Yogyakarta bebas rentenir

Sejak awal tahun 2016, tren kecenderungan rasio gini di Yogyakarta semakin memburuk. Menurut data BPS tahun 2017, rasio gini di DIY adalah yang paling parah di Indonesia. Pada semester II 2017 rasio gini mencapai angka yang mengkhawatirkan di angka 0,44. padahal rata-rata nasional hanya di angka 0.36. DKI Jakarta yang apabila kita lihat di televisi sepertinya memiliki ketimpangan yang parah, ternyata rasio gininya masih lebih mending dibandingkan DIY yaitu di angka 0,41. Indeks gini biasa dipakai untuk mengukur tingkat ketimpangan ekonomi di suatu wilayah, direpresentasikan dengan nilai 0 sampai 1. Semakin besar nilainya, semakin besar ketimpangan ekonomi. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesenjangan antara si kaya dan si miskin di Yogyakarta, apabila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain adalah yang paling buruk di Indonesia.

Ketimpangan ekonomi apabila dibiarkan akan mengancam kehidupan yang nyaman dan damai. Kesenjangan yang tinggi antara si kaya dan miskin menyediakan pra-kondisi yang kondusif untuk terciptanya berbagai macam konflik horizontal. Bagi penduduk DIY, sebenarnya situasi tidak nyaman sudah mulai banyak digunjingkan. Misalnya di berbagai titik sudah mulai marak bangunan-bangunan apartemen megah nan mewah. Juga kluster-kluster perumahan eksklusif yang harganya tidak masuk akal. Rasa-rasanya tidak mungkin bisa dibeli oleh sebagian besar masyarakat DIY. Tidak sampai satu kilometer dari lokasi itu, banyak rumah yang lusuh dan tidak layak huni. Jalan-jalan juga mulai banyak macet, disesaki mobil-mobil segala rupa, termasuk mobil mewah berharga milyaran. Ada kawan saya penggemar dunia otomotif pernah berseloroh, “Beberapa kali saya lihat mobil mewah type baru di Yogyakarta yang di Jakarta saja sepertinya belum ada yang punya.” Ketimpangan ekonomi ini perlu dipecahkan segera agar tidak berlarut-larut. Karena boleh jadi apabila dibiarkan akan banyak muncul masalah-masalah sosial baru yang lebih parah.

Sebagai salah satu warga DIY, yang lahir, tumbuh, belajar, dan berkarya di sini tentu sangat prihatin dengan kondisi ini. Namun keprihatinan yang hanya berakhir kepada kesedihan berlarut-laruh tidak akan menghasilkan dampak perubahan. Oleh karena itu sekitar setahun yang lalu bersama dengan beberapa kawan, kami mulai sedikit demi sedikit mendalami akar permasalan ketimpangan ini. Kami lakukan semampunya, tidak melalui riset yang rigorous dan metodologis. Kami mencoba mengulik permasalahan ini dengan mengakrabi warga sekitar tempat tinggal dengan sekedar bercakap-cakap dan lebih banyak mendengarkan.

Sebagian besar yang kami akrabi adalah para penggerak ekonomi informal kelas bawah, diantaranya para pemilik warung kecil, warteg, penjual sate keliling, penjual jamu, penjaja jajanan pasar dsb. Sengaja kami lebih banyak ngangsu kawruh kepada orang-orang ini karena mereka punya jiwa kemandirian. Punya mental wirausaha, menjadi tulang punggung ekonomi keluarga tanpa banyak bergantung kepada orang lain apalagi mengandalkan pemerintah. Di DIY jumlah orang seperti ini sangat banyak sehingga membantu DIY menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka termasuk paling rendah di Indonesia di angka 3% versus 5,5% nasional (2017).

Diantara orang-orang yang kami temui banyak yang sudah menekuni usaha mikronya itu puluhan tahun, sejak bujang sampai sekarang sudah punya anak-cucu. Namun usaha mereka seakan belum naik tingkat, begitu-begitu saja sejak dulu. Pendapatan hanya cukup untuk subsistence, mempertahankan hidup bersama keluarganya ala kadarnya.

