Wanita

Kamu adalah wanita, dan terkadang hanya itulah yang identitas yang bisa kamu kenakan.

Dalam segala keunikan dan keabstrakannya, kamu adalah wanita.

Kamu adalah manusia yang bergerak dengan hormonmu, bukan dengan hatimu. Kamu adalah ibu; kehidupan yang menciptakan kehidupan.

Kamu adalah wanita. Cukup satu itu saja.

Kamu tidak akan pernah bisa menjadi dua. Tidak ada “wanita yang mandiri” dan “wanita yang cerdas”. Kamu hanya boleh memilih satu.

Kamu tidak akan pernah bisa menjadi “ambisius” dan “manja”. Seberapapun jauhnya sifat-sifatmu itu terpisah, kamu hanya bisa punya satu. Kamu hanya boleh mengenakan satu.

“Dan” bukan untukmu. Kata sambung itu tidak pernah boleh menjadi aksesorismu. Dunia akan menyodorkan “atau”. Pria akan melemparkan “atau”. Ingat, hanya boleh satu.

Pria mudah lupa bahwa kamu adalah dua kutub yang merotasi dunia ini. Bahwa pilihan kamu tidak hanya ditentukan oleh hati atau otak. Kamu mampu menanggalkan keduanya. Kamu mampu memihak keduanya.

Dalam singularitasnya, dunia mengajak kamu untuk mengurutkan apa yang seharusnya sejajar dan berjalan bersama-sama. Kejamakanmu bukan lagi milikmu sepenuhnya. Kamu mesti memilih satu. Kamu mesti menentukan apakah ia di atas atau di bawah. Tapi tempat di atas itu hanya ilusi belaka. Sekali lagi kamu mesti memilih satu. Dan pilihanmu mesti di bawah.

Tempat yang kamu terpaksa sisakan itu harus kamu kosongkan untuk diisi oleh pria. Ilusi pria memberikan mimpi bahwa kamulah yang wajib menyisihkan ruang dalam kewanitaanmu itu demi mereka. Padahal dalam kerasnya batu yang mereka sebut hati itu, kamu sendirilah yang menyusup, mencari celah-celah halus untuk masuk dan menempatkan diri kamu untuk menjaga batu itu tetap utuh.

Dalam singularitasnya, dunia lupa bahwa berkembang biak lebih penting daripada berpasang-pasangan. Dunia mendikte dan menghakimi kesendirianmu. Mereka lupa bahwa hanya kamu, wanita, yang bisa menyimpan dua jantung yang berdetak sendiri-sendiri di dalam tubuhmu.

Sesungguhnya kamu adalah bintang-bintang yang bertabrakan, menjadi satu dalam lubang hitam yang tak berdasar. Lubangmu mampu menyerap setiap energi, emosi, peran, kata. Sendiri.

Dunia lupa bahwa seperti kamu, Tuhan juga sendiri. Kita menyebutnya Tuhan karena dalam kesendiriannya, mampu menjadi banyak hal, melakukan banyak hal, merasakan banyak hal. Doa-doamu yang ribuan kali kau ucapkan setiap hari itu semua ia dengar. Satu-persatu ia jawab.

Karena itu seperti halnya Tuhan, sebutlah dirimu wanita. Pilihan-pilihanmu hanya untukmu. Dengan “hanya” menjadi wanita kamu tidak perlu membagi-bagi kejamakanmu. Wanita adalah air yang mengalir. Wanita adalah angin yang berhembus. Di mana-mana. Kemana-mana.

(also posted on my long forgotten wordpress: gebianca.wordpress.com)

Like what you read? Give Georgine Bianca a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.