PEMBUKAAN: Synchronize Fest 2018 (day 1)

Sumpah serapah adalah pembukaan yang paling cocok untuk bercerita tentang perhelatan synchronize fest 2018. Saat itu hari sudah mulai gelap, tapi aplikasi transportasi berwarna hijau itu justru sedang getol menonjolkan ke-error-an jaringannya. Tapi apa artinya hidup bila tak memiliki pilihan. Berharap pada aplikasi rival, saya pun akhirnya bisa meluncur ke Jiexpo. Sampai di pintu masuk keresahan kedua muncul, tiket masih berada di teman saya. Ia bilang tiket hanya bisa diberikan lewat pintu keluar. Lo tau gak si itu pintu masuk sama pintu keluar jauh banget anjeng gak taunya kalo dari luar venue. Tanpa banyak babibu langsung meluncur ke pintu keluar lantas kembali ke pintu masuk.

Papan informasi mengatakan koil bermain di dynamic stage. Saya segera bergegas. Pas! Koil baru saja akan memulai aksi mereka. apa yang kita percaya dipilih untuk membuka keriuhan. Seperti biasa, selama konser Otong si Toyota berceloteh sesuka hati. Sponsor utama yaitu bukakapak tak lupa menitip pesan kepada seluruh penampil untuk mengajak penonton turut berpatisipasi dalam membantu korban bencana di Palu. Otong kembali menunjukan sisi nyelenehnya. Hanya ia satu-satunya frontman yang membaca teks titipan pesan bukakapak itu dengan cara nyinden. Selain berceloteh, otong tak lupa (maksud saya setelah diingatkan penonton) untuk mempromosikan hairtonic miliknya. Saya pun tak lupa mengupload foto Otong di snapgram untuk dipamerkan kepada dosen pembimbing tercinta wkwk.

tempo hari dosbing saya pernah secara tiba tiba nge-wa “dam kamu punya tiket koil megaloblast gak? Saya udah di venue tapi gak dapet tiket nih”. Wkwk si bapak bukan nya nanya skripsi aku L. Padahal dari jauh hari udah diingetin kalo koil mau konser tunggal.

Nomor nomor favorit seperti semoga kau sembuh pt. 2, nyanyikan lagu perang, dosa ini tak akan berhenti, dan kenyataan dalam dunia fantasi tak lupa dibawakan koil di atas panggung. Sesekali otong terlihat meminum obat batuknya tanpa takaran. Banyolannya sama ngawurnya dengan cuitannya di twitter. Suatu contoh apik bahwa masih ada manusia yang bercitra sama di sosial media dan di kehidupan nyata (setidaknya di depan penonton koil). Koil selesai, waktunya melipir ke stage sebelah. Berjumpa dengan kawan sekaligus melepas rindu pada sore. Ini adalah kali pertama saya menonton sore lagi sejak sebelum mereka merilis los skut leboys. Tak menikmati pertunjukan mereka dari awal sebenarnya belum cukup untuk mengobati rindu. Banyak lagu lagu yang hanya bisa didamba tapi rupanya tak dibawa oleh sore. Ah tak apa, setidaknya masih kebagian musim hujan saat setengah lima walaupun tanpa Karolina. Selain menyapa manusia, Awan juga manyapa dan berinteraksi dengan alien yang berada dalam UFO yang dapat ditemui di venue synchronize fest. Sore menutup penampilan dengan lagu andalan sssst. Sangat disayangkan bila disesuaikan dengan song list yang telah dibuat. Seharusnya funk the hole-lah yang menjadi penutup.

Lalu kami memutuskan untuk menuju booth makanan. Sebenarnya ada beberapa pilihan menarik, tapi dari pada saya salah menu, saya memilih makanan apa yang sebelumnya teman saya makan. Setelahnya kami menuju district stage untuk berjumpa Danilla. Crowd sudah sangat ramai dan susah ditembus. Setelah 2 lagu kami memutuskan menononton barasuara saja sembari menunggu maliq (maliq n d’essentials). Beberapa kalangan (yang merasa) elitis kancah sering menjadikan barasuara sebagai candaan. Melalui beberapa akun media sosial dan obrolan di beberapa tongkrongan, barasuara berevolusi menjadi objek lawakan. Barasuara, payung teduh, danilla, stars and rabbit, and yeah you name it dinilai mewakili “anak baru” beraroma senja dan bermandikan kopi dalam kancah ini untuk menggambarkan jiwa dan diri mereka. Apa yang menjadi pride bagi “anak baru” ini rupanya mengganggu dan menggelitik para bangsa elitis berslogan “sebelom lo denger gue udah denger” tersebut. Ah tapi bodoamat. Saya sudah berada di tengah crowd. Tak ada alasan untuk mundur. Jangan jadi bajingan yang berpura pura tidak menikmati.

