WHEN FACT IS FAKE — KETIKA FAKTA ITU PALSU
Pemimpin Harus Bisa Membedakan Hoax
The LEADER is you. Pemimpin itu adalah kamu. Kalimat di atas dan terjemahannya saya pergunakan sebagai kalimat pembuka tulisan pagi ini.
Kembali menyoroti media dunia digital yang saat ini memberikan kemudahan kita untuk mengakses dan membuat informasi, menjadikan banyak dan beragamnya informasi yang kita terima. Sayangnya dengan kemudahan itu juga validitas dan kredibilitas sumber informasi menjadi perlu difilter lebih dalam untuk mendapatkan keaslian dan inti sumber dan maksud beritanya.
Apa saja ragam dalam sebuah informasi? Tentunya hanya 4 (empat), Teks, Audio, Gambar, dan Video.
Jika Google saat ini telah memfasilitasi kita dengan image.google.com untuk memeriksa sumber keaslian gambar, pembuat dan kapan gambar itu diupload. Mungkin harapannya juga akan ada media tools yang mampu memeriksa sumber informasi audio dan video, keasliannya dan apakah frame pembuatannya dipotong atau tidak. Karena dengan adanya tools seperti ini, kita semua akan lebih dapat memilah mana fakta yang valid dan tidak.
Berarti tiga sisanya selain gambar adalah tugas kita untuk menseleksi secara pribadi. Apa yang seharusnya kita lakukan jika mendapatkan sumber berita itu. Berikut adalah tips dan langkah-langkah bermanfaat yang perlu kita perhatikan.
1. Tanpa Keberpihakan
Hilangkan keberpihakan sejak awal Anda membaca berita khususnya berita-berita yang bersifat opini publik. Jika langkah pertama saja anda gagal, maka anda sudah gagal dalam langkah selanjutnya.
2. Fokus Inti Bukan Sisi
Banyak berita atau informasi yang dikemas sebombastis mungkin. Mereka menampilkan keseksian beritanya untuk mendapatkan atensi pemerhatinya. Dan bahkan ada yang sampai membuat headline yang berlawanan dengan logika dan norma, untuk kemudian mereka klarifikasi sendiri dalam konten beritanya.
3. Benar Belum Tentu Besar
Sekali lancung diujian, seumur hidup tak dipercaya. Dalam informasi berita kebenaran adalah kunci dari segalanya. Media besar itu bisnisnya bukan sumber berita dan informasinya. Mental pewarta dan redaktur adalah yang mencirikan budaya perusahaan media tersebut. Karena kebenaran itu hakiki, bukan siapa yang mengucapkan, tetapi apa yang diucapkan adalah kuncinya.
4. Konfirmasi Tidak Sekali
Dan langkah yang terakhir adalah membandingkan berita dari berbagai sumber. Jangan membandingkan beragam bentuk dari sumber yang sama. Lakukan konfirmasi berulang-kali, untuk mendapatkan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan.
Kadang fakta memang menyakitkan ketika antara ekspektasi dan kejadian berbeda 180°. Oleh sebab itu dalam kalimat pembuka diatas, pemimpin itu adalah kamu. Yang menjadikan berita itu benar atau tidak dan berita itu tersebar atau tidak.
Sebagai pemimpin tentunya kita diminta untuk mampu bersikap ketika salah dalam menafsirkan opini dan informasi. Ingat tidak ada pemimpin yang kehilangan pengaruh dari apa yang dipimpinnya, kecuali hanya ia akan membawa kepada yang benar atau yang salah.
Jangan malu untuk berubah, karena yang malu itu palsu. Sebab fakta itu realita bukan sekedar dukungan tanpa makna.
Ge Mahameru
February 2017