BUTA!

Pengurai hati terkulai lemah.
Terdiam, tangan lemas tak berarah.
Mengangkat, mengaga kepala yang berdarah.
Menunduk, menutup mata tak mau meludah.

Sedih, temanku kali ini
Melihat kesejahteraan negeri semakin berlari
Melihat layu nya semangat untuk kembali
Melihat, kamu yang asik dengan kerasnya hati

Kawanku, sadarlah!
Negeri ini tidak sedang indah, tidak!
Negeri ini tidak sedang bahagia, tidak!
Negeri ini tidak sedang sejahtera, tidak!

Ah untuk apa aku berkata kepadamu.
Tangan kaki kepalamu yang terbelenggu.
Jerat-jerat kenikmatan yang mengganggu.
Membuatmu mati akan apa yang menjadi jatimu.

KAMU BUTA!
Buta dengan tangisan dan rengekan manusia sengsara.

KAMU TULI!
Tuli dengan gersangnya tanah yang berpadi.

KAMU BISU!
Bisu dengan termangu, mengangguk, menggelengkan kepalamu yang kosong itu.

KAMU LUMPUH!
Lumpuh dengan suaramu yang tersayup-sayup rapuh.

Ah lucunya.
Kamu yang terikat oleh nikmat.
Nikmat yang fana, yang sederhana.
Nikmat yang sementara, yang tidak berguna.
Nikmat yang fana, terlena dan buta dengan realita

Berteriak ingin sejahtera,
Berteriak Iba kepada yang sengsara.

Tapi, mana tanganmu?
Mana otakmu?

Termangu padu dengan layar yang menjadi panduanmu.
Candu kepada hati-hati yang setuju padamu.
Candu kepada perhatian yang tabu.

Ah , apa gunanya aku berteriak kepadamu.
Kamu yang patung, terpaku hanya pada satu.
Kebahagiaanmu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.