Satu pola yang cukup menarik dari percakapan-percakapan tersebut adalah bahwa sebagian besar diantara mereka pernah atau bahkan masih berurusan dengan rentenir alias bank plecit, bank keliling, atau lintah darat. Mereka berurusan kepada rentenir untuk meminjam uang. Biasanya para rentenir sangat agresif menjajakan pinjaman kepada para wirausaha mikro ini. Sebenarnya mereka tidak butuh-butuh amat, tetapi karena rayuan para rentenir akhirnya mengambil pinjaman juga. Ada kalanya memang muncul keinginan pinjam karena kebutuhan keluarga mendadak misal karena ada anggota keluarga yang sakit atau bayar sekolah anak. Uang hasil dagang sebelumnya habis terpakai untuk itu sehingga butuh modal untuk menggerakkan usaha lagi. Syarat pinjam rentenir sangat mudah dan cepat cair, mereka memilih ini karena tidak ingin yang ribet-ribet.

Rentenir menetapkan bunga yang sangat tinggi dan bunga hutangnya dapat beranak-pinak. Ada suatu kasus yang saya temui di mana awalnya pinjam Rp 2 juta, jatuh tempo satu minggu dengan bunga 10% (harus kembalikan Rp 2,2 juta). Karena belum bisa bayar, ia dapat menunda pembayaran satu minggu lagi dengan syarat membayar denda Rp 200 ribu. Seminggu lagi jatuh temponya dengan bunga 20%, sehingga harus membayar Rp 2,42 juta (Rp 2,2 juta x 120%). Karena tidak punya uang sebanyak itu, maka ia pinjam ke dua rentenir lain untuk lunasi hutang ke rentenir pertama. Rentenir yang baru menetapkan bunga yang kurang lebih sama. Singkat cerita, dalam kurun 2–3 bulan, hutang yang awalnya Rp 2 juta terakumulasi menjadi lebih dari Rp 15 juta dari hutangan lebih dari 12 rentenir. Orang tersebut kalau malam tidak bisa tidur, pikiran selalu terganggu, tidak tenang, mudah tersulut emosi. Di rumah kadang-kadang jadi ribut.

Kasus seperti ini marak terjadi di akar rumput. Alih-alih mendorong kesejahteraan, rentenir membuat para peminjamnya terjebak ke dalam lingkaran setan. Kenapa disebut lingkaran setan? Karena kalau sudah masuk, akan sangat sulit keluar. Keuntungan dagang yang tidak seberapa tidak bisa dinikmati karena dipakai untuk membayar hutang yang sangat mencekik. Ada sebuah dusun di Bantul yang hampir seluruh penduduknya terjerat rentenir. Hingga ada enam rumah warga yang harus diserahkan kepada rentenir karena pemiliknya memiliki hutang yang telah beranak-pinak sampai menggunung dan hanya bisa ditebus dengan menyerahkan satu-satunya asset yang dimiliki yaitu rumah.

Kami mencari-cari literatur tentang data orang yang terdampak rentenir di DIY namun tidak menemuinya. Dengan model yang sederhana, kami mengestimasikan setidaknya di DIY ini yang terjerat dengan kasus rentenir, dari level ringan sampai parah, sekitar 100–200 ribu jiwa. Bunga mencekik yang dihisap oleh para rentenir dari para warga ini lebih dari Rp 100 Milyar per tahun. Itu hanya bunganya saja, di luar pokok hutang. Itu adalah uang yang seharusnya bisa membantu keluaga akar rumput untuk memenuhi kebutuhan makanan yang lebih bergizi untuk keluarga, memberi pendidikan yang lebih tinggi, atau membiayai biaya kesehatan tetapi dirampas oleh para rentenir.

Kami melihat kehadiran rentenir ini sebagai salah satu faktor penting mengapa ekonomi di akar rumput kurang bisa bergeliat yang menjadi salah satu sumber ketimpangan ekonomi di DIY. Sehingga dengan niat mencari ridha Allah, bismillah kami ingin mengambil peran untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan mewujudkan Yogyakarta bebas rentenir.

