Memberantas rentenir lewat pengajian?

Mulai setahun yang lalu, kami berikhtiar untuk memberantas rentenir di Yogyakarta sedikit demi sedikit semampu kami melalui sebuah program pemberdayaan berbasis pengajian bernama Kajianmu (Kajian Memberdayakan Umat). Singkatnya Kajianmu memberikan pinjaman kepada para jamaah tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian. Lebih dari 200 ribu orang di Yogyakarta menjadi korban rentenir setiap tahunnya, sebuah masalah yang pelik. Kajianmu ingin memberdayakan korban-korban tersebut melalui pengajian kami sehingga tidak ada lagi yang meminjam ke rentenir. Pada akhirnya rentenir akan musnah dengan sendirinya. Value offering dari rentenir tidak lagi relevan sehingga demand akan hilang.

Banyak yang menanyakan, mengapa formatnya pengajian?

Jawabannya sederhana yakni kami ingin semaksimal mungkin merujuk kepada Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah SAW. Kami ingin menjalankan sebuah inovasi yang dituntun oleh wahyu. Insya Allah karena tidak sekedar mengandalkan pengetahuan atau ego manusia tetapi mengandalkan petunjuk Allah, solusi yang dihadirkan bisa efektif. Ayat yang kami rujuk sebagai landasan teologis dari pendekatan Kajianmu adalah Surat At-Talaq 2–3.

Rangkaian ayat tersebut mengandung intisari resep obat segala jenis permasalahan manusia. Apapun masalah itu, baik masalah pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, karir, bisnis, maupun aneka rupa persoalan lain ternyata kunci jalan keluarnya termaktub dengan sangat jelas dalam ayat tersebut tanpa perlu penafsiran-penafsiran derivatif yang rumit.

Memang perlu keimanan yang benar-benar menghunjam di hati agar rahasia kunci penyelesaian atas semua jenis masalah ini bisa menjadi petunjuk, sumber inspirasi, dan akhirnya efektif memberikan jalan keluar. Karena bila terbesit keraguan, walaupun itu sedikit, seperti analogi orang mengidap sakit yang minum obat dari dokter yang ia sendiri ragu, sering akhirnya tidak manjur (placebo effect). Padahal bagi pasien-pasien lain yang yakin resep dokter tersebut jitu. Jadi masalahnya ada di kepercayaan. Ayat ini harus diimani dengan sungguh-sungguh agar janji Allah bekerja (QS Al-Hujurat: 15)

Ternyata resep obat yang paling mujarab dari setiap masalah adalah dengan senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Allah berjanji bagi siapa saja yang senantiasa berusaha meningkatkan ketaqwaannya, Allah berikan kepadanya jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang ia hadapi. Tidak itu saja, Allah juga berjanji bagi orang yang demikian, baginya rizki (dengan definisi yang luas) dari arah yang tiada dia sangka yang akan membantunya memiliki ketenangan hidup. Dan barang siapa setelah melakukan ikhtiar yang maksimal lalu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah (tawakkal), maka Allah bakal mencukupi segala keperluannya.

Taqwa menjadi konsep sentral dalam pembentukan perilaku umat Islam karena itulah yang menjadi satu-satunya pembeda di sisi Allah diantara makhluk-Nya (QS Al-Hujurat: 15). Ia sering diucapkan tapi sering kurang dimengerti maksudnya. Bahkan juga mudah dilupakan esensinya. Mungkin karena itulah sejak zaman Rasululah SAW 1.400 tahun yang lalu dalam setiap khutbah jumat, di masjid manapun di dunia ini, pasti diselipkan pesan taqwa. Dan kalau tidak ada pesan taqwa yang disampaikan, otomatis khutbah menjadi tidak sah karena mewasiatkan taqwa menjadi salah satu rukun. Dengan ini harapannya umat Islam semakin paham tentang taqwa dan senantiasa teringat untuk merawat-meningkatkannya. Taqwa merupakan sebuah terma yang tidak akan habis dikupas. Tetapi pada intinya taqwa adalah menjaga diri agar selalu dalam frekuensi gelombang cinta Allah yang itu ditempuh melalui menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya semaksimal mungkin.

