Berprofesi di bidang UI/UX, namun lebih passionate ke sisi visual, salahkah?

Ghani Pradita
6 min readSep 5, 2018

Sedikit kilas balik ke pertanyaan mendasar, apa itu UI/UX? Saya yakin teman-teman pernah membaca ataupun mendengar perumpamaan UI/UX ibarat secangkir kopi? Bahwa UI diibaratkan tampilan kopi yang dihidangkan, sedangkan UX adalah rasa ketika kita meminum kopi tersebut.

UI merupakan kependekan dari User Interface. Sebenarnya cakupan user interface ini sangat luas, namun pada artikel kali ini yang saya bahas hanya spesifik yang berkaitan dengan produk digital. Jadi pengertian sederhana dari UI adalah sebuah tampilan interaktif suatu produk digital yang ditujukan kepada user. Sedangkan UX adalah kependekan dari User Experience, yaitu experience yang dialami/dirasakan oleh pengguna ketika berinteraksi dengan suatu produk digital.

Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk menumpahkan beberapa hal yang terlintas di benak saya akhir-akhir ini. Barangkali ada teman-teman yang sepemikiran dengan saya, bisa bagi ceritanya di komentar.

Peran UI dalam meningkatkan Experience?

Berikut ada beberapa peran bagaimana UI bisa meningkatkan User Experience.

  1. Dengan memberikan user visual feedback
    Dengan memberikan visual feedback, user akan merasa produk lebih interaktif karena setiap interaksi akan menimbulkan efek yang memberikan kesan bahwa interaksi tersebut telah dilakukan. Contoh paling jelas adalah efek sentuhan pada interaksi material design.
  2. Menggunakan jarak dan ukuran object yang pas
    Jarak dan ukuran object merupakan hal-hal sederhana yang banyak orang melalaikan padahal efeknya sangat besar. Dengan menggunakan jarak antar element yang cukup, serta menggunakan ukuran teks yang pas, user akan lebih mudah menyaring informasi yang ditampilkan.
  3. Menggunakan copy/content yang menarik
    Terkadang menggunakan konten yang terlalu datar akan terkesan kaku dan berasa berinteraksi mesin. Dengan menggunakan informasi/tulisan yang lembut, ramah, dan sedikit humor, akan memberikan kesan lebih manusiawi. Bisa juga kita tambahkan icon atau ilustrasi sederhana untuk membantu menyampaikan pesan-pesan tertentu misalnya untuk pesan error, sehingga mampu mengurangi kepanikan user.
  4. Menggunakan micro-interaction
    Micro-interaction mengapa perlu diperhatikan, padahal kan hanya sebuah interaksi kecil yang mungkin nggak semua orang sadar? Ternyata dengan menggunakan micro-interaction, kita bisa memberikan feedback relevant kepada user (point 1 diatas), memberikan “hints” kepada user, memberitahu user element mana saja yang aktif/bisa diklik, serta menarik perhatian user.
    Bahkan menurut Invision, micro-interactions mampu meningkatkan user engagement dengan biaya yang relatif rendah.

Sedikit refleksi saat ini

Beberapa ahli beranggapan bahwa UI dan UX adalah dua hal yang sangat berbeda, namun saling berkesinambungan dan berjalan beriringan. Begitu pula dengan profesi UI dan UX, beberapa expertice bahkan menyematkan UI/UX sebagai profesi mereka. Meskipun di suatu perusahaan besar, dua hal ini memiliki divisi masing-masing yang didalamnya dipecahkan lagi menjadi posisi-posisi yang lebih spesifik.

Teman-teman pasti pernah mendengar sebuah quote dari Steve Jobs berikut :

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”

Memang benar bahwa desain tidak hanya bagaimana suatu produk terlihat, namun juga seberapa enak/mudah produk tersebut digunakan.

Namun berlandaskan hal ini, terkadang orang hanya menitik beratkan effort pada sisi UX atau workflow saja untuk mengupayakan nilai usability suatu produk menjadi maksimal. Terkadang UI ataupun sisi visual dianggap tidak begitu penting karena yang terpenting adalah orang bisa menggunakan produk tersebut.

Bahkan tak sering kita dengar beberapa orang mengutarakan pendapat bahwa seakan-akan UI/visual yang menarik itu sia-sia.

“Percuma UI bagus, tapi gak bisa dipakai”

“Designer sekarang bisanya cuman bikin tampilan ‘wah’ doang, usabilitynya gak dipikirin.”

“Bikin UI gitu doang mah semua orang juga bisa”

“Ah kalau cuman belajar bikin UI yang bagus, bentar doang dah bisa”

dan masih banyak lagi, yang intinya sebuah UI yang bagus hampir pasti dibuat tanpa memikirkan usability, dan mudah dicapai atau dipelajari.

