut si Nasrani itu, yang berasal dari Syam. Aku ingin mendapat jaminan keamanan darinya. Maka, turunlah QS. 5: 51.

Namun menurut ‘Ikrimah, QS. 5: 51 turun berkenaan dengan Abū Lubābah ibn al-Mundzir, yang diutus oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ke Yahudi Bani Quraizhah, ketika mereka dikepung. Kemudian Abū Lubābah bermusyawarah dengan mereka, perihal untuk turun (menyerah). Mereka berkata, ‘Apa yang dilakukan Muhammad kalau kami menyerah?Kemudian Abū Lubābah memberi isyarat dengan meletakkan jarainya di lehernya. Artinya: dia akan membunuh kalian.

Kesimpulan yang dapat kita ambil berdasarkan tafsir dan asbabun nuzul berdasarkan 3 kitab di atas adalah: Jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani yang memerangi Islam sebagai pelindung atau sekutu atau kawan. Contoh di masa sekarang: Indonesia meminta perlindungan atau aliansi kepada negara yang memerangi umat muslim. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan memilih pemimpin muslim dalam keadaan negara yang damai.