Productivity Diary #7: Menulis Obituari Saya Sendiri

Setelah diary #6, ini productivity diary yang ke 7 dan terakhir. Diari ini diawali dengan obituari saya (yang saya tulis sendiri).

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Gede Manggala, pria ini menjalani hidup bahagia dalam masa hidupnya. Ia mengakui dan menerima semua kekurangan, kegagalan, dan keterbatasannya sebagai pernak-pernik hidup yang perlu untuk melengkapi semua kesenangan dan kenikmatan untuk menjadikan hidupnya sebagai dongeng yang luar biasa.

Perbedaan adalah keindahan

Gede sangat mencintai dan dicintai keluarganya. Dalam keluarga yang layaknya versi mini dari Bhinneka Tunggal Ika, ia dikenang sebagai orang yang melihat perbedaan dan keberagaman sebagai warna-warni yang membuat keluarga lebih indah; bukan melihat perbedaan sebagai hal yang memisahkan dan membuat retak. Pria ini selalu bersyukur mempunyai keluarga besar yang menjadi sumber kekuatan hidupnya.

Learning is so much fun, so enjoy it and never give up in the journey!

Jika kita tanya putra-putrinya tentang sang ayah, semua kompak menjawab bahwa yang mereka paling ingat tentang ayahnya adalah kata-kata, “learning is so much fun!” Sang putri masih ingat bagaimana sang ayah selalu mendorongnya untuk menikmati segala hal sebagai pembelajaran. Hal-hal yang diajarkan di sekolah, dan semua fenomena yang ditemui di sekitar rumah. Matematika, bahasa, fisika, biologi, kimia. Menikmati melukis dan menyanyi. Belajar tentang rumah semut di pekarangan dan asal-usul hujan. Kalau menurut sang putra, hal yang paling ia ingat adalah menyanyikan bersama-sama lagu “kebangsaan” sang ayah yang liriknya:

I get knocked down, but I get up again | you’re never going to keep me down…

Warisan terbesar ayahnya menurut sang anak adalah bagaimana arti sukses. Menurut sang ayah: SUKSES adalah saat kita jatuh sepuluh kali, lalu kita bisa bangun sebelas kali dan tidak pernah berhenti mengambil hikmah dari setiap kejadian itu.

Knowledge based society

Bagi sahabat dan koleganya, Gede dikenal sebagai orang yang turut mempunyai peran dalam menyebarluaskan knowledge based society, cara berpikir dan bertindak yang menggunakan sistematika berpikir berdasarkan data dan fakta untuk memperbaiki keadaan sekitar secara terus-menerus. Bersama teman dan koleganya, ia menulis, memberikan training, memberikan konsultasi dalam menerapkan prinsip itu di berbagai organisasi.

If you don’t like what you see, create your own. Simplify and make it fun!

Pria yang lahir dan dibesarkan di Singaraja (Bali) ini juga sejak masa mudanya dikenal gemar berkolaborasi dengan orang dari berbagai latar belakang keahlian seperti desainer grafis, penulis, kartunis, pelukis, pembuat video, ataupun musisi untuk mencoba berbagai proyek yang bertujuan membuat eksperimen berbagai hal penting yang sering tersembunyi, dianggap membosankan, atau “ditakuti” karena dianggap terlalu serius menjadi lebih mudah dicerna karena dibuat dengan lebih ringan, lebih simpel dan lebih enak dibaca serta ditonton.

Bermula dari ketidaksukaannya melihat toko buku didominasi buku-buku tentang “revolusi uang”, “pensiun muda kaya raya”, sampai “cara instan jadi milyuner”… bersama teman-temannya yang satu ide, Gede terlibat dalam berbagai proyek. Awalnya menulis beberapa buku dan perlahan-lahan menjadi multi-media contents dari video, musik, sampai e-learning/online course. Content yang digarap mulai dari topik problem solving, musik non-mainstream, SOP (standard operating procedures), tentang tempat-tempat indah di Bali yang belum populer (Bali Utara, Timur, Barat), tentang berbagai kopi asli Indonesia, ikut membuat “syarat & ketentuan” berbagai produk asuransi dan kartu kredit menjadi mudah dipahami dengan bahasa visual, sampai terlibat dalam penyederhanaan proses dan peraturan di rumah sakit, pemerintahan dan juga proses pembuatan undang-undang dan bahasa yang digunakan. Apa yang ia dan beberapa orang mulai dengan gerakan #simplicity101 akhirnya menjadi sebuah gerakan yang dilakukan banyak orang dan turut berkontribusi pada sistem birokrasi Indonesia yang sangat efisien.

The journey is the reward

Dalam mencoba berbagai hal itu, tidak sedikit akivitas itu yang tersendat atau sangat struggling agar bisa selesai. Yang menarik adalah jawabannya ketika ditanya apakah ada eksperimen yang ia pernah sesali?

“Semua aktivitas, kolaborasi, eksperimen dan struggle itu memberikan saya sahabat dan pengalaman yang sangat berharga. Uang bisa diambil atau habis digunakan. Harta tidak bisa saya bawa setiap saat. Berbeda dengan pengalaman yang tidak akan habis atau bisa diambil. Semua tersimpan di dalam pikiran, hati dan jiwa saya…”

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Obituari ini saya tulis sebagai satu kesatuan dengan usaha saya menjadi lebih produktif. Ada beberapa prinsip yang mendasari kenapa sebuah obituari (yang kita tulis sendiri) bisa membantu saya:

  • Yang pertama adalah salah satu prinsip yang diperkenalkan oleh Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People yakni Begin with the End in Mind. Jadi kenapa tidak saya mulai dengan membayangkan bagian “the end” saya?
  • Yang kedua adalah Victor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning yang salah satunya mengulas bahwa setiap orang akan jauh lebih memahami makna hidupnya dengan “looking back from the deathbed”. Membayangkan kilas balik hidup kita saat kita berbaring menunggu ajal. Apa yang kita syukuri? Apa yang akan membuat kita berbaring tenang, tersenyum, dan siap?
  • How do you want to be remembered? Di tahun 1888, Ludvig Nobel meninggal di Perancis. Salah satu koran lokal di sana salah persepsi mengira yang meninggal adalah saudaranya, Alfred Nobel, sang penemu dinamit. Koran di Perancis itu membuat sebuah obituari yang antara lain menuliskan: “Sang saudagar kematian telah meninggal. Dr. Alfred Nobel, orang yang menjadi kaya karena menemukan cara membunuh manusia jauh lebih cepat, telah meninggal kemarin”. Terkejut dan tidak terima dengan berita itu, Alfred Nobel bertekad untuk mengubah jalan hidupnya, lalu menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk orang-orang yang telah berjasa memberikan kemajuan untuk berbagai bidang seperti fisika, kedokeran ataupun perdamaian. Hari ini sebagian besar orang mengenang Nobel karena sumbangannya pada kemajuan ilmu dan perdamaian dunia, bukan sebagai saudagar kematian akibat dinamit ciptaannya. Buat saya, pertanyaan ini menarik: kita ingin dikenang seperti apa? Apa yang bisa saya lakukan mulai dari sekarang?

Teman-teman, terima kasih sudah membaca catatan kecil saya. Sekali lagi, tulisan ini bukanlah kisah sukses, namun merupakan catatan pengingat saya pribadi yang saya bagikan dengan harapan mungkin ada teman saya yang mendapatkan manfaat ataupun bisa memberikan cara yang lebih baik.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.