Koin.

huft.

Beginilah, beginilah.

Sebagai serigala yang hidup di hutan yang luas, seorang serigala yang lapar, serigala yang haus. Mengapa serigala? karena aku melihat potensi yang ada, aku bergerak atas kegelisahan. Kulihat ke kanan, aku iri pada mereka. Mereka yang hidupnya bebas tanpa tekanan, bahagia tanpa hambatan, memiliki semuanya. Kulihat kekiri, aku iri pada mereka. Mereka yang hidupnya penuh dengan perjuangan, tidak pernah tersirat kata tenang dalam hidupnya, tidak memiliki semuanya.

Manusia yang memiliki semuanya, tidak memiliki apapun.

Manusia yang tidak memiliki apapun, memiliki semuanya.

Aku — penempaanku, apa kabar?

Kabarku buruk, sangat buruk.

Kabarku baik, sangat baik.

Raga? hancur. Tidak karuan, mata yang selalu berkantung, bibir yang selalu kering dan berdarah, kulit yang menghitam, kering.

Fikiran? Meluap. Lalu lintas otak yang padat, penuh dengan pemahaman yang terus mengonggong satu dengan lainnya, melahap yang satu dengan lainnya, saling meninggikan, saling meng-egokan. Penuh dengan air-air idealisme, yang berusaha mengubahku menjadi seperti salah satu darinya. Otak yang terbuka terlalu lebar, menerima semua tanggapan dan mengeluarkan semua kegelisahan.

Jiwa? ya. Hanya jiwa yang masih bertahan hingga kali ini. Jiwa yang membuatku menjadi diriku, jiwa yang membuat mu melihatku.

Kabarku sangat buruk, aku tidak lagi bisa tidur dengan tenang. Tidak lagi bisa bermain dengan riang.

Kabarku sangat baik, aku ditempa sangat beragam dan sangat berat. Penempaan ini bukan penempaan fisik, melainkan penempaan jiwa dan fikiran.

Sebelum ini , aku tidak punya kesempatan untuk menulis. mengapa? aku terlalu asyik, terlalu asyik dalam wahana kecil ini yang kusebut dunia. Aku menghadapi 10 wahana, yang berbeda-beda, dalam satu waktu. Siapa yang meminta ini? aku. Aku yang mencantumkan namaku ketika open recruitment dibuka. Aku yang mengajukan diri ketika aku merasa itu sebuah masalah yang harus ada solusinya. 7 amanah kupegang dengan nama (aku benci menyebut dengan nama ini ) ‘jabatan’ , dan 3 amanah yang harus kuselesaikan.

Aku, egois memang.

Penempaan diri ini menguras banyak sekali tenaga, banyak sekali waktu.

Aku jadi ingat, perumpamaan yang sangat terkenal, yang sangat berguna menurutku :

“anda punya 3 bagian dalam hidup anda; kemahasiswaan, akademik, atau diri anda sendiri. Anda hanya bisa memilih 2 dari 3”

Aku memilih 2, dan kukorbankan diriku. Kulempar diri ini ke tanah yang dingin, agar aku bisa bangkit kembali menjadi tanah yang lebih kuat dari sebelumnya. Menjadi manusia yang lebih berguna dari sebelumnya.

Kubuang keegoisan akan diriku, dan telah kucoba bagaimana ketika kutempa diri ini hingga batasnya. Kuangkat idealisme yang selama ini kutempa, menjadi seorang generalist.

Penempaan ini tidak pernah berjalan dengan mulus , tidak. Walaupun persiapan sudah kuanggap matang, nyatanya masih saja ada yang kurang. Pengarungan samudra yang luas, dinginnya hutan malam yang gelap — semua perumpamaan ini dapat menggambarkan kondisi-kondisiku beberapa bulan terakhir.

Penempaan ini membuahkan hasil? tentu. Banyak yang mengatakan “untuk apa ikut kepanitiaan sebanyak ini dy? ingin eksis? gaada gunanya gaada bedanya aku sama kamu yang ikut kepanitiaan” Nyatanya aku tidak datang kesana untuk mendapatkan itu, aku ingin melatih diriku. Menempa diriku sampai batas akhir sampai mana aku akan patah, dan ternyata sampai saat ini aku belum.

Hampir.

Patah.

Penempaan ini, membuatku menyadari bahwa waktu itu sangatlah singkat, sangatlah berharga.

Penuh dengan lumpur aku dahulu, kebangkitan yang baru telah menunggu.

Like what you read? Give Geody Gantira a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.