Pers Mahasiswa ITB : Kebenaran dan Jati Diri yang Hilang.

George Michael
Sep 7, 2018 · 4 min read

Pasca-reformasi, kebebasan berpendapat yang selama ini dianggap mitos belaka akhirnya menjadi kenyataan. Setiap orang kini bebas mengeluarkan pendapat, aspirasi, kritik, dan saran terhadap apapun selama dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini bagaikan angin segar bagi para wartawan dan jurnalis (pers) pada masa itu. Untuk mengaminkan kebebasan pers, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Prinsip, hak, dan ketentuan pers akhirnya resmi dikumandangkan.

Dewasa ini, pers rupanya semakin dibutuhkan. Kebutuhan akan pers di ITB diwujudkan dalam bentuk Pers Mahasiswa ITB. Pers Mahasiswa ITB merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang didirikan pada 14 April 2001 oleh anggota PSIK yang peduli terhadap isu-isu di luar kampus. Awalnya berdiri dengan nama “Pers ITB”, UKM ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan “Persma”.

Memberitakan Kebenaran? Menurut siapa?

Seiring perkembangan zaman, pola berpikir seseorang semakin berkembang. Para pembaca tidak lagi menelan bulat-bulat segala informasi yang ada. Pembaca bersikap lebih kritis dan keingintahuannya semakin besar. Banyak yang mempertanyakan apakah berita yang disampaikan oleh sebuah media benar adanya. Jadi, bagaimana dengan Persma?

Persma tidak hanya fokus memberitakan peristiwa yang ada di dalam kampus, tetapi juga di luar kampus. “Massa kampus perlu tau apa yang ada di dunia luar sana”, ujar Bella Sofie (AR’17) selaku Staff Artistik. Sesuai dengan slogan yang diusung, “Mencerahkan, Mencerdaskan”, Persma ingin agar massa kampus peduli terhadap peristiwa yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Kita sebagai mahasiswa harus mengingat salah satu Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Sebelum pemilihan berita, “Kerabat” (sebutan akrab untuk para anggota Persma), mengisi “Bank Isu”. Selanjutnya, para Kerabat berdiskusi untuk memutuskan isu atau berita yang dianggap memiliki dampak lebih besar. “Kita mencari isu yang paling menjual, yang membuat massa kampus tertarik ingin membaca.” paparnya. Setelah diputuskan, maka proses pencarian informasi dimulai. Wawancara, studi pustaka, atau survei pun dilakukan untuk mencari “kebenaran”. Anggota PSDA, Zarminska (BI’17) mengatakan bahwa berita yang Persma bagikan kepada massa kampus adalah benar. “Beritanya benar, sesuai dengan peristiwa yang terjadi.” ucapnya. Diskusi pun muncul saat membahas tentang “kebenaran”.

“Apakah ada suatu standar objektif terhadap kebenaran?” ujar Fawwaz (TI’17), anggota Redaksi Persma. “Semua pernyataan asalkan dibackup oleh pernyataan yang benar, ya artinya benar. Di dalam ruang publik, setiap pendapat harusnya bisa dikritik oleh semua orang. Itu proses dialektika. Tujuan kita (Persma) adalah mencapai kebenaran itu (yang objektif, kesimpulan yang didapat dari proses dialektika).” tambahnya.

Di dalam artikel-artikel yang dibuat, Persma berusaha memberikan sumber, data, ataupun pernyataan yang mendukung berita tersebut. Dapat disimpulkan, Persma setidaknya berusaha memberitakan kebenaran. Bahkan, Persma dapat kita jadikan sebagai “wahana” untuk mencari kebenaran.

Jati Diri yang Hilang, Harus Melangkah Kemana?

Michael Hananta Utomo (BE’16) selaku Pemimpin Umum Persma mengatakan “Kalau kita bicara tentang eksistensi dari Persma itu sendiri, memang benar kita masih mencari jati diri kita lagi” Persma yang berdiri pada 2001 pernah mengalami masa non-aktif hingga tahun 2010. Jurang waktu tersebut nyatanya membuat Persma kehilangan arah. “Kita pun dari dulu arahnya sangat berbeda, entah itu 180 derajat atau bukan, tapi intinya dulu kita dibuat bukan untuk seperti yang sekarang.” lengkapnya.

“Persma lebih fokus ke ekstrakampus pada awalnya.” kata Thariq. Jika kita melihat Persma yang sekarang, apakah masih seperti Persma yang dulu?

“Memang kita sedang mencari lagi identitas kita, bahkan kita ingin mendefiniskan kembali Persma itu ada untuk apa. Ini juga menjadi tanggung jawab yang aku pegang sebagai Pemimpin Umum untuk mencoba agar kita kembali ke dasar lagi. Sebenarnya, kita itu siapa sih?” ujar Michael. Pemimpin Umum mengkhawatirkan jika massa kampus bahkan tidak mengetahui keberadaan Persma. “Bisa aja mereka tahu Ganeca Pos, tapi gak tahu Persma.”

Saya pun melakukan survei untuk membuktikan apakah hal itu terjadi. Melalui survey terhadap 218 responden mahasiswa ITB angkatan 2018 dari berbagai fakultas, ternyata hanya 59,6% responden yang mengetahui keberadaan Persma. Bukan hal ini yang mengejutkan. Rupanya, 57,8% responden tidak mengetahui produk dari Persma itu sendiri, yaitu Ganeca Pos. Data survei ini menunjukkan perlunya sosialisasi kepada massa kampus tentang Persma dan Ganeca Pos, agar slogan Persma dapat tercapai.

Dalam keadaan seperti ini, tentu Persma memiliki harapan kedepannya. “Dari segi budaya, ingin menanamkan budaya literasi. Dari segi karakter, ingin membuat anggota-anggota Persma yang memiliki nilai-nilai jurnalistik. Dari segi organisasi, ingin membuat Persma menjadi organisasi yang sustain. Punya dasar yang kuat, gak jatuh ke masalah yang sama. Dari segi produk, ingin produk Persma (Ganeca Pos) menjadi lebih berdampak ke massa kampus.”ujar Thariq.

Hingga saat ini, Persma masih terus berjuang memberitakan kebenaran dan mencari jati diri yang hilang. Akankah keduanya berjalan mulus kedepannya? Sebagai (calon) bagian dari Persma, saya akan berusaha memberikan kontribusi aktif terhadap keberlangsungan keduanya. Untuk massa kampus, marilah menjadi massa kampus yang lebih cerdas, lebih selektif, dan lebih peka terhadap peristiwa yang ada di sekitar kita.


George Michael

19918136

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade