Pic created by Davro

Berbeda, tidak harus Bermusuhan

Di masa mudanya ada dua orang yang selalu bersimpang jalan.

Yang satu seorang orator, pemuda penakluk wanita yang sangat percaya dengan agitasi masa dan konfrontasi revolusioner. Pemuda yang percaya agama dan komunisme bisa duduk semeja. Ia mengejek pemuda yang satu lagi karena berjuang melawan Belanda namun malah bersekolah di negeri kincir angin itu.

Yang satu lagi seorang pemikir dengan penampilan sederhana namun terkenal dengan tulisan setajam pisau. Seorang pemuda yang sangat taat beragama dan anti komunisme. Ia sering mengkritik sang pemuda orator karena cara-cara revolusioner hanya membuat perjuangan cepat patah. Apalagi sang orator lalu dijebloskan ke bui, tak henti-hentinya ia mengulas kelemahan strategi sang macan panggung.

Dua orang yang berbeda ini dijodohkan sejarah menjadi Sang Dwi Tunggal yang menandai kelahiran Indonesia.

Perbedaan diantara dua orang ini tidak pernah berhenti, namun tidak menjadikan mereka bermusuhan yang saling mempermalukan dengan menyerang pribadi. Sebaliknya, perbedaan cara pikir malah menjadikan mereka dua pribadi yang saling menyayangi.

Sang orator penakluk wanita malah mencarikan jodoh si pemikir yang tidak mudah mendekati wanita.

Saat di hari tuanya sang orator tua terbaring sakit tak berdaya dan diasingkan, sang pemikir tua sering menemani berbincang sambil mengenggam tangannya. Dan sering tampak ia pulang berlinang air mata.

Berbeda, tidak harus bermusuhan. Malah harusnya saling mengisi.

Bisakah kita belajar dan lebih baik dari itu?

ps. Thanks bro Davro Rorimpandey, gambarmu menginspirasiku

Like what you read? Give Gede Manggala a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.