Jurnal Pikiran #17
Tentang manusia dan pelariannya
Pada sore hari kemarin, aku memang ada rencana untuk berkumpul dengan teman-temanku, yang pada dasarnya dipertemukan oleh satu kesamaan, mamet.
Pada waktu itu kami berencana untuk berkumpul di cc timur pada pukul 17.00. Sesampainya disana, aku langsung ‘dicegat’ oleh wakil menteriku untuk membantu dalam persiapan makrab kabinet ‘senurani’. Aku yang sudah bertemu dengan salah satu temanku langsung meminta izin untuk pergi dulu sebentar untuk membantu persiapan. Membantunya pun bukan sesuatu yang rumit, hanya mengangkat air saja. Disini aku merasa kontribusiku masih sangat kurang. Selama 4 bulan kedepan aku menelantarkan tugasku di kabinet untuk mengurusi mamet. Dan memang rencana awalnya, aku akan kajian dengan anak-anak mamet dan secara tidak langsung tidak menghadiri makrab — dimana berarti aku menelantarkan kontribusi ku lagi — sebuah kebetulan yang unik kan?
Setelah aku mengantarkan air tersebut, aku duduk dan bercengkrama menunggu temanku yang satu lagi datang. Lalu, temanku yang satu ini (Sebut saja A) ngomong ‘Dy sebenernya urang lagi kabur dari himpunan urang, ini juga gimana ya (kata ini merujuk pada sebuah kegiatan), ingin cabut aja’. Si A menceritakan tentang mengapa dan bagaimana Ia ingin ‘kabur’ dari masalah-masalah yang Ia hadapi. Disana aku langsung memberikan pandangan bahwa pada dasarnya kita tidak bisa menghindari masalah-masalah yang kita hadapi, dan kita memang harus menghadapinya cepat atau lambat.
Lalu temanku yang satu lagi datang (Sebut saja B) yang baru saja dari himpunannya. “Dy urang sekarang tau kenapa urang salah waktu itu mau cabut dari himpunan”, kata B. Akhirnya B menceritakan tentang bagaimana dan mengapa pada awalnya dia mau ‘kabur’ dari himpunannya, dan akhirnya niat itu diurungkan karena Ia sadar bahwa untuk kabur dari masalah bukanlah sebuah solusi.
Setelah itu kami mendiskusikan tentang masalah kami untuk kegiatan ini, dimana terdapat constraint-constraint yang menyebabkan kami sempat berpikir untuk ‘kabur’ saja.
Kata kabur disini bermakna kami tidak akan membantu atau berusaha dalam bentuk apapun, ya seperti membiarkan bola salju terus menggelinding alih-alih berusaha menahan bola salju tersebut.
Namun, “Udah terlanjur basah, mending berenang aja” merupakan kalimat yang sering muncul ketika kami mendiskusikan masalah yang sedang kami hadapi.
Akhirnya kami bertiga berusaha untuk memperjuangkan idealisme kami lagi, dalam satu dan lain bentuk, kami terus berusaha terlepas pada waktu sebelumnya, kami berniat untuk mengikhlaskan dan ‘kabur’ saja.
Entah kenapa pada saat itu benar-benar mencerminkan kondisiku, yang selalu berkoar untuk ‘jangan pernah menghindar dari masalah’, tapi ternyata aku sendiri yang masih suka menghindari masalah. Selama ini masalah aku hindari baik dalam bentuk menganggap masalah itu tidak ada (Menekannya), menganggap masalah itu sepele, atau berusaha mencari ‘pelarian’ dari masalah tersebut, dengna bentuk amanah atau kegiatan lain yang bisa aku ikuti.
Dan aku disitu sadar bahwa menerima masalah bukanlah berarti melupakan atau menekan, menelan masalah itu bulat bulat. Menerima masalah adalah proses lama nan panjang, memilah masalah tersebut menjadi sub-masalah dan menelannya satu demi satu, tahap demi tahap, sedikit demi sedikit hingga akhirnya semua itu terserap dan dari setiap tahap sudah didapat langkah penyembuhannya. Hingga masalah tersebut sudah menjadi luka yang mengering, alih-alih di perban tapi tetap basah.
Kita semua punya masalah kita masing-masing namun kita cenderung untuk menghindarinya — atau bahkan melakukan justifikasi yang tidak rasional — akan masalah tersebut.
Salah satu langkah menghadapi masalah adalah menerima kesalahan dan menerima perbuatan orang lain akan masalah tersebut. Menerima ini sungguh berat, sungguh. Namun, memang itulah yang harus dilewati.
Kita yang sudah hidup terlalu lama dengan semua yang cepat nan instan, akhirnya berpola pikir “Bagaimana masalah ini bisa hilang dengan cepat”,”bagaimana rasa gundah ini bisa hilang dengan cepat” namun tidak menyelesaikan baik masalah maupun rasa itu secara utuh. Alhasil, penyembuhan yang instan namun hanya menyelimuti saja, tidak menyembuhkan.
Penerimaan ini berujung pada perubahan dan perbaikan diri pada setiap prosesnya.
Selayaknya di mata kuliah PPM, “Setiap proses harus menghasilkan added value”, maka setiap tahap dan masalah yang kita lewati harus membuat kita memiliki added value yang baru.
Memiliki hati baja dan dada yang lapang dalam menghadapi masalah, berarti hati itu perlu di tempa di tempat yang panas, dan dada itu harus siap dengan teriknya matahari,kan?
selamat dengan kita yang berkulum dengan masalah kita masing-masing.
Namun tentu ingat, seperti apa yang sering aku keluhkan sebelumnya, masalah itu datang dari keputusan kita masing-masing, sehingga perlu diingat bahwa kita sendirilah yang memilih langkah tersebut.
Semangat 😄
