Aku siapa? tanya seorang pemuda seperempat abad yang tiba2 terbangun di sebuah kamar sempit yang tak ia kenali. Di sudut kamar itu terdapat sebuah gitar usang yang telah lama tak digunakan. Diangkatnya gitar tersebut dan terdengar bunyi koin yang terperangkap di dalam gitar tersebut. Berapa kali pun dia mencoba meraih ke dalam gitar tersebut, hanya angin yang berhasil diraihnya keluar. Di sebelah kanan gitar itu, berdiri rapuh sebuah lemari besar yang penuh dengan lumut. Sebuah kertas bertuliskan “Jangan dibuka” tertempel erat di depan pintu lemari itu. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya, lalu dibukanya lemari itu dan ditemukannya sebuah kaus hitam kebesaran dan sebuah buku berjudul “Sejarah yang hilang”. Bruk! tiba2 terdengar suara seperti benda terjatuh di luar kamar. Tak ada orang lain di sana kecuali seekor anjing berkalungkan nama “jankanku”. Seketika, anjing itu membawa nya ke arah sudut dan tampak takut anjing itu ketika di sana dilihatnya ada seekor semut kecil yang tampak tidak berbahaya. Lalu dipeluknya anjing itu dan sesaat anjing itu tampak tenang sebelum akhirnya menggonggong lagi. Kebingungan.. dilepasnya anjing itu karena sepertinya anjing itu kehilangan kejinakan yang sebelumnya ditunjukannya. Tak tau lagi harus kemana, pemuda itu kembali ke kamarnya dan mencoba membaca buku yang tadi ditemukannya. Setelah halaman 187 selesai dibacanya, dia menemukan foto wanita seumuran dengannya. Tanpa basa basi, dirobeknya foto itu dan dibuangnya ke dalam gitar yang saat awal tadi ditemukannya. Seakan hilang akal sehat, diambilnya gitar tersebut dan dibantinglah gitar itu sampai hancur. Begitu kaget ia, saat yang ia temukan di dalam gitar tersebut bukanlah koin, tapi cincin yang berlumurkan darah. Bersambung.

Like what you read? Give Raynaldo Aprillio a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.