Dance Music Kita Tak Pernah Semeriah Ini

Sebelas tahun selepas Jakarta Movement ‘05 dirilis, energi di bawah tanah jadi makin tajam.

Gembira Putra Agam
Sep 26, 2016 · 9 min read

Electro–kala itu–ada pada titik paling kotor. Warna-warni confetti di gig New Rave menghiasi lantai dansa pada sela irama robotic yang mentah dengan lick-lick gitar repetitif. Generasi baru muncul di scene, membawa spirit slenge’an sekaligus nilai keeleganan baru pada kelab-kelab, menyusup di lokasi presentasi dance music yang established.


Pertengahan dekade ’00s, playlist saya, juga kalian, berisi nostalgia [post] punk, electro, dan minimal wave melalui Electroclash–CSS jadi salah satu ikon dengan single yang juga punya referensi keren, Let’s Make Love and Listen to Death from Above, Crystal Castles masih underground tapi sudah jadi role model, Digitalism dan Fischerspooner merupakan dua favorit saya masa itu, Uffie adalah cinta mati. Sementara, drum and bass dan breaks masih kuat — dan selalu kuat — walau bisa dibilang masih bermassa niche tapi mereka selalu setia–thanks to Javabass (Phunktion masih jalan terus!).

Di kelab mapan (whatever ‘mapan’ means), sejak awal 2000-an bahkan progressive house ada pada masa jayanya, soulful house terus berputar dari room-room santai sampai kafe hipster dan selalu bertugas jadi pengisi weekend sepanjang malam di radio-radio ibu kota.

Di bawah tanah, selain band-band Electroclash meramaikan gig indie, Italo disco, nu-disco, Balearic, dan dubstep merayap mengisi hati anak-anak band yang bosan hadir di gig ben-benan serta terlalu malas masuk ke kelab ‘progre’.

Mengutip serial Stranger Things, saya ada di The Upside Down pada akhir dekade itu. Penyendiri di kelab-kelab bawah tanahnya kolektif UK bass pertama di Indonesia–24/7 Dubstep–demi mengalami aliran sub-bass di jantung, atau memanjakan telinga lewat nada yang lebih melodis di pesta-pesta dengan lineup edgy di Buddha Bar. Saya masih ingat betul bagaimana merindingnya ketika Paris dinyanyikan bersama-sama di ‘kuil’ hipster ibu kota waktu itu (2008? 2009?).

Akhir dekade sampai 20-belasan kemudian, saya merekam nostalgia yang tak habisnya; promotor alternatif yang punya taste keren membawa bintang-bintang dance music yang cult. Ashram, Threesixty menyajikan lineup ‘sangar’ kayak pahlawan electro dan house Prancis masa itu, DJ Mehdi-Busy P-dan geng Ed Banger Records, lalu ada Lifelike, Holy Ghost, Digitalism, Shit Robot. Blog Too Many Sebastians jadi anutan (kini anak musik menyebutnya ‘bloghouse’), kaos bootleg USLS dari Jakarta adalah fashion statement. Venue Willow dan Buddha Bar jadi basis.

Ed Banger Records, semua roster. (Foto: Noisey.com)

Catra Darusman — penggagas kolektif Deadrec, produce di bawah moniker techno Blackbody Radiation dan ASAM, juga mantan produser untuk grup Mjolnir — mengenang era itu sebagai titik cerah dalam bermusik, apalagi jika bicara soal Justice.

Musik dance yang dipadu distorsi dan agresif kayak Justice mengubah sudut pandang gue soal dance music itu sendiri. Kejadian di 2006-an buat gue.

Seperti Catra, banyak yang juga mengalami fase serupa. Saya tunjuk kalian, anak-anak indie yang tak ingin meninggalkan gitarnya, atau masih geregetan membawa distorsi, vibe berisik, tapi gatal untuk berkreasi lewat beat-beat dancey, baik organik, maupun hasil generate mesin.

Atas pertimbangan itu, sebagian dari mereka kemudian mengisi kelab-kelab bawah tanah, baik sebagai DJ maupun performers.

So many memories to cherish.


Setidaknya bagi saya, anak kecil yang baru merasakan kelab pada dekade itu, bisa menyimpulkan kalau dansa bawah tanah sebegitu meriahnya.