Konsep tawakkal memberikan ketentraman. Bahwa setelah laku meningkatkan ketaqwaan ditempuh secara terus menerus dan ikhtiar maksimal sudah dilakukan, maka tidak perlu terlalu pusing dengan hasil akhir yang akhirnya nanti akan didapat. Serahkan kepada Allah yang di tangan-Nya seluruh urusan kembali berpulang. Apapun hasil akhirnya, pasti itu yang terbaik menurut Allah untuk kita yang mungkin tidak begitu langsung kita sadari.

Rangkaian ayat di atas kami jadikan petunjuk untuk meramu solusi dari permasalahan rentenir di Yogyakarta. Bahwa untuk membantu para korban rentenir, mereka perlu disentuh aspek ruhaninya sehingga melakukan upaya sadar untuk senatiasa meningkatkan ketaqwaan. Pengajian kami pilih sebagai media saling mengingatkan tentang kebesaran Allah, menyampaikan berbagai hikmah dari berbagai perintah maupun larangan-Nya, dan menguatkan tekad untuk senantiasa beramal soleh. Pengajian rutin yang kami selanggarakan setiap seminggu sekali dengan prinsip dakwah yang menggembirakan dan inklusif, menjadi upaya kami untuk secara terstruktur membina ketaqwaan para jamaah dan tentunya kami dari para pengurus dan relawan sendiri.

Kami memang bukanlah ustadz yang sudah ‘alim dan mengakar ilmu keagamaannya sehingga dalam setiap pengajian kami memposisikan diri sebagai murid yang sama-sama sedang belajar. Apabila ada pertanyaan dari jamaah tentang suatu topik yang tidak bisa kami jawab, kami simpan untuk dikonsultasikan kepada orang yang lebih ahli atau jamaah kami sarankan untuk bertanya langsung ke tokoh agama setempat. Namun kami tetap percaya diri untuk menyelenggarakan pengajian-pengajian karena dakwah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah (QS. Ali Imron: 110, QS. Fushshilat: 33, QS. Luqman: 17). Dakwah bukan sebuah kewajiban yang eksklusif disematkan kepada suatu kelompok elit. Insya Allah apabila setiap muslim dan muslimah melangsungkan dakwah menyesuaikan dengan potensi kreatifnya yang berangkat dari pengalaman dan ketrampilan uniknya, dakwah akan semakin berwarna dan berhasil.

Melalui pengajian-pengajian yang kami selenggarakan alhamdulillah para jamaah semakin mantab dalam ikhtiar meraih derajat ketaqwaan. Ada yang awalnya sholatnya masih sering bolong, sekarang lebih giat. Yang awalnya belum bisa mengaji, sekarang sudah lumayan. Ada yang sebelumnya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ngaji, sekarang jadi minimal seminggu sekali ngaji. Ada yang sebelumnya ketika nunggu dagangan mengisi waktu dengan menggosip orang lain (ghibah), sekarang sudah berganti dengan memperbanyak istighfar, memohon ampunan Allah. Beberapa jamaah memberikan testimoni bahwa Sabtu adalah hari yang selalu mereka tungu-tunggu, mereka tak sabar ingin menyampaikan uneg-uneg sekaligus mendengar sedikit kultum dari para relawan kami.

Sebagai ikhtiar tambahan demi mensukseskan pemberdayaan, Kajianmu menyediakan fasilitas pinjaman untuk jamaah. Sehingga setelah hatinya terbina dan bertekad untuk keluar dari jeratan rentenir atau memajukan usahanya, mereka tidak perlu cari-cari ke pihak lain karena sudah difasilitasi oleh Kajianmu. Sekarang para jamaah sudah tak tergiur lagi dengan tawaran menjilat dari rentenir. Melalui Kajianmu mereka bisa dapat pinjaman yang sama tanpa bunga, tanpa jaminan, dan dapat diangsur sesuai kemampuan. Syaratnya cukup rajin hadir di pengajian, sama-sama belajar membina hati agar semakin dekat dengan Sang Ilahi.

