Metamorfosis

Dahulu ia terlahir di dunia yang indah ini
Diiringi kicauan burung-burung bernyanyi
Disinari kehangatan cerahnya matahari
Udara yang segar selalu ia nikmati
Dengan air hujan segar yang membasahi
Ditutupi oleh pelangi yang menghiasi
Bersama keceriaan hewan-hewan yang mengelilingi

Betapa indahnya masa kecilnya
Ia berada di tengah kawanannya
Saling menopang saling menjaga
Tak ada gelisah di pikirannya

Kawanannya kian tumbuh bersamanya
Dari kecil hingga besar tubuhnya
Saling bercerita berbagi satu sama lainnya

Kawanannya mengajarkannya untuk bermurah hati pada lainnya
Saling berbagi kepada sesama
Saling menjaga dunia bersama-sama
Mencontohkan hidup bersama bersahaja
Mencontohkan budaya memberi mengasihi

Suatu ketika datanglah teman barunya
Teman baru ini sangat berbeda dari kawanannya
Namun hati ramahnya tetap terbuka menerimanya

Teman barunya tinggal tak jauh dari kawanannya
Teman barunya terkadang berkunjung mendatanginya

Terkadang teman barunya ini bersandar padanya ketika hari panas
Terkadang ia memberikan hadiah manis kepada teman barunya
Terkadang sekedar bermain bersamanya
Terkadang ia hanya mengamati teman barunya tumbuh besar
Persahabatan mereka begitu indah

Suatu hari ia terbangun
Dan tak percaya dengan apa yang ia lihat
Terdiam terpaku mengamati sekelilingnya
Dan hanya dapat meratap
Akan hilangnya kawanannya
Kini hanya beberapa yang tersisa
Ia mulai kesepian
Namun ia coba menenangkan hati
Dengan mengingat teman barunya
Berharap teman barunya akan datang menemaninya lagi

Waktu demi waktu berganti
Teman barunya pun datang padanya
Namun kini teman barunya terasa berbeda
Teman barunya sibuk bermain sendiri dengan mainan genggamnya
Omongan teman baru ini hanya dipenuhi dengan urusan-urusannya
Tak lagi sama seperti dahulu

Anehnya…
Dunia pun kunjung tak lagi sama
Tak bersahabat seperti dahulu
Nyanyian burung semakin jarang didengar
Udara pun kian dipenuhi dengan debu

Namun yang paling membuat ia sedih
Kawanannya semakin sedikit
Tiap kali ia terbangun kawanannya berkurang
Kesepian dan kesedihan kian menguasainya
Teman barunya ini pun tiada berkunjung 
Hanya sibuk dengan urusannya

Kini dunia kian menjadi aneh
Kebisingan dan keramaian memecah di kejauhan
Debu-debu pun berterbangan dari kejauhan itu
Menyesakkan hidup sekitarnya

Suatu waktu ia tidak dapat pejamkan mata
Ia termenung dalam kesedihannya
Tak ada lagi yang ia inginkan melainkan suasana dahulu kala
Di dalam relung sedihnya itu
Teman barunya datang
Layaknya lebah menemukan bunga
Betapa senangnya ia melihatnya
Tiada hal lain yang ia inginkan selain teman di saat itu
Namun hati merasa berbeda
Teman barunya datang membawa senjata
Perlahan mendekati kawanannya
Ia hanya dapat terdiam mengamati
Tak percaya dengan apa yang ia lihat
Namun tak ada yang dapat dilakukannya
Dengan sekian ayunan tangan
Kawanannya pun roboh satu demi satu
Teman barunya menebangi kawan-kawannya
Tiap ayunan tangan ia hanya dapat mengamati
Mengamati dan mengamati dengan seksama
Tiap tebasan kapak yang menerpa tubuh kawannya
Tiap gerakan teman barunya yang tiada ragu namun penuh semangat
Betapa sakit hati dan perasaannya
Melihat kematian kawan-kawannya
Dikhianati teman barunya

Ia pun mengamati teman barunya menggotong potongan tubuh kawannya
Ia hanya dapat berdiam diri menahan amarah
Mengamati teman barunya pulang membawa kawanan ia
Pulang menuju kumpulan manusia

Kini ia mengerti
Manusia telah dibutakan oleh ambisinya
Kini ia sadar
Manusia ingin menguasai dunianya
Tanpa berbagi dengan yang lainnya

Masih terkenang di benaknya
Ketika manusia kecil itu tidur bersamanya di bawah panas terik matahari
Ketika ia berikan buah-buah manis yang manusia kecil itu nikmati
Ketika ia meneduhi manusia kecil itu saat bermain-main berayun di dahan-dahan lebatnya

Dan tiada yang paling ia murkai
Melainkan dunia yang berubah tanpanya
Dunia yang dipaksa berubah oleh kawanan teman barunya
Dipaksa berubah oleh kawanan manusia

Dengan hati yang tertanam kesedihan
Ia hanya dapat mencoba lapang dada
Dan tetap mencoba memberi kebaikan bagi dunia

Ia mengamati zaman yang kian berubah
Debu dan polusi kini kian merebak di udara
Dan kawanan kuda besi kini memenuhi jalanan
Jalanan besar yang kini berada di sampingnya
Serta bangunan-bangunan besar penghasil asap di kejauhan

Dengan sisa tenaganya ia hanya dapat menyaring udara itu agar tetap dapat dihirup oleh hewan lain dan manusia
Ia berikan makan pada hewan-hewan sekitar yang semakin sulit mencari makan seiring berkembangnya kawanan manusia

Kini usianya sudah tua
Kawanannya kini telah tiada lagi di sampingnya
Rerumputan kian gersang tak kuat bertahan
Bukit-bukit sekitar kian menghilang dikeruk manusia
Dan gedung-gedung besar kian bertumbuhan di sekitarnya

Kawanan manusia kini tinggal di sekelilingnya
Dengan tempat tinggal terbuat dari sisa kawanannya yang ditebang dahulu
Pertumbuhan manusia berkembang sebegitu cepatnya
Membutuhkan banyak ruang baru untuk hidup manusia
Kini ia tahu ajalnya telah sangat dekat
Ia sadar teman barunya telah mengkhianatinya
Ia sadar teman barunya akan membunuhnya dalam waktu dekat
Namun ia tetap menaruh harapan pada teman barunya
Ia percaya teman barunya memiliki kekuatan besar untuk mengubah dunia menjadi jauh lebih baik
Ia percaya manusia dapat menjadi imam dunia yang adil dan bijaksana bagi seluruh makhluk hidup di dunia
Ia hanya berharap suatu saat pintu hati manusia akan terketuk menyadarinya
Ia menaruh harapan besar pada manusia
Tak peduli seberapa besar sakit hatinya

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.