Apa Fungsi Instagram Stories?

Saya tergolong orang yang sangat rajin memperbarui aplikasi-aplikasi jika ada permberitahuan untuk memperbarui muncul di layar gawai saya. Lantas saya klik tombol “Update All” untuk memperbarui semua aplikasi yang ada dengan sekali sentuh saja, tanpa perlu repot melihat perubahan (change log) apa yang dibubuhkan pada pembaruan-pembaruan itu. Sangat sering pembaruan-pembaruan itu hanya remeh saja, bukan perubahan besar yang kasat mata.

Namun saya temui pembaruan yang cukup besar dalam satu aplikasi, Instagram. Saat saya buka aplikasi berbagi gambar ini, terlihat ada yang ganjil dengan tampilan antarmukanya. Ada bulatan-bulatan asing bertengger di sisi atas aplikasi.

Tanggal 2 Agustus kemarin Instagram resmi meluncurkan fitur baru yang dinamakan Stories. Fitur yang memungkinkan pengguna untuk menggunggah gambar atau video yang tak akan kekal, hanya punya waktu 24 jam sampai akhirnya gambar atau video tersebut terhapus secara otomatis. Singkat cerita, satu kata, Snapchat.

Ya, fitur ini sebelas dua belas dengan fitur unggulan utama dari media sosial yang lagi digandrungi anak muda milenial masa kini, Snapchat. Boleh kita unggah gambar swafoto tanpa filter pemercantik apapun dengan bebas, toh nanti juga bakal terhapus sendiri. Ide ini yang membuat Snapchat menjadi media sosial yang mempunyai sisi uniknya. Lantas ide ini ditiru oleh Instagram melalui fitur barunya, Stories.

Terlepas dari tindakan copycat-nya, saya sangat suka fitur Stories ini diterapkan dalam Instagram. Serius. Dalam satu hari saya bisa mengunggah hampir satu lusin gambar atau video dalam Stories saya. Sebelum ada fitur Stories ini, dalam seminggu mungkin hanya satu gambar saya unggah di Instagram. Gambar pemandangan, foto anak dan keluarga, dan foto lain yang sudah lolos uji “layak unggah” dalam takaran saya pribadi. Sebelum ada fitur Stories, Instagram adalah tempat unggahan yang paling berkualitas milik saya. Instagram adalah semacam museum yang saya punya dan semua orang boleh mengunjunginya pula mereka puas setelah mengunjunginya. Tak akan pernah kautemui foto swafoto saya, karena saya sadar betul gambar muka saya tak layak pandang dalam jangka waktu pendek atau pun panjang. Sampai di sini saya berharap ada yang berpikiran, “Nggak kok, kamu ganteng.”

Jika ditilik dari takaran kualitas konten unggahan yang diunggah dalam media sosial besar masa kini, saya menempatkan Instagram pada nomor teratas, kemudian Facebook, Twitter, dan yang terakhir adalah Snapchat. Setelah Instagram meluncurkan fitur Stories, media sosial ini menjadi seperti membelah diri. Membuat wadah lain bagi pengguna untuk tak perlu acuh pada kualitas konten unggahan. Tak usah ribet memilah gambar swafoto mana yang paling tampak elok dipandang, sibuk memilih filter gambar, mengatur kecerahan gambar supaya kulit tak tampak pucat atau kusut, dan sebagainya.

Instagram yang berorientasi pada kualitas konten unggahan mengeluarkan fitur Stories yang berorientasi sebaliknya. Jadi apa fungsi fitur Instagram Stories?

Pendapat saya, jika Instagram diibaratkan sebagai sebuah lukisan yang indah, maka Instagram Stories adalah nukilan-nukilan peristiwa yang direkam dalam upaya membuat lukisan indah tersebut. Atau dalam analogi lain, Instagram ini adalah produk akhir, sementara Instagram Stories adalah behind the scene pembuatan produknya.

Saya unggah foto dalam Instagram pemandangan gunung kala matahari tenggelam dengan gradasi warna yang sangat cantik. Dalam Instagram Stories, saya unggah persiapan saya untuk mengambil gambar cantik tersebut. Memfoto perlengakan untuk naik ke gunung, mengambil gambar kaki pertama kali melangkah ke gunung, berswafoto saat melewati pepohonan rindang, dan sebagainya.

Saya pikir begitulah fungsinya. Instagram Stories, gambar yang bercerita.