Memang telah banyak bermunculan berbagai lembaga keuangan mikro baik yang syariah maupun konvensional bertebaran di DIY. Tetapi mindset kebanyakan institusi-institusi tersebut masih sebagai profit-seeking entity. Memang mereka memungut bunga yang lebih rendah dari rentenir tetapi sebenarnya juga masih membebani nasabah kecil. Mereka juga tidak peduli apakah usahanya maju atau merugi. Mereka fokusnya adalah memperbanyak nasabah bukan membina nasabah sehingga lebih berdaya dan maju. Insititusi ini punya beban administrasi dan regulasi sehingga mengurangi keluwesan dan kegesitan mereka.

Ada juga program sosial lain dari beberapa komunitas untuk memberikan sedekah kepada orang-orang yang terkena rentenir. Ini program yang bagus tetapi cara kerjanya kurang sistematis dan berkelanjutan sehingga dampak kurang meluas dan mendalam.

Perlu ada sebuah inovasi program yang lebih terstruktur dan sistematis yang luwes dalam kerjanya untuk mewujudkan Yogyakarta bebas rentenir. Oleh karena itu kami merintis sebuah program bernama Kajian Memberdayakan Umat (Kajianmu) — sebuah program pemberdayaan berbasis pengajian. Kajianmu memberikan pinjaman kepada para para jamaah tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian.

Kami memutuskan untuk menggarap segmen ibu-ibu terlebih dahulu. Berdasar riset dan pengalaman Grameen Bank di Bangladesh, ibu-ibu adalah segmen yang lebih bisa diandalkan. Mereka dapat memanfaatkan pinjaman kecil yang lebih efektif serta memiliki tingkat pelunasan hutang yang lebih baik daripada pria. Kajianmu belum memiliki sumber daya untuk melakukan riset sendiri, sehingga kami ingin duplikasi dari pelajaran Grameen Bank dulu yakni dengan fokus memberdayakan ibu-ibu.

Pilot program kami mulai sejak 22 Juli 2017 di rumah saya di Sedayu, Bantul. Alhamdulillah hampir satu tahun pilot program ini berjalan, kami saat ini membina tiga majelis dengan sekitar 50 jamaah dengan total pinjaman yang telah kami gulirkan Rp 15–20 juta. Sedikit demi sedikit, para jamaah sudah bisa meninggalkan rentenir karena ada jaring pengaman baru berupa Kajianmu. Ada banyak pelajaran berharga yang kami terima selama pilot project ini.

Ketika kami ceritakan Kajianmu ini kepada rekan-rekan yang lain atau ada orang tidak sengaja mengetahui program ini, mereka sangat antusias untuk menduplikasi program ini di kampung-kampung atau masjid-masjid mereka. Aspirasi ini sangat menggembirakan tetapi harus kita kelola agar Kajianmu tidak menjadi program yang asal gebyar, cepat menjamur namun cepat surut sehingga mohon maaf apabila kurang bisa tanggap merespon permohonan duplikasi program Kajianmu. Perlahan-lahan kami perbaiki sistem Kajianmu dan perkuat kapasitas pengurus dan relawan. Perlu kesabaran dan ketlatenan agar dakwah pemberdayaan Kajianmu bisa menghasilkan dampak yang meluas.

Kami bermimpi dengan kehadiran Kajianmu, Yogyakarta akan terbebas dari rentenir. Insya Allah dengan dukungan dan do’a panjenengan sekalian serta pertolongan Allah swt, itu akan terjadi tidak lama lagi. Bismillah.

FYI: Kajianmu membuka kesempatan amal jariyah melalui https://kitabisa.com/kajianmu/. Target 2018, kami bisa memberdayakan 1.000 jamaah sehingga membutuhkan dana minimal Rp 1 Milyar. Apabila Anda tertarik untuk berkontribusi lain dengan menjadi relawan, silahkan daftar di http://dukung.kajianmu.id/