Opini di atas tidak mutlak salah, dan setiap orang memang bebas mengeluarkan pendapat. Namun opini-opini tersebut berpotensi membatasi kita untuk berkembang. Produk-produk buatan perusahaan raksasa di luar negri sana memiliki usability yg bagus sekaligus tampilan wah yang menopangnya. Jika kita terus berpikiran bahwa tampilan tidaklah penting, maka secara visual produk-produk yang ada sekarang hingga beberapa tahun ke depan akan begitu-begitu saja, dan tentunya akan ketinggalan trend. Padahal UI/visual menentukan impresi awal user.

Terlebih untuk teman-teman yang baru mulai tertarik ataupun sedang merintis karir di bidang UI design, opini-opini di atas bisa jadi sebuah batu sandungan yang bisa melunturkan semangat untuk belajar. Selain itu bisa saja orang tertarik pada bidang UI/UX karena mereka pada awalnya tertarik dari segi visual suatu produk, baru kemudian tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang bidang ini.

Tidak bolehkah UX yang bagus dikemas dalam sebuah UI yang ciamik?

Bagaimana dengan praktik di lapangan?

Di atas tadi saya sampaikan beberapa opini bahwa ketika kita terjun di dunia Desain, kita harus menggabungkan UI dan UX, dan seakan-akan rumus kombinasi ini tidak boleh dipisahkan sedikitpun. Namun bagaimana jika kita memang lebih passionate di sisi UI saja? Bisakah kita berkarir di bidang UI/UX meskipun kita hanya berfokus di visual saja, tanpa menguasai semua metode dan teori UX?

Pengalaman saya ketika bekerja di sebuah startup, posisi saya saat itu adalah sebagai UI designer. Ketika mengerjakan sebuah fitur baru, akan dibentuk sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang dari bagian UI dan beberapa dari UX. Jadi masing-masing punya rolenya sendiri. Walaupun nanti ketika project berjalan kami saling membantu satu sama lain, namun masing-masing memiliki tugasnya sendiri.

Sedangkan ketika saya beralih menjadi freelancer, intensitas penggunaan ilmu UX semakin berkurang, dan bahkan jarang sekali digunakan. Karena di beberapa project biasanya client sudah melakukan riset sendiri atau sudah matang workflownya, sehingga mereka hanya membutuhkan bantuan kita untuk mempercantik tampilan UInya saja. Meskipun terkadang client butuh bantuan kita di sisi usability juga, namun hanya sebatas menjadikan asumsi sebagai acuan/dasar dalam menentukan workflow & layout, tidak sampai mendetail ke User testing, dan olah data.

Jadi berdasarkan pengalaman pribadi saya, meskipun saya hanya passionate pada visual, dan hanya memiliki secuil pemahaman tentang UX, menurut saya tetap memungkinkan untuk terjun bekerja di bidang ini.

Jadi, tetap semangat untuk para penggiat UI!

Berikut saya comot sebuah twit dari salah seorang Product Designer yang cukup populer, Matteo Pasuto :

I think designers who are particularly good at visual, don’t actually get enough credits for it. A great visual design is just as magical as a good UX, and takes just as much practice to be achieved.

Ya, saat ini memang Desain Interaksi yang memiliki visual cantik, masih jarang mendapatkan pujian dan malah cenderung banyak mendapatkan kritik pedas seperti yang saya tulis tadi di atas. Padahal sama seperti UX, skill UI yang hebat tidak bisa dibentuk dalam sekejap, tapi perlu proses yang rumit, memakan waktu lama, serta usaha yang berat.

Setiap orang bebas berpendapat, dan kita harus pandai bersikap. Untuk teman-teman yang sedang merintis karir atau memang fokus sebagai UI Designer, tetaplah semangat dan optimis melakukan apa yang kalian senangi.

Poin utama yang saya sampaikan dalam artikel adalah meskipun sebuah product design tidak bisa terlepas dari UI/UX, namun tidak tertutup kemungkinan untuk kita fokus pada salah satunya saja, dan itu tidaklah salah. Sekarang sudah banyak bermunculan role-role baru di bidang ini seperti UX researcher, UX architect, dll. Jadi sah-sah saja apabila kita ingin fokus sebagai UI designer. Namun alangkah lebih baiknya apabila kita juga memahami hal-hal fundamental tentang bidang UI/UX ini.

Demikian yang dapat saya curahkan, semoga bermanfaat. Saya tutup dengan sebuah quote super dari Dizparada :

“Don’t rely on visual design alone to save a bad experience, but don’t ignore visual design! Visual Design is the User’s first impression of your product.”

--

--