TERMINAL LEUWI PANJANG TIDAK BAIK BAIK SAJA

Sejatinya sebuah terminal adalah stasiun yang membantu pelaksanaan transaksional dari transportasi massa antar jurusan

Hanya muncul masalah-masalah yang ada di Terminal Leuwi Panjang. Salah satunya masalah kesejahteraan supir dan konduktor bis yang memprihatinkan

Ada beberapa faktor atau variabel yang mempengaruhi kesejahteraan supir dan konduktor bis ini. Dari observasi dan telah dilakukan sebuah analisis dengan metode Fish Bone, dimana disana akan dicari aspek-aspek atau variabel yang ikut menentukan permasalahan utama dan akan dicari cabang-cabang penyebab yang beririsan agar bisa ditarik kesimpulan akar permasalahannya

Fish Bone mengenai permasalahan di Terminal Leuwi Panjang

Dari Fish Bone ini, kami menemukan bahwa ada 5 aspek yang mempengaruhi kesejahteraan konduktor dan supir bis di Terminal Leuwi Panjang ini.

Yang Pertama adalah Aspek Eksternal, dimana pada jaman yang sudah maju ini mulai bermunculannya ancaman dari luar berupa travel dan transportasi online, yang memiliki banyak keuntungan yaitu trayek-trayek yang langsung menuju pusat kota juga harga yang relatif lebih murah

Adapun Aspek Manusia, dimana jumlah penumpang secara umum semakin menurun mungkin juga diakibatkan dari aspek eksternal yang diutarakan sebelumnya. Supir dan konduktor bis ini juga diforsir dalam bekerja dan kurangnya waktu istirahat bagi mereka. Karena pada pekerjaan ini menanamkan prinsip makin banyak tarikan penumpang makin banyak penghasilan, karena konduktor sendiri mendapat jatah 7,5% dari keuntungan satu kali jalur berjalan

Aspek Kondisi Bis yang selanjutnya diperhatikan, sebenarnya hal ini bersinggungan secara tidak langsung ke kesejahteraan supir dan kondektur bis. Uji KIR yang tidak ketat dan kurangnya perawatan bis akibat kurangnya pemasukan dapat mengakibatkan turunnya keinginan atau kepercayaan penumpang yang akan menaiki trayek tersebut yang berarti juga pemasukan pun akan terbatas

Selanjutnya melalui aspek kepedulian, dimana secara umum kondektur dan supir bis tidak dianggap sebagai karyawan dari pengelola tapi hanya berupa mitra kerja sehingga tidak adanya tunjangan-tunjangan diluar jam kerja. Tunjangan hanya diberikan pada saat lebaran itu pula bukan dari Pengelola Terminal tapi dari PO-PO bis saja. Selain itu juga dengan waktu kerja yang cukup padat dari para supir dan konduktor sehingga sangat sulit bagi mereka untuk memperhitungkan waktu pulang, mereka terpaksa untuk beristirahat di terminal dimana sebenarnya tidak ada fasilitas khusus yang memadai untuk tempat tidur di terminal.

Terakhir dari aspek regulasi yang sudah pasti diperhitungkan. Muncul larangan tol untuk menaik turunkan penumpang lebih kurang mempengaruhi jumlah penumpang yang akan ikut dalam suatu trayek. Setiap rute jalur yang akan dijalankan juga ada tarifnya yang nanti dapat mengurangi jumlah keuntungan. Aturan baru mengenai ngetem pun diberlakukan, yang sbelumnya boleh hingga 30 menit sekarang hanya 15 menit, sehingga berkurangnya peluang untuk mengambil keuntungan dari jumlah penumpang

Dalam kondisi yang terpuruk ini, konduktor dan supir bis pernah suatu saat berfikir untuk mencanangkan sebuah respon pergerakan melalui sebuah aksi demo kepada dishub dan pengelola terminal. Namun sayangnya, setelah dilakukan aksi tersebut para pengelola malah melakukan tindakan cepat dan kurang manusiawi yaiut dilakukannya pemecatan bagi oknum-oknum pencetus aksi demo ini, sehingga akhirnya konduktor dan supir bis pun ketakutan untuk bernai mengambil tindakan tegas selanjutnya

Disini dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan yang muncul dari aspek-aspek tersebut adalah turunnya jumlah penumpang dalam transportasi darat ini. Dimana nantinya turunnya jumlah penumpang dapat mengakibatkan turunnya pemasukan dan diakibatkan oleh beberapa faktor bisa kondisi bisnya, menjamurnya travel lain, regulasi-regulasi, dll

Sehingga sebenarnya lebih baik untuk memperbaiki maslah-masalah tersebut seperti Pemerintah membentuk kebijakan batasan travel agar tidak mengambil pasar bis, lalu memajukannya fasilitas bis, bisa juga melalui gempar-gempor promosi melalui media sosial atau bahkan terminal yang berbasis online seperti stasiun kereta api saat ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.