Emosi!

Seperti lazimnya orang kebanyakan, saya ini juga menggemari sepak bola. Meski ukurannya bukan dalam hal bermain, melainkan hanya menonton saja.

Tak peduli jenis atau model kompetisi apa pun. Liga Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Belanda, Indonesia, Piala Dunia, Liga Champions, DFB Pokal, Copa del Rey, Piala FA, Carling, hingga tarkam, asal namanya masih sepak bola kemungkinan akan saya tonton.

Kadar kepenontonan saya memang belum penuh kalau ukurannya pengetahuan persepakbolaan. Tak banyak lagu-lagu klub sepak bola yang saya hafal.

Okelah nada lagu ‘Iwak Peyek’ saya hafal, tapi lainnya samar-samar. Koleksi jersey saya pun tak seberapa jumlahnya, bahkan masih kalah dengan koleksi milik bapak saya. Singkatnya, saya ini masih kategori penonton belum kelar digosok, alias masih setengah kinclong.

Namun demikian ada satu hal yang selalu hadir dalam diri saya saat menonton bola, emosi. Perasaan yang sama dan tidak berubah dari semasa saya menjadi ‘hooligan’ tim bola di kampung saya pada awal 90-an, sampai sekarang, meski hanya sekadar mengunjungi stadion tertentu.

Gembiranya hati saya saat menyaksikan Stadion Sanggeng di Manokwari untuk kali pertama, sama persis saat menyambangi Stadion Santa Giuliana Perugia yang menjadi saksi kesuksesan A.C Perugia promosi ke Serie A Italia tahun 1975.

Kegembiraan yang membuncah saat David Trezeguet mencetak golden goal penentu kemenangan Prancis atas Italia di Final Euro 2000, mungkin sama halnya dengan suasana hati penggemar tinju saat menyaksikan Mike Tyson meng-KO Andrew Golota di tahun yang sama.

Semua karena emosi selaku penikmat pertandingan. “Namanya suporter sepak bola itu ya pakai emosi, bukan logika,” ujar kolega saya yang sarjana hukum sekaligus pentolan kelompok suporter salah satu klub sepak bola.

Toh namanya emosi tak selalu berkonotasi buruk saja. Bisa senang, sedih, marah dan lain sebagainya. Namun, beberapa tahun belakangan ini emosi saya teraduk-aduk manakala turut menyaksikan ruwetnya persepakbolaan Indonesia.

Gembira karena beberapa kali Timnas dan klub yang saya dukung berprestasi, tetapi juga sedih dan marah karena beberapa kali organisasi yang menaungi sepak bola Tanah Air berkonflik entah internal maupun eksternal yang seolah tak selesai-selesai. Saya kira perasaan semacam itu wajar adanya bagi suporter, termasuk saya.

Belakangan konflik kembali melebar.

Kementerian Pemuda dan Olahraga membekukan PSSI. Kompetisi terhenti, tak tahu kapan dimulai lagi. PSSI tak terima, kirim surat ke FIFA, dan menggugat ke pengadilan.

Pemain kelabakan, klub kalang kabut, suporter lagi-lagi, emosi! Entah siapa yang benar, yang jelas kompetisi sepak bola nasional saat ini berhenti.

“Kebenaran itu punya banyak mata,” ujar seorang alumnus jurusan filsafat dari salah satu perguruan tinggi ternama yang juga kawan dekat saya. Kalau apa yang dilakukan Menpora Imam Nahrawi bersama Tim Transisi itu dapat membawa kebaikan bagi persepakbolaan Indonesia, tentu saja suporter macam saya ini akan mendukung.

Apalagi melihat profil anggota tim yang tergolong menjanjikan, meski sejumlah tokoh belakangan memilih mundur.

Begitu pula dengan PSSI di bawah pimpinan La Nyalla Mattalitti. Jika memang yakin berada di jalan yang benar dan bisa menyelamatkan sepak bola Indonesia tentulah 100% saya ikut mendukung.

Kalaupun tidak keduanya, siapapun lah yang bisa, pasti akan saya dukung juga. Silakan mau ikut pedoman apa, yang penting benar. Statuta FIFA, Statuta PSSI, atau lainnya, asal jangan dilandasi ‘statusisasi’ yang hanya berdasarkan pada kepentingan segelintir orang.

Intinya tim yang kami dukung butuh berkompetisi, pemain yang kami dukung butuh bermain. Jangan dibiarkan terkatung-katung, tanpa kejelasan!

Saya ini cuma penonton, maunya ya nonton bola, bukan politik, ‘gontok-gontokan’, apalagi berpolitik lewat bola, masih pakai ‘gontok-gontokan’ pula.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 22 Mei 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated G. Kurniawan’s story.