Kompilasi Puisi #1

Pembaca yang saya muliakan, berikut terlampir dalam bagan kertas elektronik di bawah ini: 5 kumpulan puisi saya yang (semoga) bisa menghibur, melatih kepekaan, dan memberikan manfaat.

Gema Mahardhika
Nov 2 · 3 min read
Photo by Sandrachile

1.

IRING-IRINGAN SEMUT

Sebelum kita injak butir pasir ini,
biarkan semut-semut itu lewat.

Iring-iringan semut hanya tengah menanti
gula yang manis agar cepat muncrat
dari mulut orang yang sedang nyeruput kopi
di hadapan kita sekarang. Dia tidak tahan pahit.

Apa yang kau kejar sejak kemarin? Ketika tiap kali
mencoba melangkahkan kaki, kau seperti
diburu sesuatu. Kau gelisah.

Kesini, kesini. Biar aku simak kau, bersama-sama
menyebrangi bulir air matamu.

Menangislah, karena langit akan segera hujan.
Dan semut-semut hampir menyentuh tiap
manisnya gula; di dekat kita.
Perut mereka sebentar lagi kenyang.

Sudahkah kau siap melangkah? Menapaki
jejak baru, menyisakannya di sepanjang jalan,
dan tuanya kehidupan.

Aku tidak akan memulainya
sebelum orang tua seberang kita tamat dengan kopinya;
sebelum gerombolan semut bahagia;
sebelum hujan menghapus jejak kita;
sebelum kau tak lagi menjadi rahasia.

2.

RETAK

Untuk Eyang Habibie

“Aku bersyukur kepada Tuhan
karena telah menciptakan Mata dan Bahasa Arab

aku bersyukur kepada Tuhan
karena Mata dalam Bahasa Arab
adalah Ainun

aku bersyukur kepada Tuhan
atas retakkan yang terjadi di sayap pesawat
pada masa lima puluh tahun silam

aku bersyukur kepada Tuhan
atas retakkan yang membawaku
untuk melihat dengan Mataku sendiri
kalau perempuan itu, Ainun, akan terbang
denganku, setinggi-tingginya, dengan
rancanganku, ke Jerman — atau pulang
ke rumah asal: Matanya.

Aku bersyukur kepada Tuhan.”

11/09/2019

3.

WAMENA

Menyatakan cinta disebut menembak
karena isinya tak terduga, tajam, tiba-tiba
masuk ke dada, tak jarang menghentikan
nadi yang sedang deras ataupun detak jantung.

Banyak kejutan yang siap terjadi: pemburu
yang salah sasaran, atau angin yang membawa
pergi seluruh peluru ke salah arah.

Ah, Wamena, perempuan kuat itu
selalu digoda banyak hewan terluka.

Kemana Wamena hendak pergi?

Kita dilarang menebak, karena Wamena
pasti baik-baik saja; perlu banyak isitirahat
agar sembuh seperti semula.

4.

APALAH ARTI

apalah arti misi tanpa isi
apalah arti dapat tanpa apa
apalah arti hubungan tanpa bunga
apalah arti pengembangan tanpa emban
apalah arti mahasiswa tanpa maha

apalah arti hug tanpa u
apalah arti earth dan start tanpa art
apalah arti services tanpa ice
apalah arti create tanpa ate
apalah arti capital tanpa cap

apalah arti aku tanpa k-a-u

5.

SURAT UNTUK KEKASIH

Untukmu, pemilik rumah nyaman itu.

Di zaman sekarang, kekasihku, penyesalan
seperti mutiara di tengah luasnya
lautan yang dalam, tak sembarang samudera
bisa memilikinya. Tak setiap orang tau
betapa berharga sebuah penyesalan. Kau harus
menyelam dalam untuk menggapainya.

Hari ini, kekasihku, rasa malu seperti
ruang hampa di angkasa sana, sebuah
titik akhir yang tak ada ujungnya,
dan tak ada tepinya. Tak semua orang
paham betapa pentingnya rasa malu.

Dan nanti, di hari-hari yang akan datang, kekasihku,
kita tidak pernah tau, dari banyaknya manusia
di bumi ini, berapa yang tersisa untuk bisa
menikmati penyesalan dan rasa malu. Karena
keduanya, jika kita mengerti hakikatnya, dengan
sebaik-baik pengertian dan sesuai porsinya, maka
yang sisa-sisa itu, kekasihku, menjadi orang asing
di antara padatnya mafia.

Bukankah, kekasihku, hati mafia itu tidak dengan
seketika sebesar itu, melainkan mula-mula mereka
juga bayi yang tertawa apabila dibelikan mainan,
yang juga menangis kala tak rela ditinggal
orang tuanya pergi bekerja, namun mereka dewasa
dengan ketakutan, tertekan kehidupan, sehingga
menjadi mafia bagi mereka adalah solusi paling baik.

Lantas atas nama kecintaanku padamu, kekasihku,
jika surat ini sudah kaubaca, maka yang ku harapkan
darimu hanya satu: masih tersisa penyesalan dan rasa malu
terhadap semua perbuatanmu padaku di masa-masa
yang telah lalu itu, namun betapa besarnya pengaruhnya
untukku sekarang dan kelak.

Karena sejak awal kesalahanmu sudah ku maafkan.

Aku ingin berjalan saat hujan deras, menemukan rumahmu,
menabrak pot bunga mawarmu, membuatmu jatuh hati, kemudian
melamarku, dan mencintaiku sekali lagi.

Kau tau itu, dari buku-bukumu, kekasihku, aku tak lain
sebatas tulang rusuk yang rapuh. Jangan kaucoba luruskan
karena aku akan patah.

— Gema Mahardhika

Gema Mahardhika

Written by

Membaca, menggubah, menggugah, mengubah.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade