Lahirnya sebuah kesombongan

Awalnya saya adalah peminum kopi sosial. Hanya ngopi kalau bertamu ataupun nongkrong sama temen-temen. Saya tidak bisa membedakan kopi sachet, kopi luwak, kopi mahal atau kopi tubruk. Di rumah sendiri saya ngopi mungkin sekali dalam 5 tahun:)

Sampai sekitar setahun lalu…

Beberapa teman baik saya ada yang pencinta kopi dan punya kebiasaan nongkrong di tempat ngopi eksotik. Kedai kopi kecil-kecil yang fansnya bejubel. Lambat laun lidah saya mulai bisa menikmati kopi yang “beneran” enak. Lidah saya mengalami “pencerahan”, hidung pun mengalami “upgrade”! Bau kopi yang enak saya tau sekarang, huh!

Dengan terbukanya sebuah dunia baru bernama kopi enak (dan relatif murah), saya mulai merasa minum kopi di kedai yang “itu tuu” seperti minum “air gula”. Uweeek! Udah ga enak, mahal lagi! Eh malah orang-orang kok malah ngantre di situ? Dasar orang-orang bodoh!

Saya mulai merasa perlu untuk menyelamatkan teman-teman baik saya yang masih “tersesat” di kedai kopi mahal dan ga enak itu. Saya yang merasa menemukan kemurnian dalam menikmati kopi, merasa sangat penting untuk memberitahu dan sering memaksa mereka untuk segera mengikuti jejak saya. Saya memulai misi untuk menyadarkan lebih banyak orang. Dunia harus saya selamatkan!

Sayangnya lebih banyak yang nyuekin saya. Dan kepada mereka saya memandang rendah…”dasar bloon!” Dikasi tau yang bagus, ngga mau dengerin. Semoga kau menderita bersama kopi mahalmu itu!!!

Sayangnya, saya lihat kok mereka yang di kedai itu hepi-hepi aja menikmati kopi mahal dan ga enak itu. Kok mereka ngga menderita? Kok saya yang menderita melihat mereka hepi di kedai mahal itu?

Trus, kok temen-temen baik saya pencinta kopi sejati juga santai aja ngopi di tempat itu? Bagi mereka, ngopi ya santai aja, mau di tempat enak atau yang mahal, bukan masalah. Enjoy aja. Temen-temen saya ini tetep menikmati kopi tanpa perlu menceramahi orang yang seleranya beda.

Lalu kenapa juga saya yang baru tahu rasa kopi sedikit, sok-sokan merasa paling tahu kopi? Punya pengalaman jadi petani kopi belum, jadi barista belum, malah beli kopi pun ga jauh-jauh dari capuccino atau affogato doang? Kenapa saya jadi merasa paling ngerti masalah kopi?

Akhir cerita, saya putusin untuk asik-asik aja deh. Saya tetep beli kopi di tempat yang enak tapi murah itu. Tapi saya berhenti ngurusin orang yang seleranya ngga sama dan tidak pernah lagi melihat yang beda “aliran” sebagai lebih rendah, lebih bloon, lebih-lebih sampai harus diselamatkan…

Oooh ini toh yang disebut “Holier Than Thou Syndrome” :P

Like what you read? Give Gede Manggala a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.