Pony Express

Alkisah pada 1860 Abraham Lincoln terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Informasi penting itu pun harus segera disebarkan ke seantero negeri. Sayang, di masa itu satellite news gathering televisi belum masyhur apalagi portal berita online.

Informasi itu akhirnya dikirim melalui telegram dari Washington ke Fort Kearny, titik terakhir jaringan telegram di kawasan barat Amerika. Kabar ‘A1’ itu lantas estafet dibawa tim berkuda, Pony Express, menuju Fort Churchill di Nevada untuk kemudian ditransmisikan melalui telegram lagi ke Calfornia. Konon tim Pony Express harus menempuh jarak 1.260 mil atau 2.000 km lebih yang memakan waktu 7 hari dan 17 jam. Sungguh melelahkan.

Situasi itu sungguh jauh berbeda dengan zaman ini, di mana pesan dapat dikirim dengan sangat mudah. Barangkali cukup berkirim email, chatting di Whatsapp, atau malah hanya dengan pasang ‘status’ di BBM.

Namun, informasi tak melulu soal kecepatan. Informasi juga soal akurasi, validitas, dan tentu saja respons.

Respons atas suatu informasi tak kalah penting ketimbang informasi itu sendiri. Informasi tanpa respons, ibarat sayur kebanyakan garam, kelewat asin. Bukan berarti tak bisa dimakan, hanya sering bikin emosi jika sedang lapar.

Sungguh malang, agaknya negeri ini sempat atau malah sedang dalam ‘darurat respons’. Kegelisahan banyak warga atas sejumlah persoalan tak segera direspons pemerintah yang jelas-jelas menjadi tempat mereka bernaung.

Dalam masalah KPK-Polri yang muncul pasca penunjukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri misalnya, muncul fenomena rakyat mencari presidennya. Saat itu Presiden dianggap tak segera merespons masalah yang sedang terjadi, bahkan terkesan berlarut-larut.

Kegelisahan itu pun merembet ke mana-mana hingga sebagian warga pun menyusun respons mereka sendiri dengan kata kunci ‘tidak jelas’ yang fenomenal itu. Hal demikian sudah selayaknya dimaklumi karena ketidaksabaran tetaplah manusiawi.

Desakan itu bahkan cukup kuat datang dari sejumlah pendukung Presiden Joko Widodo semasa pilpres dahulu. Saya sendiri percaya, kala itu tidak ada niat Presiden dan jajarannya untuk bersembunyi. Saya justru yakin Presiden dan jajarannya sedang berikir keras menyiapkan respons yang tepat, meski tidak cepat.

Sayang, hingga kini masalah KPK-Polri itu tak juga selesai meski Budi Gunawan sudah bukan calon Kapolri lagi. Kabar terakhir malah menyebutkan KPK dengan pimpinan baru sudah ‘menyerah’. Hal ini lagi-lagi memicu gejolak lainnya, bahkan dari internal KPK sendiri.

Kondisi semacam itu sudah jelas menggambarkan betapa peliknya persoalan, yang tentu saja haram untuk dibiarkan tanpa arah. “Presiden mungkin sudah punya grand design, kisruh yang ada sekarang hanya riak-riak kecil, bagian dari grand design itu, revolusi mental,” kata Hari, kolega saya yang pernah bercita-cita menjadi tentara.

Namanya juga pendapat, sepatutnya dihargai meski tidak wajib diyakini kebenarannya. Teringat saya akan Parkinson’s Law hasil pemikiran ahli birokrasi Cyril N. Parkinson yang mashyur itu, “work expands so as to fill the time available for its completion.”

Kira-kira terjemahan bebasnya “penyelesaian suatu pekerjaan akan melebar mengikuti waktu yang tersedia.” Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan sehari, bakal semakin rumit dan kompleks jika ditunda dua atau tiga hari misalnya.

Segala sesuatu memang butuh proses dan tidak harus tergesa-gesa, meski juga tidak perlu berlarut-larut, apalagi yang menyangkut persoalan bangsa.

“Mungkin Pak Presiden itu orangnya sabar,” kata Sukarno, kolega saya yang bukan politisi.

Sungguh berhati mulia kolega saya yang satu ini, selalu berpikir positif. Toh dalam sembilan agenda prioritas pemerintahan Joko Widodo alias Nawacita memang sudah dicantumkan jika pemerintahannya akan melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.

Mudah-mudahan memang benar aman seaman-amannya termasuk aman dari rasa gelisah. Tinggal ramai-ramai ditagih saja.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia Edisi 16 Maret 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated G. Kurniawan’s story.