Jantung yang Akan Selalu Berdetak.
Sudah dua tahun lamanya sejak pertama kali saya datang untuk melanjutkan pendidikan saya di tanah ini.
Tanah dengan ribuan cerita hebat yang menyelimutinya, menjadikan tempat ini kuil untuk para pembelajar sejati.
Banyak yang membanggakan bahwa tanah ini adalah almamater dari sang proklamator atau mungkin ada juga yang membanggakan bahwa tanah ini adalah tempat terbaik untuk dapat menimba ilmu eksak dan juga memahami perkembangan teknologi.
Paling tidak untuk saya pribadi, saya datang dengan semangat yang dibangun dari cerita-cerita yang diberikan oleh kedua orang tua saya bahwa tanah ini adalah tanah dimana para kaum muda membela kebenaran (dengan semangat yang bahkan pemadam kebakaran terbaikpun tak akan bisa memadamkannya) untuk kemudian ditangkap, dilepaskan, lalu ditangkap kembali.
Tapi itu semua adalah cerita para pendahulu. Di detik kita semua menginjakkan kaki disini, sudah seharusnya kita juga merangkai sebuah cerita yang didasarkan pada perjalanan diri kita masing-masing, cerita yang akan kita tinggalkan untuk kemudian diceritakan kembali sampai Bumi tak lagi layak untuk menjadi tempat hidup manusia(dan setelah itu pun mereka akan tetap bercerita). Lantas terkadang timbul pertanyaan, secara sadar maupun tidak sadar, harus melakukan apa? Cerita apa yang harus ditinggalkan? Atau mungkin (yang lebih disayangkan adalah) apakah terkadang kita merasa tak bernyawa dan tanpa arah di dalam perjalanan ini?
supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, ilmu, dan teknologi;
Belajar adalah satu hal paling sederhana yang harus dilakukan, dalam kasus kita, sebagai mahasiswa. Proses belajar yang terjadi melebihi apa yang terjadi di dalam ruang kelas, proses belajar ini dapat terjadi melalui diskusi antar sesama teman seperjuangan di meja-meja himpunan atau juga dengan eksplorasi ilmu secara mandiri dengan menyelami buku-buku tebal yang terlelap di dalam perpustakaan, dan banyak cara-cara lainnya (dan semestinya tidak terpaku pada satu cara saja)! Jadi pastikan kita semua dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk menunjang proses pembelajaran kita.
Sains, ilmu, dan teknologi yang harus kita pelajari itu, seperti bagaimana sudah saya tulis sebelumnya, adalah bekal kita untuk membangun bangsa di kemudian hari. Jikalau negara ini dapat mempunyai harapan untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi negara sejahtera seperti yang diharapkan, maka harapan itu adalah kita.
supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya;
Yang membaca disini ada yang pernah ikut diklat? Pasti familiar dengan pernyataan yang tertera di atas.
Merugilah orang-orang yang selalu merasa cukup (dan tolong bedakan merasa cukup dengan bersyukur) tanpa api semangat untuk terus berkembang.
Bertanya adalah hulu dari sungai wawasan dan ilmu pengetahuan. Dengan mempertanyakan, kita memulai sebuah petualangan untuk menemukan sebuah penyelesaian, obat pereda dari rasa keingintahuan, sebuah jawaban. Dengan mempertanyakan, kita membuka diri pada hal-hal yang berada di luar bingkai berpikir kita.
Tapi dengan banyak mempertanyakan bukan berarti kita asal bertanya! Pastikan kita terlebih dahulu mengenali dan memahami situasi serta kondisi yang berlangsung sehingga pertanyaan yang kita ajukan pun sesuai dengan konteks.
supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian;
Berkali-kali kita diberitahu bahwa kita semua tidak ada samanya dengan sebuah robot yang hanya bisa menerima dan menjalankan perintah. Bahwa kita semua adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan menyuarakan pikiran. Bahwa kita semua adalah manusia yang secara bebas (tanpa melanggar norma dan aturan) hidup sesuai prinsip-prinsip yang kita percayai.
Setiap langkah dan setiap tindakan yang kita lakukan didasarkan pada nilai-nilai yang terbangun dari penafsiran kita terhadap keseharian yang kita jalani. Penafsiran itu menghasilkan apa saja yang benar dan apa saja yang salah (menurut kita).
Dan maka dari itu, setiap manusia adalah dirinya sendiri. Setiap manusia adalah manusia merdeka!
supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.
Kalau dari awal saya hanya menyinggung kewajiban kita sebagai seorang pembangun, punten ternyata ada lagi.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dari elemennya yang paling kecil mampu bahu membahu menyokong satu sama lain.
Negeri ini adalah tambang rezeki yang berbeda di setiap daerahnya.
Gunakan otakmu untuk membangun dan hatimu untuk mempersatukan.
Dan biarkan keringatmu menjadi bayarannya.
Tempat ini diberi nama
Plaza Widya Nusantara
supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, ilmu, dan teknologi;
supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya;
supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian;
supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.
Bandung, 28 Desember 1996
Rektor Institut Teknologi Bandung
Prof. Wiranto Arismunandar
Plaza Widya Nusantara adalah jantung yang akan selalu berdetak.
Dan selamanya memompa darah perjuangan ke setiap sudut Tanah Ganesha.
Ditulis oleh:
Garindra R. M. Abrari
13617033
Mulai: 22 Agustus 2019
Akhir: 8 November 2019