Pinjaman yang didapat dari Kajianmu dipakai untuk tambahan modal usaha atau membuka usaha baru. Ada yang dipakai untuk melengkapi perlengkapan laundry, membeli oven untuk buat kue, membeli ayam untuk diternakkan, kulakan aksesoris hape untuk dijual, buka usaha es kelapa muda, usaha kantin sekolah, dsb. Bagi yang terkena rentenir, pinjaman dari Kajianmu bisa dipakai untuk melunasi hutang. Misal ada yang memakai pinjaman kami untuk melunasi motornya yang sebelumnya disita sehingga sekarang dia bisa keliling berjualan. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur melihat perkembangan ini. Hidup semakin tenang dan damai karena seluruh nafas kehidupannya dipusatkan kepada Sang Ilahi.

Tentu semuanya tidak berjalan mulus. Banyak orang yang mengira kami ini menyelenggarakan pengajian sesat, para jamaah dicuci otaknya agar jadi radikal atau direkrut untuk sebuah misi menyimpang. Mereka tidak percaya dengan iming-iming yang too good to be true berupa pinjaman tanpa bunga dan tanpa jaminan yang selama ini tidak pernah ada di dalam bayangan mereka. Sampai ada suatu ketika di mana salah satu jamaah kami disuruh pulang paksa oleh anaknya karena takut terjadi apa-apa. Alhamdulillah, kami bersyukur atas ujian ini karena kami anggap sebagai karunia dari Allah untuk memperkokoh keistiqomahan kami. KHA Dahlan dulu sering dikafir-kafirkan ketika membuat sebuah terobosan keagamaan yang melampaui zaman dan tradisi. Langgar (mushola) nya juga pernah dibakar. Kami belajar dari keteguhan hati KHA Dahlan.

Banyak juga yang nyinyir kepada para jamaah mengatakan mereka ikut pengajian karena pingin dapat hutangan. Beberapa jamaah kami panas juga pada awalnya telinganya karena stigma itu. Kami sampaikan bahwa Rasulullah SAW dulu pernah juga hutang sehingga itu bukan aib yang perlu membuat malu. Akhirnya mereka pun bisa berseloroh, “Memang nggak munafik, kita butuh hutangan. Daripada hutang ke rentenir, lebih baik hutang ke Kajianmu.”

Banyak masalah lain di luar dua hal di atas yang tidak bisa satu per satu kami rinci di sini. Walaupun demikian, kami tetap yakin bahwa pendekatan kami insya Allah benar karena terinspirasi dari rangkaian ayat di Surat At-Talaq yang telah dibahas di muka. Sehingga walaupun secara operasional masih banyak masalah, setidaknya directionally correct terlebih dahulu. Semakin efektif Kajianmu dalam membina ketaqwaan jamaah dan pengurusnya, semakin besar kemaslahatan yang akan tercipta, itu rumus yang kami yakini.

Bagaimana hasil akhir dari program pemberdayaan Kajianmu nanti kami serahkan sepenuhnya kepada Allah. Apabila diizinkan, kami ingin agar lebih banyak orang yang mendapat manfaat Kajianmu dan semakin banyak orang yang tergerak hatinya untuk ikut terlibat mensukseskan dakwah Kajianmu.

FYI: Kajianmu membuka kesempatan amal jariyah melalui https://kitabisa.com/kajianmu/. Target 2018, kami bisa memberdayakan 1.000 jamaah sehingga membutuhkan dana minimal Rp 1 Milyar. Apabila Anda tertarik untuk berkontribusi lain dengan menjadi relawan, silahkan daftar di http://dukung.kajianmu.id/