Mungkin bagi teman-teman seangkatan, dalam konteks lokal, kita akan menyebut Jakarta Movement ‘05 (Aksara Records, 2005) sebagai pemantik penting dalam bentuk dokumentasi rilisan. Kompilasi dua CD itu menyeret saya masuk ke dunia yang belum pernah saya jelajahi–walau dance music selalu jadi favorit sejak saya mungil.

Jakarta Movement awalnya merupakan dance music festival dengan kurasi ciamik. Digagas oleh Hogi Wirjono, festival yang menyajikan sederet nama lokal dan internasional ini sudah berhasil berjalan dua kali: pertama di 2003, kedua di 2005 walau sayangnya yang terakhir terganggu oleh sikap ormas tertentu (you know what I mean), seperti dilansir dari The Jakarta Post.

Di tahun terakhir Jakarta Movement (2005), pre-sale-nya saja tembus 10 ribu-lebih tiket terjual. Tapi yang datang cuma enam ribuan. Pada ‘parno’. — Hogi Wirjono, saat saya hubungi di antara kepadatan agenda Senin-nya (26/9).

Kecilnya angka pengunjung yang hadir di Pantai Karnaval Ancol waktu itu diakui Hogi sebagai momen yang membuat ia dan timnya down. Nepathya yang menjadi partner Future 10 untuk festival ini kemudian bubar. Akhirnya, Future 10 memutuskan jalan sendiri.

Hogi Wirjono, penggagas Jakarta Movement. (Foto: Kuassa.com)

Jika festivalnya terasa kelabu, tidak untuk rilisan kompilasi yang dijual di venue ketika itu, Jakarta Movement ‘05: A Compilation of Indonesian Electronica.

Hanin Sidharta (Aksara Records), Hogi Wirjono (Future 10), dan Leo Rustandi (Nepathya) adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas dirilisnya kompilasi ini. “Proses kurasinya cukup simple, kami mengumpulkan teman-teman yang punya sound keren dan merepresentasikan era itu,” ujar Hogi. Ditambahkannya,

“Era itu juga merupakan tumbuhnya musisi elektronik di sekitar kita. Plus, di masa itu, festival-festival juga menunjukkan talent lokal, bukan selalu talent luar.”

Sebelum lebih jauh, talenta ‘electronic’ di sini adalah mereka yang memproduksi musik dengan dasar mesin/generator melalui software dan hardware yang ramah-panggung musik dan club sekaligus. Ini yang membuat Jakarta Movement ‘05 menarik; kompilasi ini menjadi penanda pertama dari timeline panjang dance music Tanah Air yang fokus pada produksi/track/lagu sendiri.

Sampul album kompilasi Jakarta Movement ’05. (Foto: Allmusic.com)

Rekaman kompilasi dance music belum pernah seserius ini. Sebelumnya, DJ culture kita masih mengandalkan rilisan DJ mix (yang ini malah sudah ramai sejak akhir ‘80-an, masanya kaset-kaset mix Jockie Saputra, Adam Jagwani, mengisi rak-rak sepupu saya), atau jika pun ada, malah kompilasi berbasis komunitas.

Sementara, Jakarta Movement ‘05 berhasil mengumpulkan nama-nama produser lintas-komunitas dan musik, selama berbasis dance music/electronic. Menariknya lagi, beberapa nama juga banyak yang besar di underground.

Melihat betapa ramainya nama-nama dari bawah tanah, betapa seriusnya track yang digarap mereka, saya merasakan bahwa dance music kita tak pernah semeriah ini.

Dari banyak debat usang di dunia DJ-ing, ada satu yang terkait dengan rilisan ini. Perkara sang DJ akan ‘naik kelas’ jika sudah memproduksi lagunya sendiri, pun sebaliknya, [misalnya] house music producer bakal lebih cool kalau dia bisa membawakan lagunya sendiri secara live.

Terlepas dari setuju atau tidaknya Anda pada teori di atas, Jakarta Movement ‘05 membuat nama-nama yang besar sebagai DJ untuk tampil dengan wajahnya sendiri sebagai produser lewat lagu-lagu yang mereka produksi sendiri. Ada Andezz, Junko, Riri, sampai Random di dalam dua cakram.

Seperti DJ-ing, saya suka bagaimana tracklist di kompilasi ini diurut demi menjaga vibe. Kedua CD mewakili dua mood yang berlawanan, seperti room 1 yang jadi lantai utama untuk musik yang lebih energik, dan room 2, tempat Anda bisa santai mendengar nomor yang lebih melodis dan chillin’.

