This picture I got from http://www.rosianadewi.com/2014/10/kumpulan-foto-gambar-dp-bbm-bertemakan.html

Merindu Indonesia Bersatu

Saya tak tahu persis persis apa yang terjadi hari itu, 28 Oktober 1928.

Yang pasti Poetoesan Kongres bahwa
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia bertoempah darah satoe, berbangsa satoe, menjunjung bahasa persatoean: INDONESIA”,
sekarang ini kita kenang sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Yang sering kita lupakan sekarang, menyebut kata Indonesia saat itu sering berujung penjara, bahkan ada yang sampai meregang nyawa.

Yang juga sering kita lupakan sekarang, kongres itu dihadiri wakil Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, dan tokoh-tokoh pergerakan saat itu. Hari pertama kongres menggunakan gedung pemuda Katolik. Lirik Indonesia Raya dimuat pertama kali di koran warga Tionghoa. Semua golongan memberanikan diri mengambil resiko demi sebuah keinginan bersatu dalam sebuah ide. Berbagai suku, agama, ras berkumpul untuk bersumpah bahwa kita adalah SATU. Ada yang FINAL disitu, dan kita sebut ide itu INDONESIA.

Sampai saat itu bahkan mereka belum yakin apa itu Indonesia, bahkan bahasa Indonesia masih dalam perdebatan. Sampai penutupan kongres, sebagian peserta masih menggunakan Bahasa Belanda, sebagian Bahasa Jawa, sebagian lagi Bahasa Melayu.

Bersatu memerlukan kebesaran hati untuk menerima bahwa kita semua berbeda; tapi disaat bersamaan kita memiliki kesadaran bersama bahwa kita punya satu hal yang final. Dan itu bernama INDONESIA.

Dengan berpikir seperti itu, kita bisa move on ke perjalanan selanjutnya yang lebih penting, yaitu membangun Indonesia.

Coba bayangkan kalau Jong Java dan Jong Ambon ngotot ngga mau terima bahasa Melayu jadi bahasa Indonesia…atau setiap kali berdebat kita kembali mempermasalahkan perbedaan itu. Kenapa (misalnya) bukan bahasa Jawa yang dijadikan bahasa persatuan? Padahal “Djawa adalah koenci!”

Sekali lagi, Bangsa Indonesia sudah final dengan keputusan itu. Kita perlu move on.

Di dalam berbangsa ada hal yang terbuka diperdebatkan, ada yang final.
Golongan pencinta Duren (misalnya saya), dan golongsn pencinta Salak (misalnya istri saya) berhak menikmati kesukaan masing-masing. Tidak ada gunanya saya menceritakan berulang-ulang tentang 7 keajaiban Duren (I did try) dan mati-matian menggoda sampai memaksa agar ia ikut golongan saya. Dan tidak ada manfaatnya saya mencemooh kecintaan istri saya akan Salak atau mengancam agar ia segera berhenti menyukai Salak. Walaupun berbeda dalam hal itu, kami sudah punya keputusan yang final yakni hidup sebagai Bangsa Indonesia, dan pasangan suami-istri. Tidak ada gunanya setiap berdebat, saya dan istri kembali membahas perbedaan pandangan mengenai khasiat Duren dan Salak. Oleh karenanya kami bisa move on dan produktif (sehingga lahirlah “the krucils”) :D

Di dalam bernegara ada hal yang terbuka dan ada yang final. Setiap warga negara berhak dan wajib mengkritik pemerintah, DPR atau lembaga peradilan. Wajar kalau kita kecewa dan menuntut. Wajar juga kalau kita senang dan memuji. Mereka bisa salah, bisa benar, dan kita membayar pajak.

Tapi ada yang final. Hasil pemilu sudah menentukan Presiden, Ketua DPR dan Ketua MPR. Untuk saat ini seberapa besar pun ketidaksukaan kita kepada hasil final itu, sepanjang kita masih pegang paspor Indonesia atau mengaku WNI, kita harus terima hasil tersebut. Ini juga kita sebut sebagai kedewasaan bernegara dan berpolitik.

Jangan sampai setiap kali berdebat, kita kembali kepada titik bahwa “presiden pilihanku si A bukan di B.” Setiap kali tidak setuju dengan strategi pemerintahan yang sah, selalu berujung dengan dua keinginan ini: mengganti kepala pemerintahan atau menyatakan tidak ikut lagi dalam kontribusi pembangunan.

Hal itu sudah tidak relevan lagi, kawan!

Kebijakan pemerintah kalau jelek, kita kritik bareng-bareng. Kalau bagus kita dukung. Kalau menyimpang kita luruskan.Ini negara milik kita bersama. Kita yang harus bangun. Move on. Jangan kita selalu kembali muter-muter ke titik yang itu-itu lagi. Atau malah saling sabotase.

Apa ngga kapok kita diketawain bangsa lain? Lihat dong indeks pembangunan atau indeks competitiveness kita!

Pemerintah itu berganti-ganti, tapi Bangsa dan Negara kita hanya satu dan sudah final. Indonesia.

Berbeda dan berdebat silahkan, tapi yang final jangan kita utak utik lagi.
Tidak usah terlalu fokus sama siapa nahkodanya, karena ia manusia juga. Tapi jangan kita saling sabotase di kapal yang sama. Yang ada kita tenggelam bareng-bareng. Fokus kita adalah kapal ini milik bareng-bareng. Kita harus produktif.

Satu lagi, kalau sudah sepakat kita adalah Bangsa Indonesia, berarti kita sepakat bahwa negara kita menggunakan dasar Pancasila dan UUD 1945.
Kalau ada orang yang mau ganti negara Indonesia menjadi negara yang membenci perbedaan, mari kita hajar bareng-bareng.
Karena itu sudah final.
1928 kita bersumpah.
1945 kita jadikan dasar negara; kita jadikan konstitusi.

Era sekarang seharusnya kita gunakan untuk produktif. Menghasilkan sesuatu yang berguna buat keluarga, masyarakat dan bangsa.

Itu baru merdeka.

— — —

Sebelumnya minta maaf terlebih dulu saya menggunakan gambar di atas dari hasil pencarian di Google. Mudah-mudahan diijinkan sang pencipta gambar.