Di tengah tengah penampilan barasuara saya tersenyum. Peduli setan dengan pendapat para “elitis”. Mari ingat kembali sabda dari Cholil, “pasar bisa diciptakan”. Ini adalah ranah barasuara beserta penunggang badainya. Ini pasar mereka. ini kebahagiaan mereka. eksklusiftasmu tak berlaku di sini. Saat lagu “hagia” berkumandang, saya seperti mendapat sebuah ilham. Terlebih ketika lirik “seketika kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Liriknya beraura Dewi Athena. Bijak dan menyadarkan. Barasuara seperti sekumpulan dewa yunani yang turun ke bumi untuk menemui para pembencinya yang berada di tengah para penyembahnya. Walaupun mereka mampu menghabisi para pembenci tersebut, namun mereka dengan tenang dan bijak lebih memilih untuk mengampuni segala cacian yang telah diberikan kepada mereka. Iga melemparkan picknya di akhir pertunjukan. Dan penunggang badai masih sibuk menunggangi dan mengendalikan badai mereka. Tak sempat untuk mengambil pick dari Iga. Pick meluncur menerobos kerumunan dan mendarat tepat di sebelah sepatu saya. Pick itu saya injak. Mengalahkan beberapa tangan yang ingin merebutnya. Para pemilik tangan melihat ke atas. Segera saya balas tatapan mereka dengan senyum puas.

Pangung kembali gelap. Dibalik kesunyian dan riuh pelan omongan para penonton yang sedang menunggu maliq, terdengar suara dari stage sebelah (lake stage) “where the sky so blue, where the sunshine so bright…”. Riuh pelan berevolusi menjadi sunyi. Penonton maliq mencerna apa yang mereka dengar. Dalam sepersekian detik mereka yakin apa yang didengar barusan tidak salah dan semua orang di dynamic stage turut bernyanyi “welcome to my paradise, where you can be free, where the party never ending…”. Yang lucu adalah, orang orang ini menyanyi sambil malu malu gemay (begitu pula diriku hehe). Memasuki reff selanjutnya barulah kami bernyanyi dengan sedikit lepas.

Maliq membuka pertunjukan dengan sriwedari. 2013 adalah terakhir kali saya menonton maliq. Saat itu saya kecewa karena suara Angga saat live ternyata tak sebagus di album. Namun setelah lima tahun, pada synchronize fest 2018 ini saya menikmati suara Angga selama konser maliq berlangsung. Lagu lagu berikutnya saya lupa urutannya. Yang jelas menghilang ternyata tidak masuk dalam daftar songlist. Himalaya malam itu adalah sebuah mantra. Mungkin itu adalah tamparan Angga untuk saya karena telah mencacinya tahun 2013 lalu. Jujur saya merinding. Angga seperti sedang manggunakan haoshoku haki. Saya benar benar terpana dan turut bernyanyi bersama Angga dengan sepenuh hati.

Maliq selasai. Setelah mendayu dayu manja, waktunya berpesta pora. Eben dan kawan kawan telah menanti di lake stage. Penjara Batin dipilih untuk menyambut para begundal. Seperti biasa, dimanapun burgerkill berada, selalu ada begundal yang memamerkan tattoo skull guns di dada, punggung, atau lengan mereka. Jujur saya se666an, memilih objek untuk membuat tattoo bukanlah hal yang mudah. Terjun ke moshpit konser burgerkill di ibu kota sembari menggunakan jaket adalah salah satu hal terbodoh yang tak perlu dilakukan. Saya lupa, ini Jakarta, bukan Kota Kembang. Usai menonton burgerkill saya langsung mencari booth tempat air mineral dijual. Rupanya hari sudah terlalu malam, dan air mineral sudah kehilangan pamornya. Semua booth yang menjual air meniral sudah tutup. Pencarian pun berakhir pada booth bir prost. Bodoh memang. Beres moshing, haus, pegel, malah minum bir. Ya tapi gimana, gak ada pilihan lain anjeng.

Sembari menunggu kawan yang terjebak dala euforia naif di dynamic stage, saya memutuskan istirahat di sebuah pendopo dekat forest stage. Rupanya saya tidak sendirian di sana. Di sisi lain pendopo ada seorang laki laki yang berjuang mengajak kekasihnya untuk lekas sadar dan segera pulang. Berkali kali tangan sang kekasih ditarik ke atas, berkali kali pula tangan sang kekasih terjatuh ke kembali ke bawah. Tak tega melihat perjuangan sang lelaki, saya memutuskan untuk pindah ke belakang booth bukakapak.

Ingin rasanya menerobos ke tengah tengah crowd naif dan bernyanyi nyanyi ria. Namun mengingat kawan berada dekat barikade paling depan, dan saya sudah tidak ada tenaga, saya memutuskan untuk menikmati naif dari kejauhan sambil duduk. Entah lagu keberapa kawan saya memutuskan untuk pulang. Pas! Saya pun mengiyakan. Saat kami menuju pintu keluar, mobil balap didendangkan. Penutupan yang baik di hari pertama. Mobil balap sukses membuat saya pulang sambil berjoget ria.