Analogi di atas diaplikasikan sebaliknya. Cakram pertama untuk yang lebih relaxing, yang kedua untuk lagu-lagu lebih energik.

Disusun lintas-genre, CD 1 fokus pada track yang tak ‘berisik’, soft, ‘nyanyi’ dan punya kekayaan nada lebih dibanding sisi lainnya. Anda bisa bertemu trip-hop yang gloomy di lagu Fable (.mute, Azfansadra K, Tika) dan Artificial Humanity (Homogenic), chillout-nya DJ Sumantri dan Naoko Takamoto di track Light the Candle (sangat direkomendasikan jika Anda suka set-setnya Chris Coco dan Cafe del Mar), lagu soulful yang club-friendly Don’t Make Me (Andezz), Sand Star-nya Tabuh & Eyes dengan liquid d’n’b yang mengawang-awang.

Di cakram kedua, banyak track energik dengan suasana lebih wild dibanding sebelumnya. Vibe yang sama dengan gambaran soal keriuhan pesta pada awal tulisan ini.

Underground Trash, misalnya, adalah komposisi paling representatif, yang jika boleh saya simpulkan merupakan dance music statement untuk scene lokal di pertengahan dekade 2000-an. Digubah oleh mereka yang kini jadi local dance music heroes; Anton, Hogi, Edo, dan Aditya, track ini memiliki elemen kotor, monoton, robotic, synths, ‘punk’, dan punya beat yang merayu rock’n’rollers untuk turun ke lantai dansa.

Jakarta Movement ‘05 menjadi tempat resmi untuk single pertama Agrikulture tersebut sebelum bercokol di full album Dawai Damai (Equinox DMD, 2007).

Kebingaran seakan tak berhenti di cakram kedua. Rock N Roll Mafia, lewat What It’s All About menabrakkan breakbeat pada intro dengan electro gelap dan noisy. Random dan Celcius mewakili lini drum and bass lewat Breathless dan Sativa Music. Diimbangi dengan dua track deep techno berkualitas dari Electronic Groove dan DJ Bobby (The Way dan Firm). Sampai kemudian, Sci-Fi Love-nya Goodnight Electric mengakhiri lewat electro generik nan indie-friendly.

Saat itu tampaknya cuma Jakarta Movement ‘05 yang berhasil merepresentasikan eranya satu dekade sekaligus. Cemerlangnya New Rave, gloomy-nya trip hop generasi baru, electro yang bermutasi, energi kebaruan yang solid, lintas-scene dan komunitas, semua dalam satu kemasan.

Do we need more?

Pasti. Dan untuk dekade ini, terima kasih pada tren dance music yang naik ke permukaan.

Musik pop kini makin seru dari sebelumnya, ketika dance music dimapankan sebagai bagian dari industri populer.

Efeknya? Dance music (kita sebut saja, EDM) bukan lagi konsumsi khusus weekend di radio-radio, headliners pentas seni anak SMU bukan lagi ‘ben-benan’, tapi DJ-DJ, studio-studio DJ makin ramai. DJ-ing is a thing.

Dilansir dari vlog Mardial, founder Flux Inc. Wiwied Wicaksono menceritakan soal demografi DJ yang makin bergeser seiring ngetrennya EDM,

Anak SMP dan SMU sudah mulai banyak [masuk studio DJ]. Di TV kan sudah ada tayangan-tayangan kayak The Remix, ada Anger Dimas, terus setiap pensi juga selalu ada DJ.

Termasuk saya, banyak mereka yang akhirnya masuk ke studio DJ untuk mengasah dan mengeksplorasi style DJ-ing. Generasi DJ mutakhir yang jumlahnya banyak ini muncul, seperti ombak besar.

Pada saat yang sama, sebagian [besar] dari mereka juga mempelajari sendiri berbagai tips dan trik produksi musik dari Youtube, berkreasi di laptop, masuk studio, dan membuat track-track electronic dan/atau dance music. Mirip generasi pendahulunya, namun dengan kuantitas yang mengejutkan.

Soal kualitas?


Bawah tanah selalu menjadi taman bermain penawar sukacita jika Anda tak ingin berhenti mencari eksperimen dan kebaruan yang berumur panjang. Dan untuk hari ini, generasi baru dance music kita direpresentasikan lewat kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah (DDBT) (Pepaya Records, 2016).

Dikemas dalam bentuk kaset, format klasik yang sedang kembali dicintai [walau durability-nya dipertanyakan] dan diisi dengan wajah-wajah yang tak pernah betah dengan hal itu-itu saja, what a spirit.

Sampul album kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah. (Foto: Studiorama.net)

Ketika disodorkan jejeran audionya oleh founder Pepaya Records Aldo Ersan Sirait, saya langsung menyimpulkan bahwa DDBT punya gagasan yang sama seperti Jakarta Movement ‘05 dirilis. Tak jauh dari soal mempresentasikan sound masa kini, dengan nama-nama lintas-scene dan komunitas. Sesederhana itu. Tapi nyatanya tak berhenti sampai di sini.

Sebenarnya, di masa akses pembuatan dan metode rilisan yang seinstan kini, kita bisa membuat ratusan kompilasi serupa setiap tahunnya, demi membuktikan dekade ini sebegitu riuh dengan dentum-dentum keren dari underground. Apalagi jika mengingat sampai lima tahun ke belakang, scene musik kita sedang diramaikan dengan serbuan label-label kecil yang fokus pada preferensinya masing-masing (Pepaya Records ada di daftar ini).

Untuk itu, dibutuhkan kecermatan kurasi yang bisa mendefinisikan, meramalkan, sekaligus memantik inovasi yang lebih liar ke depannya. Melakukan hal tersebut membutuhkan waktu tak sebentar. Dan dengan mengajak Studiorama yang juga telah lama hadir bersama kolektif-kolektif underground dance music dekade ini, proses verifikasi bobot musikalitas di rilisan kedua Pepaya Records ini menjadi sebegitu kuat.

Jika ingin membandingkan dengan rilisan-rilisan kompilasi dance music/electronic yang telah hadir sebelumnya, DDBT memiliki kualitas produksi yang tak main-main pada setiap lagu.

Bahkan pada lagu dengan struktur paling sederhana seperti Evening Mood (Dub), produksi REI, punya desain sound yang indah. Evening Mood (Dub) mengadaptasi gaya hip-hop sampling dalam irama deep house yang lembap, ‘berdentum’, jika ingin mengutip nama kompilasi ini, terkesan sangat analog.

Sattle, lewat track All Around, juga tak gagal memikat telinga. Nomor All Around merupakan track disco/funk yang jika dicicipi terasa seperti mendengar rekaman rilisan akhir ‘70-an. Terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ini cuma karena stok samples yang keren. Karena dari rekaman, Anda akan merasakan sendiri seberapa apiknya samples, desain sound, sampai kualitas mixing-mastering-nya berbaur menghasilkan output seistimewa All Around, menjadikannya seotentik rekaman dari masa lalu.

Banyak nama yang juga tampil mewakili kolektifnya masing-masing, hampir seluruhnya adalah kolektif era ini [walau diisi dengan orang-orang lama]; seperti Basement House dari House Cartel, Django dari Deadrec dan The CRU, Harvy dari Double Deer, Android 18 dari Papermon Records.

Embracing all classics sepertinya menjadi sikap untuk semua nama di DDBT. Kembali ke roots, langsung, namun dengan teknis produksi terkini. Karenanya, jika bicara soal genre, DDBT malah ‘mundur’ ke disco, boogie, Balearic, acid house, deep house, sampai garage.


Hari ini, kita akhirnya memiliki lebih banyak kolektif bawah tanah dengan preferensi musik paling menarik, sudah ada DJ/produser dengan kualitas produksi di atas rata-rata, sudah punya crowd yang siap mengapresiasi musik se-niche apapun.

Sebelas tahun kemudian setelah Jakarta Movement ‘05 dirilis, dance music kita ternyata semakin meriah. Dentum Dansa Bawah Tanah membuktikan ketajaman eksplorasi anak-anak dekade ini mengolah kultur dance music dengan tangannya sendiri.

Dentum Dansa Bawah Tanah akan dirilis bertepatan dengan Cassette Store Day 2016, 8 Oktober 2016.

Gembira Putra Agam

Written by

Mendoakan seluruh dedaunan agar mereka dapat bernyanyi

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade